Ngopi Pagi
FOKUS: Belajarlah dari India
Lebaran tinggal menghitung hari. Biasanya, Lebaran adalah momentum pulang ke kampung halaman untuk silaturahmi dan berkumpul dengan keluarga.
Penulis: galih pujo asmoro | Editor: iswidodo
Ditulis oleh Wartawan Tribun Jateng, Galih P Asmoro
TRIBUNJATENG.COM - Lebaran tinggal menghitung hari. Biasanya, Lebaran adalah momentum pulang ke kampung halaman untuk silaturahmi dan berkumpul dengan keluarga. Bagi sebagian orang, Lebaran juga identik dengan belanja, berwisata, dan segala hal yang berkaitan dengan pengeluaran.
Namun sepertinya tidak dengan tahun ini. Pemerintah memutuskan untuk melarang mudik. Kebijakan itu sama seperti tahun lalu di mana pemerintah juga melarang mudik pada Lebaran 2020.
Larangan mudik itu juga diikuti dengan kebijakan pendukung. Tahun ini, pemerintah memutuskan untuk melarang beroperasinya seluruh moda transportasi baik darat, laut, dan udara. Itulah perbedaan paling mendasar dibandingkan larangan mudik tahun lalu.
Hanya saja, bagi mereka yang sudah berniat pulang kampung, tetap ada cara. Tahu moda transportasi tidak lagi beroperasi pada 6 Mei, mereka pun nyolong start mudik lebih awal.
Anehnya, mereka yang mudik lebih awal, setidaknya yang diwawancarai wartawan Tribun Jateng, mengaku setuju dengan kebijakan pemerintah. Alasan mereka tetap mudik adalah momen Lebaran yang spesial, dan sudah banyak alat tes Covid-19.
Benar mereka telah dites Covid-19 saat hendak melakukan perjalan ke kampung halaman. Misalnya dengan GeNose, swab antigen, maupun PCR. Namun sepanjang perjalanan, apakah mereka yakin tidak terpapar Covid?
Pertanyaan selanjutnya, sebelum masuk ke rumah, apakah mereka melakukan tes Covid-19 lagi untuk mengetahui kondisi terbaru? Apakah mereka juga tidak melakukan kontak fisik dengan siapapun sepanjang perjalanan dari kota asal, ke kota tujuan, ke tempat tes, hingga sampai rumah? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Bagi mereka yang (akan) memilih mudik lebih awal, alangkah baiknya melakukan tes ulang begitu sampai kota tujuan. Sehingga ketika sampai di rumah, setidaknya mereka tahu kondisi terkini mereka terkait Covid-19.
Ditambah lagi, walaupun misalnya mereka dinyatakan negatif berdasarkan hasil tes terakhir, sebaiknya tetap melakukan isolasi mandiri dulu. Karena bisa saja hasil tes tersebut tidak sepenuhnya akurat.
Bagi yang masih punya keinginan mudik, mungkin sekarang ini Anda perlu memperbanyak membaca dan melihat tayangan mengenai kasus Covid-19 di India. Betapa negara itu sekarang sedang kewalahan menghadapi peningkatan Covid-19.
Rumah sakit penuh, pasien harus antre berjam-jam sebelum akhirnya dilayani, bahkan untuk kremasi jenazah saja harus dilakukan di tempat yang tidak seharusnya. Tentu kita tak ingin hal itu terjadi di Indonesia kan? Khususnya menimpa kita, keluarga, dan para sahabat.
Melihat berbagai persiapan yang dilakukan terkait kebijakan larangan mudik tahun ini, sepertinya akan jauh lebih sukses dibandingkan tahun lalu. Moda transportasi sudah dilarang sepenuhnya, mereka yang dikecualikan juga sudah jelas siapa saja.
Nah, tinggal bagaimana penerapannya di lapangan. Jangan sampai kita tidak jujur yang justru berpotensi menimbulkan dampak buruk berkepanjangan. Ketidakjujuran yang saya maksud adalah di mana kita misalnya membeli surat keterangan bebas Covid-19 abal-abal.
Kalaupun mau pulang kampung karena sesuatu hal, sebaiknya Anda tak ragu merogoh kocek lebih dalam untuk tes skrining Covid-19 terpercaya sebelum dan begitu sampai di kota tujuan. Demikian juga ketika hendak balik. Namun jika mental Anda masih miskin sehingga tak mau keluar biaya untuk tes skrining minimal empat kali saat mudik dan balik, sebaiknya ndekem saja dan jangan berpikir pulang kampung. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/gondrong-galih-p-asmoro_20170814_073232.jpg)