Breaking News:

Ngopi Pagi

FOKUS: Udik-udik Mudik, Untuk Apa Duit Direndam Air Kembang

Tahun 90-an uang logam Rp 25 dan Rp50 masih dipakai. Tujuannya membagikan kepada tamu yang hadir. Tamu tak diundang boleh saja ikut

tribunjateng/bram
Sujarwo atau Pak Jarwo wartawan Tribun Jateng 

Ditulis oleh Wartawan Tribun Jateng, Sujarwo

TRIBUNJATENG.COM - Udik-udik bukan utak-atik dari kata udik maupun mudik. Ini tentang tradisi yang dikenalkan sesepuh zaman dulu, dari generasi ke generasi, turun-temurun. Prosesinya, menebarkan uang logam dengan nominal Rp 500-Rp 1.000. Tahun 90-an uang logam Rp 25 dan Rp50 masih dipakai. Tujuannya membagikan kepada tamu yang hadir. Tamu tak diundang boleh saja ikut, dan justru membuat yang hajatan senang karena makin meriah. Mereka bukan diperlakukan bak pengemis.

Sebelum uang disebarkan, uang direndam dalam wadah berisi air dicampur bunga melati dan beberapa bunga wangi-wangian lainnya agar beraroma harum. Ini sebagai bentuk penghargaan kepada para tamu yang menerima uang itu. Mereka patut dihormati.

Pada tahun 1950-an, udik-udik sering dilakukan oleh warga yang hendak bepergian haji atau sepulang dari haji, mempunyai anak, perkawinan dan hajatan lainnya. Di Pekalongan, udik-udik biasa digelar saat cukuran rambut bayi. Acara ini selalu ditunggu oleh para tetangga.

Keraton menggelar udik-udik saat muludan, menandai berakhirnya pasar malam Sekaten. Raja menyebar udik-udik yang disimbolkan sedekah Raja kepada masyarakat.

Udik-udi bukan hanya dilakukan saat hajatan yang bersifat suka cita, juga pada saat prosesi kematian. Digelar saat mengantar janazah ke pemakanan. Tetapi udik-udik ini tidak diperebutkan. Dengan demikian, makna luhur udik-udik pun terjaga.

Lain lagi udik, yang berarti dusun, tak henti tercemari. Fenomena udik atau orang yang dikatakan/dianggap udik dijadikan bahan tertawaan, bahan mem-bully. Bahkan terkesan ‘dibudayakan’, seperti di berbagai acara komedi.

Udik, setelah "dibungkus" sebagai muasal kata mudik, masih saja terkuyo-kuyo. Mudik sebenarnya bukan sebatas berarti pulang ke kampung halaman. Bukan pula sebatas mereka 'bagi-bagi uang kepada sanak-saudara di kampung, kangen-kangen dan lainnya.

Sejarawan JJ Rizal mengatakan, secara tradisi, aktivitas kembali ke kampung halaman juga terjadi di negara lain seperti Amerika Serikat dan China. “Orang Amerika saat Thank Giving Day juga melakukan mudik. Sama halnya dengan orang China saat Tahun Baru Imlek,” kata Rizal, Rabu (6/6/2018).

Mudik, masih kata dia, juga punya arti lain, yaitu ingat asal atau leluhur. “Nah, identitas asal kita dalam Islam itu kan artinya fitrah, dan fitrah manusia kan baik. Otomatis mudik harus jadi pelajaran bagaimana kita menjadi manusia yang lebih baik,” ujar Rizal.

Rizal mencatat, fenomena mudik, makin banyaknya orang yang meninggalkan kampung halaman untuk bekerja dan lain-lain, sebagai perjalanan sejarah kita. "Ada problem kesenjangan dan keterpusatan ekonomi yang mengerikan," jelasnya.

Grup musik rock legendaris, God Bless, dengan caranya sendiri, tersirat menangkap fenomena itu lewat lagu Rumah Kita. Lagu karya Ian Antono yang dirilis tahun 1988 ini mengandung pesan mendalam. "Lebih baik di sini, rumah kita sendiri/Segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa/Semuanya ada di sini. Rumah kita" Begitu reff lagu tersebut.

Kini, mudik yang bahasa kerennya homecoming, kian terdegradasi. Apalagi saat pandemi Covid-19. Sampai-sampai muncul larangan mudik, karena dikhawatirkan menebarkan, bukan uang logam, tapi virus ganas corona. Parahnya gelombang Covid-19 kedua di India terjadi saat jelang Lebaran. Disusul terbongkar kasus penggunaan alat tes usap antigen bekas di negeri ini, yang bisa mempositifkan Covid terhadap orang sehat. Sangat memprihatinkan. (*)

Penulis: sujarwo
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved