Wawancara Eksklusif

WANSUS Dunadi Pembuat Patung Tokoh Nasional Beberkan Rahasia Angka Keramat Bung Karno

Menurutnya, ada cerita menarik saatproses di balik pembuatan patung Bung Karno. Sebelum membuat monumen Bung Karno, kata dia, sempat mengalami hal-hal

Editor: iswidodo
Tribunnews
DUNADI DAN PATUNG BUNG KARNO - Seniman bernama Dunadi (60) telah membuat 15 monumen pendiri bangsa Indonesia, Bung Karno. 

TRIBUNJATENG.COM - Sejak tahun 80-an, Dunadi (60) telah membuat 15 patung pendiri bangsa ini. Dunadi telah meminati dunia seni sejak kecil. Bahkan bakatnya itu mulai terlihat ketika beranjak Sekolah Dasar (SD). Ia memenangi juara pertama lomba lukis se-Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Menurutnya, ada cerita menarik saatproses di balik pembuatan patung Bung Karno. Sebelum membuat monumen Bung Karno, kata dia, sempat mengalami hal-hal gaib. "Ada dari segi mimpi, dari segi lainnya, tapi saya abaikan," tutur Dunadi.

Berikut wawancara khusus Tribun Network bersama Dunadi:

Bagaimana awal mula ketertarikan menggeluti seni patung?

Sejak SD saya sering ikut lomba melukis. Waktu itu dapat pemenang pertama melukis se-Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Di SMP juga demikian. Saya masuk SMA diarahkan ke seni patung.

Berbicara masalah bentuk, dimensi, volume, dan lain-lain. Memang di patung itu tidak ada daya tariknya karena berbicara volume, kalau di lukis bicara masalah warna. Kalau patung banyak tantangan. Di situ lah ketertarikan saya.

Ternyata di patung kan' tidak hanya bikin orang saja, tapi bisa binatang, mengolah suatu bentuk. Yang lebih asik lagi, dasar itu memang realis. Saya tertariknya belajar anatomi, ekspresi, gerak-gerak dinamis, di situ banyak tantangan. Di situlah daya tarik yang saya tekuni.

Di dunia patung memang tidak seperti di dunia lukis. Tahun 1982 saya perdalam di Akademi Seni Rupa Jogja. Saya masuk ke akademi 1982. Saya berlanjut ke Akademi Seni Patung. Sekarang di ISI Yogyakarta. Di situ saya memperdalam dunia patung.

Ternyata tantangannya banyak, kemudian persaingannya tidak banyak. Karena jarang ya waktu itu. Waktu itu yang saya kagumi Pak Edhi Sunarso, Pak Saptoto. Di situ saya sudah terkecimpung di dunia seni patung. Saya mengikuti proyek-proyek.

Proyek pemerintah, proyek bandara, di situlah tantangan-tantangan itu. Setelah itu baru saya berdikari sendiri untuk mendirikan Studio Satiaji. Karena patung tidak harus individu, harus kolaborasi, bagaimana menciptakan seni patung itu kita harus bikin tim.

Kita ide-ide, karena patung itu ada proses perencanaan, maket, baru visualisasi ke skala yang kita inginkan. Dunia patung memang sangat luar biasa. Di dunia seni patung itu marketnya sangat luar biasa. Makanya kita menciptakan lapangan kerja, anak-anak SMA saya beri pelajaran cetak-mencetak, memproduksi patung kecil-kecil.

Seniman itu kan' idealisnya harus kuat. Tapi dengan idealis itu kita butuh uang untuk menciptakan idealis itu. Dari situlah seni patung bisa diproduksi. Dari modal itulah saya bikin tim untuk berkarya. Makanya dari awal saya menciptakan lapangan kerja untuk produk kecil-kecil. Karena marketing itu sangat luas, daerah pariwisata, setiap daerah ada khas tersendiri, cenderimata sendiri.

Dari situ saya tergugah. Walau saya sebagai seniman harus memikirkan bagaimana menciptakan lapangan kerja dan bagaimana menghidupi diri sendiri. Makanya saya juga menciptakan proyek juga karya pribadi atau karya masterpiece. Saya sering pameran produk, kalau pameran masterpiece saya ikut di Galeri Nasional.

Asosiasi Pematung kebetulan saya Sekjen. Dari situ saya menangani proyek pemerintah, individu, menangani museum-museum. Sampai sekarang itu lah kelanjutan dari profesinya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved