Breaking News:

Berita Semarang

Penjual Kolang-Kaling di Kampung Kokolaka Siasati dengan Pemasaran Online dan Inovasi Produk

Geliat bisnis kolang-kaling di bulan Ramadan 1442 H ini, diakui para penjual mengalami penurunan.

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Geliat bisnis kolang-kaling di bulan Ramadan 1442 H ini, diakui para pengrajin dan penjual kolang-kaling di Kampung Kokolaka, Jatirejo, Gunungpati, Semarang mengalami penurunan. 

Para pengrajin sekaligus penjual menuturkan meskipun kolang-kaling termasuk satu diantara buah yang banyak dicari saat bulan Ramadan, utamanya sebagai campuran untuk minuman berbuka puasa, namun daya beli masyarakat di tahun ini dinilai melemah. 

Ketua UMKM Gerakan Terintegrasi Koperasi dan Usaha Mikro (Gerai Kopimi) di Kampung Kokolaka, Jatirejo, Dwi Sayekti Kadarini yang juga merupakan pengrajin dan penjual kolang-kaling mengatakan penjualan di tahun ini tak sederas di tahun sebelumnya. Ia menilai hal ini terjadi, sebab pelaksanaan bulan suci Ramadan masih berada di tengah kondisi pandemi covid-19. 

“Untuk penurunan penjualan kolang-kaling di Ramadan tahun ini dibandingkan dengan penjualan di tahun lalu sekira 30 persen lebih. Biasanya di bulan Ramadan tahun-tahun sebelumnya, banyak pedagang dari luar kota maupun pedagang dari pasar-pasar tradisional di Kota Semarang yang datang dan kulakan disini, namun karena daya beli dari konsumennya sendiri saat ini juga sedang menurun, otomatis pembelian kolang-kaling dari para pedagang juga menurun,” tutur wanita yang akrab disapa Ninik, kepada Tribun Jateng, Minggu, (25/4/2021). 

Ia mengatakan pada Ramadan tahun lalu, ia bisa menjual kolang-kaling hingga sekira 50 kilogram per hari, sementara itu pada tahun ini dapat menjual sekira 25 hingga 30 kilogram per hari. 

Adapun untuk tetap mendongkrak penjualannya, Ninik pun melakukan inovasi dengan memasarkan secara online dan melakukan sistem penjualan secara cash on delivery (COD) untuk bertemu langsung dengan pembeli. 

Selain itu, juga melakukan inovasi produk yakni manisan kolang-kaling dengan harga Rp 10 ribu per bungkus dengan varian rasa buah naga, gula jawa, dan pandan. Sementara itu, untuk kolang-kaling kiloan, dijual dengan harga Rp 12 ribu per kilogram. 

“Alhamdulillah dengan adanya pemasaran secara online dan diversifikasi produk, mampu membantu peningkatan penjualan. Dimana untuk penjualan manisan kolang kaling, selama seminggu bisa terjual sekira 50 hingga 100 bungkus,” imbuhnya. 

Tak hanya Ninik, para pengrajin dan penjual kolang-kaling di Kampung Kokolaka juga melakukan inovasi produk dengan menghadirkan berbagai olahan kolang-kaling diantaranya seperti tahu bakso isi kolang-kaling, lumpia isi kolang-kaling, pepes kolang-kaling, rendang kolang-kaling dan kerupuk kolang-kaling, yang dibuat berdasarkan permintaan pemesanan dari konsumen. 

Penurunan penjualan juga dialami Rupiasih, satu diantara pengrajin dan penjual kolang-kaling di Kampung Kokolaka. 

“Tahun ini penjualan kolang-kaling di bulan Ramadan menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Memang untuk kondisinya tahun lalu itu sudah ada pandemi, tapi daya beli masyarakatnya masih tinggi, pengecer itu banyak yang beli kesini. Kalau sekarang sudah berbeda,” tutur Rupiasih. 

Dikatakannya, di tahun lalu terdapat konsumen yang datang untuk membeli kolang-kaling hingga 15 kwintal dan setiap minggunya bisa melakukan pembelian hingga tiga kali. Sedangkan di tahun ini, jumlah pembelian yang dilakukan konsumen tidak menentu. 

“Kadang ada yang beli lima kwintal, ada yang satu kwintal, tidak tentu. Tergantung dengan kemampuan masing-masing konsumennya,” imbuhnya. 

Menyiasati kondisi tersebut, Rupiasih pun memilih untuk melakukan sistem penyimpanan yang baik untuk kolang-kaling yang belum terjual, agar tetap tahan lama hingga akhirnya terjual. (*)

Ketua UMKM Gerakan Terintegrasi Koperasi dan Usaha Mikro (Gerai Kopimi) di Kampung Kokolaka, Jatirejo, Dwi Sayekti Kadarini saat menunjukkan inovasi produk kolang-kaling buatannya yakni manisan kolang-kaling.
Ketua UMKM Gerakan Terintegrasi Koperasi dan Usaha Mikro (Gerai Kopimi) di Kampung Kokolaka, Jatirejo, Dwi Sayekti Kadarini saat menunjukkan inovasi produk kolang-kaling buatannya yakni manisan kolang-kaling. (Tribun Jateng / Ruth Novita Lusiani)
Penulis: Ruth Novita Lusiani
Editor: sujarwo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved