Breaking News:

Berita Demak

Peningkatan Kompetensi Angkatan ke-4, Guru PAI Demak Dituntut Kuasai Konsep 4C

Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) diharuskan memahami konsep 4C di era industri 4.0. Konsep 4C yang dimaksud yaitu critical thingking, creatif.

Istimewa
Kasi PAI Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Demak, Azhar Wibowo, saat membuka workshop peningkatan kompetensi Guru PAI angkatan ke-4 dengan tema Lesson Plan (Lengkap) di Aula SMP Negeri 3 Demak, kemarin. (*ist 

Penulis: Zaenal Arifin

TRIBUNJATENG.COM, DEMAK - Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) diharuskan memahami konsep 4C di era industri 4.0. Konsep 4C yang dimaksud yaitu critical thingking, creatif dan innovatif, communication, collaboration.

Hal itu disampaikan Kasi PAI Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Demak, Azhar Wibowo, dalam workshop peningkatan kompetensi Guru PAI angkatan ke-4 dengan tema Lesson Plan (Lengkap) di Aula SMP Negeri 3 Demak.

"Guru PAI Kabupaten Demak harus memahami konsep 4C di era industri 4.0. Melatih peserta didik untuk berpikir kritis, kreatif dan inovatif, komunikatif serta kolaboratif sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran di era milenial ini," katanya, dalam keterangannya, Senin (12/4/2021).

Oleh karenanya, katanya, guru PAI jangan sampai ketinggalan dengan peserta didiknya. Meskipun guru lahir di era kolonial sementara muridnya lahir di era milenial.

"Kami berharap agar guru PAI dapat melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai guru. Apalagi sebagai guru pembentuk karakter peserta didik," harapnya.

Kegiatan tersebut juga hadir Pengawas PAI Kabupaten Demak, Endah Sulistyowati, dan Pembina MGMP PAI SMP Kabupaten Demak, Mushonef.

Pembina MGMP PAI SMP Kabupaten Demak, Mushonef memberikan wacana mengenai pendidikan berdiferensiasi. Menurutnya, pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap peserta didik.

"Namun demikian, pembelajaran berdiferensiasi bukan berarti guru harus mengajar dengan 32 cara yang berbeda untuk mengajar 32 orang murid," terang Mushonef.

Ia menerangkan, pembelajaran berdiferensiasi bukan sebuah proses pembelajaran yang semrawut (chaotic) yang gurunya kemudian harus membuat beberapa perencanaan pembelajaran sekaligus, di mana guru harus berlari ke sana kemari.

Halaman
12
Penulis: m zaenal arifin
Editor: rival al manaf
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved