Breaking News:

BERITA NASIONAL

KPCPEN Fokus Perangi Hoaks Covid-19 di Grup Whatsapp

Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) mengarahkan kampanye memerangi hoaks

ISTIMEWA
Staf Bidang Komunikasi Sosial Poitik dan Masyarakat (Komsospolmas) Tim Komunikasi Publik KPCPEN Savero “Ero” Karamiveta Dwipayana menyampaikan materi pada Workshop “Strategi Melawan Hoaks di Dunia Digital” di Ballroom Hotel Melia Purosani, Yogyakarta, Jumat (16/4/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, YOGYAKARTA – Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) mengarahkan kampanye memerangi hoaks atau informasi palsu tentang pandemi virus korona varian baru itu di aplikasi percakapan WhatsApp (WA).

Baca juga: Ramalan Zodiak Cinta Besok Minggu 18 April 2021, Leo Dengarkan Keinginanmu

Baca juga: Pelatih Bernhard Schumm dan Subangkit Gabung PSG Pati

Baca juga: Daftar HP Harga di Bawah Rp 6 Juta Bulan April 2021, Dari Xiaomi hingga Samsung Galaxy

Baca juga: Video Viral Maling Kambing di Bekasi Naik Motor Sport Terekam CCTV

Staf Bidang Komunikasi Sosial Poitik dan Masyarakat (Komsospolmas) Tim Komunikasi Publik KPCPEN Savero “Ero” Karamiveta Dwipayana menyampaikan hal itu saat tampil sebagai salah seorang narasumber pada Workshop “Strategi Melawan Hoaks di Dunia Digital” yang digelar di Ballroom Hotel Melia Purosani, Yogyakarta, Jumat (16/4/2021).

Kegiatan yang juga disiarkan secara virtual tersebut menjadi bagian dari Grand Launching Empat Modul dan Kurikulum Literasi Digital yang diluncurkan Kementerian Komunikasi dan Informatika. Kota Gudeg menjadi salah satu dari lima kota yang ditunjuk Kementerian Kominfo untuk menjadi kota peluncuran program tersebut, selain Surabaya, Tangerang Selatan, Aceh, dan Lampung.  Di Kota Surabaya, grand launching dilakukan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Ero menjelaskan langkah tersebut ditempuh lantaran penyebaran hoaks kini lebih banyak terjadi pada aplikasi WA, termasuk isu yang terkait dengan pandemi Covid-19. Dia menegaskan KPCPEN secara paralel juga terus menggencarkan sosialisasi melalui website atau media sosial resminya.

Dalam paparannya, Ero yang sejak awal pandemi Covid-19 sudah bergabung dengan Satgas Nasional Penanganan Covid-19 pimpinan Letjen TNI Doni Monardo menegaskan dampak masifnya penyebaran hoaks terkait Covid-19 telah menjalar ke berbagai aspek, tidak hanya dari sisi kesehatan.

“Akibat buruknya juga telah memengaruhi sektor ekonomi, pendidikan, dan lain-lain. Jika dibiarkan tentu hal ini sangat berbahaya dan menjadi kewajiban kita semua untuk mengantisipasi hal ini,” kata putra bungsu pakar Komunikasi dan motivator nasional Dr Aqua Dwipayana itu.

Merujuk hasil kajian KPCPEN, mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Fikom Unpad) itu menjelaskan penyebaran informasi yang tidak jelas kebenarannya kini lebih menyasar aplikasi percakapan yang langsung menghubungkan antarindividu secara bersamaan, khususnya grup WA.

“Untuk itu, kami kini mengarahkan penyebaran informasi dan berbagai penjelasan autentik tentang Covid-19 dan berbagai konten terkait pada grup Whatsapp ini. Dengan demikian mudah-mudahan hal ini bisa mengantisipasi penyebaran hoaks yang saat ini sudah begitu mewabah. Para kepala desa, kepala dinas kesehatan di daerah, serta para tokoh masyarakat lainnya diharapkan menjadi agen penyampaian pesan-pesan positif dan autentik ini,” ujar Ero.

Pemaparan Ero itu selaras dengan hasil studi terbaru dari Tallin University Estonia yang menyebut aplikasi percakapan WA lebih berbahaya dalam menyebarkan hoaks tentang Covid-19. Meski demikian platform media sosial lain juga punya peran besar terkait penyebaran hoaks itu. Hasil studi yang mengambil tempat di Jerman dan Israel itu menunjukkan hoaks yang menyebar di grup WA kini lebih berbahaya ketimbang aplikasi lainnya.

Identitas penyebar hoaks di Whatsapp lebih jelas ketimbang yang disebarkan melalui platform media jejaring sosial lainnya. Penyebaran hoaks terjadi dalam format pesan berantai yang diterima dan disebarkan begitu saja oleh masyarakat. Pesan berantai itu bersumber dari media jejaring sosial lain, seperti Facebook, Twitter atau Instagram.

Halaman
12
Penulis: erwin adrian
Editor: erwin adrian
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved