Jumat, 17 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Jateng

Bisakah Kawasan Jasela Jateng Selatan Dikembangkan Jadi KEK Pariwisata?

Membangun konektivitas antar simpul ekonomi di Jawa Tengah sangat penting. Mengingingat ketimpangan pembangunan daerah antara Jateng bagian utara.

Istimewa
sejumlah narasumber dalam webinar pengembangkan Jasela menjadi KEK Pariwisata 

TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG -Membangun konektivitas antar simpul ekonomi di Jawa Tengah sangat penting. Mengingingat ketimpangan pembangunan daerah antara Jateng bagian utara (pantura) dan bagian selatan (pansela) atau sering disebut Jateng bagian selatan (Jasela).

Paradigma ini bukan dalam rangka eksklusifitas kawasan. Tapi lebih pada memaksimalkan potensi yang ada dan bisa disinergikan.

Daerah-daerah di Jasela dinilai memiliki potensi ekonomi terutama pengembangan kawasan wisata. Ke depan diharapkan konektivitas bisa dibangun sehingga warga di Jasela bisa meningkat kesejahteraannya.

Wakil Ketua Komite I Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Abdul Kholik menyebut daerah di Jasela yang meliputi Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen) ditambah Purworejo dan Wonosobo kurang lebih memiliki topografi hampir sama jika dikembangkan untuk pariwisata.

Namun, daerah-daerah di Jasela ini tidak mendapatkan perhatian lebih. Pemerintah provinsi Jateng belum bisa maksimal mengembangkan daerah ini.

"Pada saat Musrenbang pembahasan RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) Perubahan dan RKPD (Rencana Kerja Pemerintah Daerah), tampaknya kawasan ini bukan prioritas untuk dikembangkan," kata Kholik dalam webinar pengembangan wisata Jasela yang diadakan Bank Indonesia, Jumat (16/4/2021).

Kawasan ini, lanjutnya, merupakan kantong kemiskinan di Jateng. Jika tidak segera digarap, nantinya ketimpangan antara daerah di Jasela dan Pantura semakin tinggi.

Secara umun, tingkat kemiskinan Jawa Tengah dalam kurun waktu 2016-2019 menurun dari 13,19 persen menjadi 10,58 persen (atau dari 4.493,75 ribu orang menjadi 3.679,40 ribu orang).

Namun, pada periode September 2020 tingkat kemiskinan meningkat
menjadi 11,84 persen naik 1,26 persen dibandingkan September 2019 (bertambah 440,53 ribu orang, dari 3.679,40 ribu orang menjadi 4.119,93 ribu orang).

Kenaikan angka kemiskinan tersebut dikarenakan dampak pandemi Covid-19 yang menyebabkan peningkatan jumlah penduduk miskin.

Persebaran penduduk miskin di kabupaten/kota di Jawa Tengah terbagi
dalam tiga kelompok, yaitu kabupaten/kota dengan persentase penduduk
miskin di atas provinsi dan nasional, kabupaten/kota di bawah provinsi dan
di atas nasional, serta kabupaten/kota di bawah provinsi dan nasional.

Dan semua daerah di Jasela termasuk dalam kategori kabupaten/kota dengan persentase penduduk miskin di atas provinsi dan nasional.

"Kemiskinan tinggi ada di wilayah ini (Jasela). Secara bergantian daerah paling miskin antara Kebumen dan Wonosobo. Harus ada integrasi desain pelaksanaan. Dan perlu ada akselarasi dan sinergitas untuk daerah ini ke depan," kata Senator asal Cilacap Jateng ini.

Dalam perencanaan pembangunan, lanjutnya, setiap kabupaten masih bergerak secara parsial tanpa ada ikatan kuat untuk terintegrasi dan kolaborasi.

Pada level provinsi dan nasional belum masuk pada rencana strategis nasional. Di Jateng, proyek prioritas nasional antara lain Kawasan Industri Kendal, Batang, dan Brebes yang semuanya ada di pantura.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved