Breaking News:

Berita Konveksi

TPT Terhantam Importasi Pakaian Jadi Minta Pemerintah Tanggulangi Impor Ilegal dan Impor Borongan

Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT), khususnya pelaku industri kecil menengah (IKM) makin terpuruk akibat importasi pakaian yang masih marak

Editor: Catur waskito Edy
TribunJateng.com/Mazka Hauzan Naufal
Ilustrasi pabrik garmen 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT), khususnya pelaku industri kecil menengah (IKM) makin terpuruk akibat importasi pakaian yang masih marak terjadi. Pelaku industri pun berharap kebijakan safeguard bisa secepatnya dilaksanakan.

Kondisi semakin tertekannya industri TPT tercermin dari rata-rata utilisasi industri TPT yang kembali anjlok menjadi sekitar 55 persen dari yang sebelumnya mencapai 70 persen di akhir 2020.

Di sisi lain, kendati Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia mengalami penguatan, PMI industri TPT justru terkontraksi hingga 13,28 persen di kuartal I/2021.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Jemmy Kartiwa mengatakan, selama ini masih banyak yang berpikir bahwa industri pakaian jadi kebanyakan dikerjakan perusahaan-perusahaan besar.

Tetapi pada kenyataannya, industri pakaian jadi yang besar rata-rata mengerjakan order dari brand ternama dan kebanyakan berada di kawasan berikat. Adapun bahan bakunya mayoritas dipasok oleh pemasok di luar negeri.

Sedangkan kebanyakan produk pakaian yang biasa digunakan rakyat Indonesia, dikerjakan oleh IKM dan UMKM. Kalaupun masih ada industri branded lokal, kebanyakan sudah bekerja sama dengan IKM pola kerja inti dan plasma. Namun, yang perlu digarisbawahi, saat ini pelaku IKM dan UMKM sangat banyak hingga 4 juta tenaga kerja.

"Jika serbuan impor masuk terus-menerus, pelaku usaha IKM dan UMKM tentu sangat terpukul. Impor garmen yang belakangan makin marak adalah hijab dan gamis yang dijual secara online," katanya, dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (10/6).

Sekjen Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen (APSyFI), Redma Gita menuturkan, saat ini kondisi pasar sedang kurang baik karena pandemi covid-19. Dengan hal itu, eharusnya pasar domestik bisa memberikan jaminan pasar bagi pelaku industri lokal.

"Kalau diisi oleh barang-barang impor, tentu kami tidak mendapatkan keuntungannya, karena banyak masyarakat memerlukan penghasilan di tengah pandemi covid-19," jelasnya.

Safeguard 

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved