Ngopi Pagi
FOKUS: Transformasi Peradaban Sedang Berjalan, Sudah Siapkah?
Pada situasi potensi tranformasi peradaban yang membuka peluang keterbukaan informasi tanpa keran ini, nampaknya soliditas, solidaritas, nilai-nilai k
Penulis: m nur huda | Editor: iswidodo
Tajuk Ditulis Oleh Jurnalis Tribun Jateng, M Nur Huda
TRIBUNJATENG.COM - Dalam kurun waktu sekira 15 tahun terakhir, perkembangan teknologi terus melejit. Perubahan itu memengaruhi gaya hidup setiap manusia yang ada di muka bumi ini.
Seluruh sektor kehidupan sudah tak bisa menghindar dari perkembangan teknologi siber. Mulai ekonomi, politik, pendidikan, sosial, kebudayaan, dan lainnya.
Ditambah adanya pandemi Covid-19 yang melanda dunia setahun terakhir, mengharuskan setiap orang menjaga jarak hingga memengaruhi kebiasaan sebelumnya. Berbagai aktivitas banyak dilakukan secara virtual, lebih cepat, mudah dan tak perlu bertatap muka secara langsung.
Artinya, tahun ini dimungkinkan akan terjadi transformasi peradaban yang diawali oleh perkembangan teknologi siber yang dipercepat adanya pandemi.
Transformasi merupakan perubahan dari rupa, baik pada bagian bentuk, sifat, fungsi dan lainnya. Semisal Transformer, yang semula berupa sebuah mobil kemudian menjadi robot dalam waktu singkat dan memiliki kekuatan dahsyat melebihi kekuatan fisik manusia.
Sedangkan peradaban merupakan hasil budi dan daya manusia yang mencakup seluruh aspek kehidupan baik fisik berupa benda maupun non fisik berupa nilai sosial.
Pada situasi potensi tranformasi peradaban yang membuka peluang keterbukaan informasi tanpa keran ini, nampaknya soliditas, solidaritas, nilai-nilai kemanusiaan, kebhinekaan antarsesama anak bangsa perlu diperkuat lagi.
Indonesia patut bersyukur memiliki Pancasila yang di dalamnya juga mengandung unsur kearifan lokal masing-masing penduduknya. Kepedulian antarwarga dalam bentuk gotongroyong dalam berbagai sektor jadi senjata ampuh untuk menghadapi transformasi peradaban, terutama dampak negatifnya.
Sebagai penunjangnya, perlu juga meningkatkan kesadaran masyarakat terutama generasi muda untuk menumbuhkan kearifan lokal tersebut yakni mampu memposisikan antara kepentingan pribadi dengan kepentingan masyarakat umum, atau menjauhi sikap egosentris yang hanya memikirkan diri sendiri.
Adapun, kearifan lokal berupa gotongroyong sebagaimana nilai yang terkandung dalam Pancasila perlu dibentuk format yang tepat untuk diaplikasikan pada wilayah siber.
Contoh sederhananya, kebiasaan membully di media sosial juga patut jadi perhatian. Jangan sampai kebiasaan itu justeru terus berkembang hingga jadi budaya saat memasuki transformasi peradaban.
Rasa memanusiakan manusia harus digelorakan di semua platform digital agar mampu menembus ruang-ruang kamar anak-anak muda.
Maka Pendidikan Pancasila yang telah masuk dalam standar pendidikan nasional di perguruan tinggi dan pendidikan menengah hingga dasar, perlu terus diperkuat dan kurikulumnya harus ditransformasikan ke arah digital. Bukan sebaliknya malah dihapus.
Beberapa ahli berpendapat bahwa jika ingin menguasai Indonesia baik dari kekuatan barat ataupun timur tidak perlu menggunakan cara konvensional yakni invasi militer. Tapi cukup dengan melemahkan ideologi negara yakni Pancasila.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/tajuk-ditulis-oleh-wartawan-tribun-jateng-m-nur-huda_20180504_071828.jpg)