Fokus
FOKUS : Klaster Aneh Tepian Kendal
KAMIS (20/5) mungkin menjadi hari yang tak dilupakan bagi sebagian warga Ngareanak, Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal.
Penulis: deni setiawan | Editor: Catur waskito Edy
Klaster Aneh Tepian Kendal
oleh Deni Setiawan
Wartawan Tribun Jateng
KAMIS (20/5) mungkin menjadi hari yang tak dilupakan bagi sebagian warga Ngareanak, Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal.
Ini bukan kaitannya peringatan Harkitnas, dimana masyarakat diminta hening sejenak pada pukul 10.00, mengumandangkan lagu Indonesia Raya.
Warga di lingkungan RT 02 dan RT 03 RW 05 justru dikejutkan kehadiran sepucuk surat undangan mengikuti tes swab di Puskesmas setempat. Surat sesuai instruksi Dinkes Kabupaten Kendal.
Kian terkejut ketika mereka membaca surat itu. Sebut saja Wahiki, warga setempat. Surat itu menyebutkan bahwa dirinya diduga terpapar Covid-19.
Disebut gejala awal adalah sakit demam. Gejala mayoritas warga, selain batuk dan pilek seperti yang tercantum dalam daftar tracking sampel di dua RT tersebut.
Sekira 58 warga, tertulis bahwa mereka mulai mengalami gejala pada 17 Mei 2021. Meski, ada sebagian di antara mereka sebenarnya tak bergejala. Suatu hal yang aneh baginya. Sebab selama ini, tidak ada satupun pihak yang bertanya langsung padanya, entah itu terkait kondisi kesehatan maupun lainnya.
Tanda tanya besar baginya dan warga lain hingga saat ini. Data dari manakah atau siapakah yang menyodorkannya?
Padahal, bila mengacu pada gejala yang dialami, dia merasakan badan sakit pada pertengahan Ramadan. Tanpa diperintah, dirinya telah berinisiatif bersama keluarga untuk isolasi mandiri.
Bahkan saat Lebaran, dia meminta kepada para saudara maupun tetangga untuk sementara tidak bertamu. Tak cukup di situ, suasana bertambah tak nyaman tatkala ada seorang petugas datang, memanfaatkan pengeras suara di musala untuk memanggil warga. Yang juga terdengar hingga di dusun sekitar.
Imbasnya, warga yang sedang berada di kebun, beranjak pulang. Seorang lansia juga dikabarkan tiba-tiba ambruk dan kini terbaring di kasur. Ada pula warga yang mendadak tensi darah melonjak naik karena kaget dan panik.
Pertanyaannya, apakah etis cara yang dilakukan petugas itu? Apakah ada dalam SOP penanganan Covid-19, dalam misal kaitannya ‘memaksa’ warga untuk tes swab?
Efek sosialnya, mereka kini terasa sedang dijauhi oleh warga lain. Bahkan seorang pedagang klepon yang tinggal di sekitarnya pun terimbas. Dagangan yang biasanya dititipkan di warung-warung, ditolak.
Di sini, sekiranya jadi bahan evaluasi bersama atas kondisi aneh tapi nyata seperti yang disebutkan di atas. Jangan sampai, yang sehat jadi sakit. Yang sakit, bertambah sakit.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/deni-setiawan-wartawan-tribun-jateng.jpg)