Breaking News:

Liputan Khusus

LIPSUS Pro dan Kontra Penutupan Destinasi Wisata Saat Libur Lebaran

Tribun Jateng melakukan penelusuran objek wisata mana saja yang buka dan tutup, bagaimana kondisinya, adakah klaster baru wisatawan, dan berapa besar

Editor: iswidodo
tribunjateng/deseta leili kartika
Pengunjung terlihat sedang mengabadikan momen dengan berfoto di Curug Serwiti Objek Wisata Guci Kabupaten Tegal, Jumat (21/5/2021). 

TRIBUNJATENG.COM,  SEMARANG - Selama libur Lebaran ini ada sejumlah objek wisata di Jateng buka dan tutup, atau ditutup. Objek wisata dibuka untuk memenuhi kerinduan warga piknik sekaligus meningkatkan roda ekonomi di masa pandemi. Tutup dan ditutup sebagai upaya pencegahan dan memutus mata rantai penyebaran covid-19.
Tribun Jateng melakukan penelusuran objek wisata mana saja yang buka dan tutup, bagaimana kondisinya, adakah klaster baru wisatawan, dan berapa besar dampak ekonomi dari pembukaan destinasi wisata tersebut.
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Jawa Tengah, Sinoeng Nugroho menyebut ada tujuh kabupaten yang menutup destinasi wisatanya.
"Total ada tujuh kabupaten, tiga di antaranya ada Magelang, Kebumen, dan Wonogiri. Kebijakan itu tentu berdasarkan dari analisis Satgas Covid terkait kondisi pandemi di wilayah masing-masing. Memang, kami tidak merekomendasikan pembukaan destinasi wisata untuk zona merah dan kuning," tuturnya.
=======================
- Sejumlah destinasi wisata di Jateng tetap buka
- DTW di Kota Semarang belum ada yang ditutup
- Satpol PP ingatkan wisatawan wajib taati prokes
- Disporapar sebut mayoritas pengunjung dari Jateng
=======================
Adapun untuk tempat wisata yang dibuka wajib mematuhi aturan yang berlaku. Di antaranya membatasi kunjungan wisatawan maksimal hanya 30 persen dari kapasitas, lalu mengurangi durasi operasional, dan pengetatan protokol kesehatan.
"Saya akui, penerapan pembatasan kunjungan dan pengaturan ulang durasi jam operasional bisa kami terapkan. Tetapi, ketaatan menggunakan masker dan jaga jarak masih sangat minim. Itu kembali lagi ke diri kita masing-masing untuk sadar betul bahwa terlalu berkerumun dan tidak menggunakan masker bisa berisiko menulari atau bahkan tertular virus," terang Sinoeng.
Dia tegaskan, berkali-kali minta kepada pengelola destinasi wisata untuk mengingatkan pengunjung supaya tidak abai menggunakan masker dan jaga jarak.
Dari hasil analisis yang dilakukan oleh Disporapar Jateng bersama dengan beberapa pakar, didapati ada perubahan pola tujuan wisata masyarakat di Jawa Tengah. Selama pandemi, masyarakat maupun wisatawan cenderung memilih menuju ke destinasi wisata yang terdekat dengan domisilinya.
"Selain itu, destinasi wisata lama yang diupgrade juga masih menjadi pilihan wisatawan di kala pandemi. Berikutnya, masyarakat cenderung memilih tempat wisata yang bersifat privat dan tidak bergerombol. Terakhir, tempat wisata yang menyediakan paket liburan yang kecil juga jadi pilihan," tambahnya.
Selama pandemi dan libur lebaran, Sinoeng mengatakan wisatawan yang berkunjung di Jawa Tengah rata-rata masyarakat dalam satu provinsi. Hanya sebagian kecil wisatawan yang berasal dari luar provinsi Jawa Tengah.
"Masih sebagian besar dari Jawa Tengah. Luar provinsi ada juga tapi kecil. Adapun, destinasi wisata pedesaan, alam terbuka, dan bersifat lokal justru menjadi favorit wisatawan saat ini. Karena mereka sadar, wisata alam atau wisata desa lebih mudah untuk menjaga jarak dibandingkan dengan tempat wisata wahana," tegasnya.
Bubarkan Kerumunan
Satpol PP Kota Semarang tidak segan untuk menutup objek wisata jika didapati terjadinya kerumunan maupun tidak mematuhi protokol kesehatan di dalam operasionalnya.
"Kalau ada kerumunan laporkan ke kami, pasti akan kami lakukan tindakan," kata Kepala Satpol PP Kota Semarang Fajar Purwoto. Dijelaskan Fajar bahwa kerumunan yang dimaksud adalah jika sebuah lokasi wisata tersebut terjadi desak-desakan pengunjung.
Fajar mempersilakan destinasi wisata buka. Namun harus taat protokol kesehatan. Pakai masker, jaga jarak, dan cek suhu.
Menurutnya, Pemerintah Kota Semarang sudah cukup fleksibel terhadap pelaku usaha, tak terkecuali pengelola objek wisata. Tempat-tempat umum masih diizinkan buka hingga pukul 00.00 WIB. Berbeda dibanding kota-kota lain yang hanya boleh beroperasi hingga pukul 22.00 WIB.
"Diberlakukannya PPKM Mikro oleh Walikota Semarang mulai April hingga Agustus itu efektif menekan laju penularan Covid-19. Kota Semarang sudah tidak zona merah, harapan masyarakat bisa terus menjaga perilaku dengan tetap mematuhi prokes," imbuhnya.
Fajar mengungkapkan hingga saat ini belum ada tempat wisata di Kota Semarang yang ditutup oleh Satpol PP karena tidak mematuhi protokol kesehatan. Adapun tindakan yang dilakukan jika ada yang melanggar maka terlebih dahulu dilakukan teguran lisan, tertulis hingga penutupan.
Pusat Oleh-oleh Ramai
Berdasarkan pengamatan Tribun Jateng, mulai dari H-3 hingga H+4 Lebaran tempat wisata oleh-oleh di Jalan Pandanaran Semarang tidak begitu ramai pengunjung. Hal itu dimungkinkan terjadi karena masih dalam masa larangan mudik hingga 17 Mei 2021.
Namun, mulai 19 Mei hingga kini cukup ramai wisatawan luar kota membeli oleh-oleh. Hal senada diungkapkan karyawan toko oleh-oleh di Jalan Pandanaran.
"Ramainya ya baru kali ini. Sekitar tanggal 19-20 Mei itu mulai ada beberapa kunjungan orang dari luar kota. Sabtu ini yang paling ramai. Kalau sebelum lebaran hingga setelah lebaran tidak begitu terlihat," ujar perempuan karyawan toko itu.
Berdasarkan pengamatan, rata-rata pengunjung pusat oleh-oleh di Jalan Pandanaran berasal dari Jakarta. Satu di antaranya, Evan, yang jauh-jauh datang dari Jakarta untuk berkunjung ke rumah orangtuanya di Semarang.
"Keluarga besar saya asli Semarang. Tapi saya kerja dan domisili di Jakarta. Terpaksa ambil cuti karena kemarin kan masih ada larangan mudik. Saya di Semarang juga tidak lama. Hanya tiga hari saja. Ini beli oleh-oleh buat titipan teman kantor dan tetangga," tuturnya.
Tak hanya di kawasan pusat oleh-oleh Jalan Pandanaran saja yang mulai ramai. Kawasan Simpanglima Semarang juga lebih ramai dibandingkan hari-hari sebelum lebaran.
Rata-rata kendaraan yang terparkir di bundaran lapangan Pancasila itu berasal dari luar kota. Pujasera yang ada di sekitar Simpanglima juga ramai pengunjung. Termasuk persewaan odong-odong yang ada di bundaran lapangan Pancasila. (tim)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved