Breaking News:

Berita Semarang

Inilah Alasan Kadinkes Semarang Minta Rumah Sakit Waspada Paskalebaran

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mengantisipasi adanya lonjakan kasus pasca libur Lebaran. Hal itu dilakukan mengingat setiap pasca liburan

TRIBUN JATENG / EKA YULIANTI FAJLIN
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Moh Abdul Hakam menunjukkan progres vaksinasi di Kota Semarang, Kamis (4/3/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mengantisipasi adanya lonjakan kasus pasca libur Lebaran. Hal itu dilakukan mengingat setiap pasca liburan kerap kali terjadi kenaikan kasus Covid-19.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Moh Abdul Hakam mengatakan, tempat isolasi terpusat rumah dinas maupun rumah sakit rujukan Covid-19 harus waspada dua hingga tingga pekan ke depan.

Pasalnya, pelaku perjalanan mempunyai peran besar menambah kasus Covid-19.

"Setiap rumah sakit harus waspada. Termasuk teman-teman nakes di puskesmas dan rumah sakit," ucap Hakam, Selasa (18/5).

Ia menyebutkan, tempat isolasi rumah sakit di Kota Semarang sempat mencapai 1.200 tempat tidur. Saat ini, turun di angka 1.000an tempat tidur. Sedangkan rumah dinas sebagai tempat isolasi terpusat milik pemkot, ada 170 tempat tidur. Keterisian di rumah dinas sudah di bawah 50 pasien dalam lima hari terakhir.

Dia meminta setiap faskes rujukan Covid-19 menyiapkan tempat tidur isolasi sebagai antisipasi lonjakan Covid-19 pasca Lebaran.

Ruang isolasi yang sudah sempat ditutup agar disiapkan kembali. Dia juga telah meminta petugas bagian rujukan untuk berkomunikasi dengan manajemen rumah sakit.

"Kita harus waspada karena RS di Semarang menjadi pusat rujukan Covid-19 tidak hanya bagi warga Semarang saja. Kalau dilihat di info Covid-19, ternyata kenaikan kasus di Semarang juga berasal dari luar Semarang. Apalagi, RSWN berada di pusat perbatasan Demak. Begitu juga RSUD Tugu berada di perbatasan Kendal," paparnya.

Dari sisi pencegahan dan edukasi, lanjut Hakam, petugas puskesmas maupun TNI Polri juga terus melakukan sosialisasi protokol kesehatan agar kasus tidak semakin bertambah.

Pihaknya juga melakukan sampling deteksi Covid-19 ke beberapa pasar tradisional yang ditengarai menjadi faktor risiko terjadinya kasus baru. Namun dari hasil sampling, pihaknya tidak menjumpai adanya klaster pasar.

Halaman
123
Penulis: Eka Yulianti Fajlin
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved