Masjid Layur Semarang Bertahan Di Tengah Penurunan Tanah
Masjid Layur di Jalan Layur, Dadapsari, Semarang Utara, menjadi satu di antara masjid tertua di Kota Semarang.
Penulis: iwan Arifianto | Editor: Daniel Ari Purnomo
Penulis : Iwan Arifianto
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Masjid Layur di Jalan Layur, Dadapsari, Semarang Utara, menjadi satu di antara masjid tertua di Kota Semarang.
Masjid tersebut dibangun tahun 1802.
Ciri khas masjid berupa menara sehingga kerap disebut masjid menara.
Pengamatan Tribunjateng.com, Masjid Layur semakin terawat.
Bangunan masjid terutama bagian menara tampak baru saja direnovasi.
Pekerja bahkan masih mengecat tembok menara pada Kamis (22/4/2021) petang.
Bangunan masjid telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Pemkot Semarang pada tahun 1992.
Sayangnya, bangunan cagar budaya tersebut terancam dengan penurunan muka tanah di kawasan pesisir.
Masjid tersebut terdiri dari dua lantai saat dibangun oleh saudagar dari Yaman.
Namun karena lantai satu sering banjir akhirnya diurug.
Kini tinggal satu lantai yang tersisa.
Lantai yang amblas saat ini dikosongkan, sebelumnya lantai tersebut digunakan untuk kegiatan belajar mengaji anak-anak.
"Saat musim hujan kawasan Masjid Layur memang sering kebanjiran," terang Pengurus Masjid Layur, Ali Mahsun.
Dia mengatakan, penurunan tahan di area masjid memang kian terasa.
Belasan tahun lalu pihaknya sempat meninggikan tanah masjid.
"Sekitar 20 tahun lalu terakhir lantai 1 masjid masih bisa digunakan," terangnya.
Kendati beberapa kali direnovasi pihak masjid tetap mempertahankan bentuk keaslian masjid.
"Tentu kami tak berani merubahnya," ungkapnya.
Sementara itu, takmir Masjid Layur, M Makhsum, menuturkan, menara Masjid Layur direnovasi lantaran kondisi menara masjid yang sudah rusak.
Proses renovasi baru pertama kali dikerjakan selama 15 tahun.
"Dana pembangunan bersumber dari para habib yang tinggal di sekitar kawasan Layur," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/masjid-layur-semarang-4.jpg)