Breaking News:

Opini

OPINI: (Tidak) Ada Lagi Kisah Kasih di Sekolah

PENGGALAN lirik lagu berjudul Kisah Kasih di Sekolah di atas diciptakan dan dinyanyikan Obbie Messakh yang ngetop di era 80 an.

Editor: iswidodo
tribunjateng/ist
Ditulis oleh Basuki Sugita | Pendidik Tinggal di Kaliputu Kudus 

Ditulis oleh Basuki Sugita | Pendidik Tinggal di Kaliputu Kudus

Resah dan gelisah
Menunggu disini
Di sudut sekolah
Tempat yang kau janjikan
Ingin jumpa denganku
Walau mencuri waktu
Berdusta pada guru

PENGGALAN lirik lagu berjudul Kisah Kasih di Sekolah di atas diciptakan dan dinyanyikan Obbie Messakh yang ngetop di era 80 an. Lagu tersebut kembali dipopulerkan di jaman 2000 an oleh Chrisye, bercerita tentang indahnya kasih sayang dan cinta di lingkup sekolah. Bagi sebagian anak, sekolah tempat mencari ilmu, juga tempat jalinan asmara cinta pertama.
Keceriaan yang mencuat dari lagu Kisah Kasih di Sekolah seolah lenyap tak berbekas sejak pandemi Covid- 19 bulan Maret 2020 lalu. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi saat ini justru terus mematangkan rencana pembelajaran tatap muka (PTM) meski nyawa para siswa jadi taruhan.
Kondisi normal sebelum masa pandemic, boleh jadi baru bisa dilakukan paling cepat dua hingga tiga tahun mendatang. Kemungkinan terburuk gambaran kegembiraan Kisah Kasih di Sekolah hanya menjadi tetenger bahwa anak-anak pernah sekolah.
Lantas strategi apa yang harus dilakukan penanggungjawab pendidikan nasional? Jawabnya sebenarnya sederhana. Sebelum ditemukan obat penangkal virus Covid- 19, guru, siswa, dan masyarakat luas harus membiasakan diri belajar online. Lalu apa perbedaan antara vaksin dan obat?
Pengertian obat dalam Permenkes nomor 30 tahun 2014 adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi, untuk manusia.
Sementara pengertian vaksin yang tercantum dalam Permenkes nomor 12 tahun 2017 adalah produk biologi yang berisi antigen berupa mikroorganisme yang sudah mati atau masih hidup yang dilemahkan, masih utuh atau bagiannya, atau berupa toksin mikroorganisme yang telah diolah menjadi toksoid atau protein rekombinan, yang ditambahkan dengan zat lainnya, yang bila diberikan kepada seseorang akan menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit tertentu.
Baik vaksin maupun obat memiliki sifat mendasar dalam hal fungsi, yaitu bertujuan untuk pencegahan dan penyembuhan suatu penyakit pada manusia dan hewan.
Dalam Bahasa sederhana sebelum ditemukan obat, potensi mematikan virus Covid- 19 tetap mengancam jiwa anak-anak sekolah. Apalagi jika masyarakat abai menjaga protocol kesehatan yang meliputu cuci tangan, jaga jarak dan memakai masker. Mutasi corona B1617 yang mematikan di India menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.
Kematian
Data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 menunjukkan resiko anak usia sekolah terpapar Covid-19 yang berujung kematian cukup memprihatinkan (Kompas, 3/5). Jumlah anak usia 0-18 tahun (usia setingkat siswa SMA ke bawah) yang terkorfimasi positif sebanyak 205.764 orang atau 12,3 persen dari total seluruh kasus di Tanah Air. Kehilangan nyawa pada usia tersebut mencapai 593 orang atau 1,3 persen dari seluruh kasus kematian.
Klausul persyaratan persetujuan siswa masuk sekolah yang berbunyi “Segala resiko selama pembelajaran di sekolah menjadi tanggung jawab penuh orang tua siswa”, menjadi penghalang utama anak belajar offline.
Selama belum ditemukan obat anti Covid-19 seyogyanya penanggungjawab pendidikan nasional membenahi kurikulum yang berlaku saat ini alih-alih menyiapkan PTM. Pembenahan bertujuan anak belajar online tidak terbebani banyaknya materi pelajaran yang harus diselesaikan dalam kurun waktu tertentu.
Oleh sebab itu kurikulum perlu dibagi menjadi dua bagian utama yakni materi pelajaran hafalan seperti Pendidikan Agama, PPKn, IPS, Seni Budaya, Penjas Orkes, dan Bahasa dimaksimal dilakukan online. Sementara materi eksak seperti Matematika, Kimia, dan Fisika dititikberatkan belajar tatap muka.
Materi ekstrakurikuler seperti Pramuka seyogyanya tetap diberikan kepada siswa sebagai upaya menghilangkan kejenuhan belajar online. Disamping menggali potensi terpendam pada diri anak didik.
Tentu kita semua tetap berharap anak bisa kembali ke sekolah tanpa resiko sedikitpun. Semoga lagu Kisah Kasih Sekolah memang benar-benar ada bukan sekedar lagu kenangan tak terlupakan.
Tiada masa paling indah, Masa-masa di sekolah. Tiada kisah paling indah, Kisah kasih di sekolah. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved