Sabtu, 25 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Opini

OPINI DR Agung Sudarmanto: "Titanic" di Kedung Ombo

ENTAH karena kepiawaian James Cameron penulis skenario dan sekaligus sutradara film layar lebar Titanic yang mengisahkan tragedi tenggelamnya RMS 

tribunjateng/ist
Agung Sudarmanto Ketua Lembaga Kebudayaan Nasional Kota Semarang 

Oleh DR Agung Sudarmanto, MM

Ketua Lembaga Kebudayaan Nasional Kota Semarang

ENTAH karena kepiawaian James Cameron penulis skenario dan sekaligus sutradara film layar lebar Titanic yang mengisahkan tragedi tenggelamnya RMS (Royal Mail Ship) Titanic di Atlantik Utara dalam pelayaran perdananya tanggal 15 April 1912.

Atau karena peristiwa tenggelamnya Titanic bersama penumpangnya yang tergolong kaum papan atas/ ningrat bangsawan. Atau karena keduanya, sehingga setiap kali terjadi kecelakaan transportasi air nama Titanic “muncul” ke permukaan. Ingat kecelakaan transportasi air , ingat tragedi Titanic !

Saking populernya tragedi RMS Titanic mengakibatkan setiap kejadian kecelakaan transportasi air, meski tidak harus di samudra luas, di lautan, di selat atau di danau, kecelakaan di waduk pun nama Titanic ikut serta dibincangkan, termasuk kejadian di waduk Kedung Ombo.

Bercermin ke Titanic

Sejarah film layar lebar pernah menganugerahkan banyak penghargaan piala Oscar kepada film Titanic dalam ajang Academic Award ke-70. Gelar yang “disabet” antara lain perhargaan untuk Best Picture, Best Director, Original Dramatic Score, Art Direction, Makeup, Costume Design, Film Editing, Visual Effects, Sound, Sound Effects Editing, dan Original Song dengan lagu "My Heart Will Go On."

Namun di balik kesuksesannya, Film tersebut juga dapat dijadikan “cermin” pelajaran bagi dunia keselamatan, karena di dalamnya sarat dengan pesan – pesan yang perlu diindahkan agar kecelakaan tidak terjadi, atau paling tidak diminimalisir potensi risikonya.

Terdapat 3 (tiga) variabel penyebab kecelakaan yang banyak dikenal selama ini yakni variabel kebijakan (antara lain berwujud kebijakan perusahaan, standar kerja, budaya keja), kondisi tidak aman/ selamat (unsafe condition) dan perilaku tidak selamat (unsafe act). Dari ketiga variable tersebut nampaknya perilaku tidak selamat menempati porsi terbesar penyumbang kecelakaan.

Kondisi Titanic yang serba mewah, indah dan modern untuk ukuran kapal waktu itu membuat manajemen Titanic sangat percaya diri. Peralatan keselamatan seperti sekoci dan pelampung, baik kualitas, jumlah maupun peletakannya tidak menjadi prioritas karena adanya keyakinan bahwa Titanic yang modern itu tidak bakal tenggelam. Perlengkapan keselamatan apabila disediakan sesuai standar safety malahan dapat dianggap akan mengurangi “kewibawaan” Titanic atau mengganggu segi estetika kapal. Bahkan,“Tuhanpun tidak bisa menenggelamkan kapal ini”, kata salah seorang pemeran dalam film tersebut.

Meski sebagian besar badan kapal tersebut terbuat dari besi yang dapat tenggelam, namun keyakinan akan “kesempurnaan dan kecanggihan” Titanic mampu membuang jauh – jauh kosa kata “tenggelam” apabila bicara tentang Titanic.

Nakhoda Berpengalaman

Tenggelamnya Titanic tidak dikarenakan nahkoda yang kurang “jam layar”nya, yang masih “bau kencur”, atau yang masih kategori anak. Personal yang menahkodai Titanic waktu itu adalah nahkoda senior yang sudah banyak makan “asam garam”, mengerti benar tentang langkah yang harus diambil apabila terjadi kecelakaan, termasuk penyelamatan penumpang, serta tanggungjawab yang harus dipikulnya. Dan ternyata banyaknya “jam layar” tidak menjamin kecelakaan bisa dicegah.

Tetap ada celah penyebab kecelakaan. Jikalau “bercermin” pada film Titanic, maka celah – celah penyebab kecelakaan antara lain : (1) Ketika datang informasi perihal datangnya badai, nahkoda tidak mengambil langkah antisipasinya. Informasi bahaya tersebut malah dijawab dengan perintah kepada stafnya agar menambah kecepatan kapal.

Nahkoda menganggap informasi bahaya itu hal yang biasa, rutinitas belaka, (2) Kapal Titanic waktu itu adalah kapal mewah yang masih dalam taraf uji coba atau inreyen, belum teruji kehebatannya.

Namun karena tekadnya ingin terkenal, maka kapal dipacu lebih cepat agar lebih cepat pula kapal mencapai tujuan, surprise !,(3) Adanya informasi gunung es juga tidak ditanggapi dengan langkah antisipasi, bahkan alat pendeteksi gunung es sengaja tidak dimanfaatkan. Dan masih banyak contoh lain dalam film tersebut sebagai guide dalam bidang safety.

Wisata Kreatif

Wisata rekreatif adalah kebutuhan pelancong masa lampau, sekarang mulai begeser ke wisata kreatif. Pergeseran tersebut menggiurkan pelaku industri wisata, baik pemain lama maupun pendatang baru.

Saat ini, venue wisata kreatif banyak bertebaran di berbagai tempat, berlomba menampillan “keunggulan-keunikannya” untuk menyedot wisatawan. Keinginan pengunjung menonjolkan eksistensinya banyak diakomodasi dengan menyediakan game – game menantang, semacam “uji nyali”.

Demikian juga, semakin unik venue wisata, juga semakin menggoda peminatnya. Barangkali hal ini berlaku untuk warung apung di waduk Kedungombo, Boyolali. Namun nampaknya kurang diimbangi dimensi safetynya.

Sekedar catatan, meski jarak tempuh perahu ke warung apung Kedung Ombo hanya 50 meter, kedalaman antara 20-25 meter, namun perahu nahas itu membawa penumpang melebihi kapasitas, ditambah perilaku penumpang yang selfie di ujung perahu sehingga berpengaruh pada “keseimbangan” perahu.

Tidak ada yang memberi informasi kepada penumpang tentang peraturan keselamatan ketika akan menaiki perahu, tidak ada pelampung yang memadai, dan barangkali juga tidak ada yang secara serius menegur apabila penumpangnya melebihi kapasitas perahu dan atau yang melakukan selfie di ujung perahu.

Apakah “nahkoda” perahu mampu mengatur penumpangnya agar selamat sampai tujuan? dan ketika perahu terbalik, apakah “nahkoda” mampu mengambil langkah penyelamatan yang bertanggungjawab?

Saya kira jawabnya sudah dapat diduga, karena “nahkoda” yang membawa perahu naas itu masih tergolong anak – anak dengan usia 13 tahun.

Barangkali motto “utamakan selamat” perlu segera digaungkan untuk memperbaiki manajemen tempat – tempat wisata agar tidak ada penyesalan di kemudian hari. (*)

Baca juga: FOKUS : Klaster Aneh Tepian Kendal

Baca juga: OPINI HAMIDULLOH IBDA: Zakat Produktif untuk Pendidikan

Baca juga: OPINI Guru: Makna Idulfitri di Masa Pandemi

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved