Breaking News:

Berita Semarang

Mengenal Karya-karya KH Sholeh Darat Melalui Pengajian Kopisoda

KH Sholeh Darat dikenal sebagai sosok ulama besar di Kota Semarang, bahkan di Indonesia.

Istimewa
Pengasuh pondok pesantren Nurul Hidayah Semarang, KH Muhammad In’amuzzahidin, menyampaikan kajian kitab karya KH Sholeh dalam pengajian Kopisoda, beberapa waktu lalu. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - KH Sholeh Darat dikenal sebagai sosok ulama besar di Kota Semarang, bahkan di Indonesia. Kitab karya-karyanya pun hingga kini masih dipakai berbagai pondok pesantren dalam melakukan kajian keislaman.

Tak hanya di pondok pesantren saja, kajian kitab-kitab karya mbah Sholeh Darat juga rutin dilakukan oleh komunitas pecinta mbah Sholeh Darat atau Kopisoda.

Sejak dibentuk pada Februari 2016 lalu, Kopisoda yang dipimpin pengasuh pondok pesantren Nurul Hidayah Semarang, KH Muhammad In’amuzzahidin itu hingga kini rutin menggelar pengajian keliling setiap Minggu ketiga di masjid-masjid dan kampus.

Gus In'am, sapaan KH In’amuzzahidin, mengatakan KH Sholeh Darat bisa dikatakan sebagai maha guru ulama nusantara karena muridnya banyak yang jadi kiai atau pemuka agama di Indonesia ini. Di antaranya KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah dan KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU.

"Sebagai ulama, saat itu dalam kondisi yang serba terbatas karena belum merdeka, namun karya-karyanya luar biasa banyak meliputi ilmu fikih, tafsir, tasawuf, tauhid, ilmu kalam, ulumul qur’an dan lainnya," katanya, Selasa (20/4/2021).

Gus In'am menuturkan, KH Sholeh Darat selalu merendah seolah tidak mampu berbahasa arab. Padahal kitab yang dikaji adalah kitabnya Imam Al-Ghazali yang berbahasa arab. Ini menunjukkan ketawadhuannya.

Yang khas dari karya mbah Sholeh Darat adalah kitab karyanya disampaikan atau ditulis dengan tulisan arab namun berbahasa jawa, atau disebut dengan arab pegon.

Selain itu, secara implisit, karyanya memuat ajakan untuk melawan penjajah dengan menanamkan rasa benci pada para penjajah. Ajarannya di antaranya orang yang beriman dilarang memakai jas, topi, celana yang selalu dipakai oleh penjajah. 

"Sehingga pada Februari 2016 itu, kami membentuk Kopisoda. Komunitas ini bertujuan nguri-nguri warisan ilmu dari KH Sholeh Darat," jelasnya.

Aktivitas nguri-nguri warisan ilmu mbah Sholeh Darat dilakukan dengan mengadakan pengajian keliling setiap Minggu ketiga setiap bulan. Pengajian dilakukan dari masjid ke masjid, dari kampus ke kampus. Pada masa pandemi, pengajian dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan dan dengan jumlah terbatas.

Adapun kitab yang sudah dikhatamkan antara lain kitab majmu’atusy syari’ah, manasikul hajji, lathaifut thoharoh, matan al hikam, munjiyat, fasholatan dan lainnya. Saat ini, Kopisoda masih mengkaji kitab karya mbah Sholeh Darat lainnya yaitu tafsir hidayatur rahman.

"Selain itu kami di Pondok Pesantren Nurul Hidayah setiap Selasa sore menggelar kajian mingguan khusus karya-karya KH Sholeh Darat yang diikuti dari kalangan mahasiswa dan umum," tambahnya.

Kiai Agus Taufiq selaku dzurriyah atau keturunan KH Sholeh Darat, menyampaikan ucapan terima kasih kepada pengasuh Kopisoda Gus In'am yang telah mengkaji kitab-kitab KH Sholeh Darat baik di pondok pesantren maupun melalui majelis Kopisoda.

Pada haul KH Sholeh Darat beberapa tahun lalu, Kiai Agus Taufiq berjanji akan membangkitkan pondok pesantren mbah Sholeh Darat dan sampai sekarang belum dapat terwujud. Namun sekarang sudah ada titik terang dengan dimulainya perbaikan sejumlah fasilitas di makam KH SHoleh Darat.

"Saya mohon bantuan para jamaah yang mau wakaf tanah untuk mendirikan pondok pesantren untuk nguri-nguri pondok KH sholeh Darat bisa berdiri lagi," ucapnya. (*)

Penulis: m zaenal arifin
Editor: sujarwo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved