Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Fokus

FOKUS : Menyorot Kudus

KABUPATEN Kudus mendadak sontak mendapatkan lampu sorot yang teramat terang. Kali ini bukan lantaran prestasi mencorong anak-anak SMK

Penulis: achiar m permana | Editor: Catur waskito Edy
tribunjateng/bram
Achiar Permana wartawan tribun jateng 

Oleh Achiar M Permana

Wartawan Tribun Jateng

KABUPATEN Kudus mendadak sontak mendapatkan lampu sorot yang teramat terang. Kali ini bukan lantaran prestasi mencorong anak-anak SMK yang menembus catwalk fashion show internasional, seperti terjadi pada pengujung 2018 silam. Bukan pula lantaran pebulutangkis binaan pabrik rokok yang berhomebase di Kota Kretek meraih medali emas Olimpiade.

Sama sekali bukan. Lampu sorot itu justru mengarah pada “prestasi” lain, yang sama sekali tidak menggembirakan: lonjakan kasus Covid-19 yang di luar dugaan. Ya, pascalebaran, terjadi kenaikan yang signifikan dalam kasus Covid-19 di Provinsi Jawa Tengah, dan Kudus menjadi salah satu penyumbang terbesar.

Dalam data tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Kudus, hingga Senin (31/5/2021), jumlah kasus aktif tercatat 1.270 kasus. Dari jumlah itu pasien positif Covid-19 yang dirawat di rumah sakit 298 orang dan 972 orang lainnya menjalani isolasi mandiri.

Jika dibandingkan dengan jumlah kasus pada pertengahan Mei 2021, dengan catatan kasus aktif hanya 137 pasien, lonjakan kasus Covid-19 di Kudus sungguh luar biasa. Sembilan ratus persen alias sembilan kali lipat lebih.

Yang lebih miris, 156 orang tenaga kesehatan di Kudus juga terkonfirmasi positif Covid-19 seiring melonjaknya jumlah kasus positif Covid-19 di daerah tersebut. Ratusan nakes yang di antaranya berprofesi sebagai dokter, perawat dan bidan tersebut bertugas di sejumlah rumah sakit dan puskesmas di Kudus. Dari 156 orang nakes yang terpapar Covid-19 tersebut mayoritas kini sedang menjalani isolasi mandiri dan sebagian kecil dirawat di rumah sakit.

Di luar angka kasus, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus menyebutkan, angka kematian akibat Covid-19 pun melambung tinggi. Bahkan, pada 27 Mei 2021, Kudus mencatatkan rekor jumlah kematian akibat Covid-19, yakni 17 korban meninggal dunia dalam sehari. Angka yang terkonfirmasi tertinggi pada saat ini.

Lonjakan kasus itu juga membuat jumlah tempat tidur yang disediakan tujuh rumah sakit (RS) rujukan di Kabupaten Kudus bagi pasien Covid-19, nyaris habis. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus menunjukkan, dari 367 tempat tidur di tujuh RS itu, tingkat keterisian atau bed occupancy ratio (BOR) mencapai 96,62 persen. Akibatnya, sebagian pasien Covid-19 terpaksa dikirim ke RS di kabupaten/kota lain, termasuk Rumah Sakit Wongsonegoro (RSWN) Kota Semarang.

Tak kurang, Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun turut menyoroti lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi di Kudus. Pemerintah akan menyelidiki apakah lonjakan ini berkaitan dengan varian baru corona.

"Memang Kudus akhir-akhir ini ada peningkatan luar biasa baik dari sisi kasus konfirmasi maupun yang masuk rumah sakit," kata Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, dalam konferensi pers seusai rapat terbatas bersama Jokowi secara tertutup di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (31/5/2021).

Apa yang terjadi? Lonjakan kasus Covid-19 secara sangat signifikan di Kudus salah satunya timbul dari klaster rumah tangga. Hal ini setelah mereka melakukan anjangsana saat Lebaran tanpa mematuhi protokol kesehatan. Penyebaran kenaikan kasus Covid-19 terjadi hampir merata di berbagai kecamatan di Kudus.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Badai Ismoyo menyampaikan, salah satu faktor utama yang menyebabkan lonjakan jumlah pasien terkonfirmasi Covid-19 adalah banyak warga yang mengabaikan protokol kesehatan. "Warga mengira Kudus telah aman dari Covid-19 sehingga protokol kesehatan (prokes) telah benar-benar diabaikan," ungkap Badai.

“Kaya Sampean kuwi lo, Kang, angel dikandhani. Masih keluyuran ke mana-mana,” tiba-tiba Dawir, sedulur batin saya, nyeletuk dari balik tengkuk.

Ya, lampu sorot memang tengah mengarah ke Kudus. Mau tidak mau, Pemkab sebagai leading sector penanganan Covid-19 di daerah harus bergerak cepat untuk memudarkan “warna merah”, warna yang menunjukkan eskalasi kasus Covid-19, yang kini melingkupi Kota Kretek.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved