Jumat, 24 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Kendal

Pedagang Musiman Momen Syawalan di Kaliwungu Kendal Sepi Pembeli

Pemandangan baru terlihat pada syawalan 2021 di sekitar alun-alun hingga bantaran perlintasan kereta api di Kaliwungu, Kabupaten Kendal.

Penulis: Saiful Ma sum | Editor: Catur waskito Edy
Istimewa
Masyarakat memadati pasar sore Kaliwungu meski tradisi Tukuder ditiadakan, Senin (12/4/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, KENDAL -- Pemandangan baru terlihat pada syawalan 2021 di sekitar alun-alun hingga bantaran perlintasan kereta api di Kaliwungu, Kabupaten Kendal.

Sepanjang tepi Jalan Raya Timur Kaliwungu-Kendal itu biasanya dipadati pedagang musiman yang menjajakan produk bunga hias, guci, mainan anak-anak, hingga gerabah mainan pada momen syawalan.

Namun, kali ini hanya terlihat segelintir pedagang yang sedang menjaga dagangannya sepanjang hari. Sementara pedagang lain memilih untuk tidak berjualan karena sepi pembeli akibat kondisi pandemi covid-19.

Seorang pedagang, Tatik (63) mengatakan, pada 10 hari pertama berjualan, dagangannya masih sepi pembeli. Padahal, ia masih harus berjualan selama satu bulan penuh sesuai dengan kontrak lapak yang telah disepakati.

Perempuan asal Kota Semarang itu terlihat lesu menunggu calon pembeli. Secara bergantian, Tatik dan suami tidur di lapaknya setiap malam untuk menjaga dagangannya.

Hal itu dilakukan Tatik dan suami untuk mendapatkan pundi rupiah selama bulan Syawal pasca Ramadan dilalui.

"Karena pandemi ini, tidak semua pedagang seperti saya mau berjualan. Takut sepi (dagangan tidak laku-Red). Biasanya sepanjang jalan ini ada puluhan pedagang, sekarang hanya ada dua pedagang," katanya, saat ditemui Tribun Jateng, Jumat (21/5).

Tatik mengatakan, dalam 10 hari pertama berjualan, ia hanya mendapatkan sekitar 100 pembeli. Padahal, pada tahun-tahun sebelumnya, ia bisa mendapatkan 30-50 pembeli setiap hari.

Tatik dan suami pun merasakan penurunan pemasukan pada tahun ini cukup drastis hingga 70 persen dibandingkan dengan 2020 lalu. Namun, ia memilih tetap bertahan menjajakan dagangannya sepanjang Syawal untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

"Dagang di sini kan musiman, harus sewa lapak Rp 400.000 selama sebulan penuh. Ya gini, sepi, karena masih suasana covid-19. Tradisi syawalan yang biasanya ramai juga jadi sepi. Ya daripada menganggur, mending tetap bekerja semampunya," ujarnya.

Tatik menjajakan beberapa produk dengan harga cukup terjangkau. Mulai dari gerabah mainan, guci, bunga hias, hingga beberapa mainan anak.

Gerabah anak-anak dibanderol Rp 2.000, bunga hias Rp 5.000-Rp 7.000 per tangkai. Untuk guci dijual dengan harga Rp 125 ribuan, dan mainan anak Rp 10.000-Rp 20.000 per item.

Barang dagangannya diambil dari beberapa daerah, seperti Jepara dan Yogyakarta. "Syawalan ini sepi, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Kalau tahun kemarin cuma boleh jualan 10 hari saja, tetapi masih lebih ramai (dari tahun ini-Red)," tuturnya.

Berharap ramai

Tatik sudah menjadi pedagang musiman gerabah anak-anak selama 25 tahun. Pada masa musim syawalan seperti ini biasanya menjadi ladang untuk mendapatkan keuntungan banyak selama 1 bulan.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved