Wawancara Eksklusif
Laksana Tri Handoko Pernah Kerja di Pom Bensin, Kini Jadi Kepala BRIN
Laksana Tri Handoko memiliki perjalanan karir yang cukup panjang sebelum akhirnya menjadiKepala Badan Riset dan Inovasi (BRIN). Dari bekerja di Pom Be
TRIBUNJATENG.COM - Laksana Tri Handoko memiliki perjalanan karir yang cukup panjang sebelum akhirnya menjadiKepala Badan Riset dan Inovasi (BRIN). Dari bekerja di Pom Bensin, hingga mendapat beasiswa untuk sekolah di era BJ Habibie.
Pria kelahiran 7 Mei 1968 itu sudah tertarik berkecimpung di dunia riset sejak SMA. "Saya ingin jadi periset sejak saat itu," ujar pria yang akrab disapa Handoko.
Disampaikannya saat berbincang bersama Direktur Pemberitaan Tribun Network Febby Mahendra Putra dan Manajer Pemberitaan Tribun Network Rachmat Hidayat.
Handoko menjadi finalis pada Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) LIPI tingkat nasional. Kemudian, ia mendapat kesempatan untuk bertemu langsung dengan Menteri Riset dan Teknologi kala itu, BJ Habibie.
Lalu, ia diterima Universitas Kumamoto, Jepang dengan program studi yang diinginkanya, yakni fisika. Dilanjutkan pada tahun 1993 melanjutkan ke program master di Universitas Hiroshima sampai menyelesaikan program doktornya di bidang teori fisika partikel atau fisika energi tinggi pada tahun 1998.
Di masa menunggu kabar diterima atau tidak saat S2 lanjut ke S3, ucap Handoko, dirinya sempat bekerja di Pom Bensin untuk biaya hidup.
Berikut petikan wawancara bersama Kepala BRIN Laksana Tri Handoko:
Perjalanan karir Anda sejak kecil sampai sekarang seperti apa?
Ya saya tidak menganggap diri saya talen hebat. Biasa-biasa saja. Saya dari kecil dari kota kecil sampai SMA. Sebagaimana anak-anak pada saat itu. Kita juga pengin menjadi periset. Walau belum begitu paham juga. Di lain sisi saya mendaftar beasiswa dari Kemenristek di zaman Pak Habibie.
Jadi Alhamdulillah kedua-duanya diterima. Karena kalau beasiswa tidak perlu bayar, saya pilih beasiswa. Lalu lanjut sampai S3. Kalau tidak lanjut mau ngapain juga kan. Sejujurnya pada waktu itu, kondisi negara kita tidak begitu bagus ya pada saat saya selesai tahun 1997an.
Jadi akhirnya saya putuskan tidak balik dulu. Saya kerja-kerja dulu di luar. Saya di Kumamoto, lalu lanjut di Hiroshima. Kemudian setelah itu saya kerja di Eropa, Italia, Jerman terakhir di Hamburg. Tapi itu buat saya penting karena saya bisa melihat problem manajemen riset di Indonesia. Karena saya punya pengalaman kerja di luar di lembaga-lembaga riset. Sehingga saya bisa membandingkan. Sejak awal saya pulang saya sudah melihat problem itu.
Waktu saya jadi pimpinan di LIPI saya habis-habisan. Kalau tidak ngapain juga jadi pimpinan. Kan percuma jadi pimpinan kalau tidak ngapa-ngapain. Lebih baik jadi periset saja.
Pernah bekerja di Pom bensin? Banyak periset kita yang sukses di luar negeri bagaimana Anda berupaya untuk membujuk mereka untuk kembali ke Indonesia?
Kalau terkait kerja. Kalau di luar negeri ya biasa kita kerja sampingan apalagi waktu itu khususnya saya S1 ke S2 ke S3 kan belum tahu apply sana sini. Jadi waktu libur kita kerja keras. Biar walaupun tidak terima masih bisa hidup lah. Bisa bayar uang SPP dan sebagainya karena kita belum mau pulang.
Terkait dengan diaspora. Itu memang concern saya ketika di LIPI. Itu makanya saat di LIPI sejak 3 tahun terakhir merekrut kandidat baru itu minimal harus S3. Jadi tidak hanya untuk diaspora, tapi juga untuk mereka yang baru lulus. Kalau tidak siapa yang akan merekrut mereka.
Baik yang ke luar negeri dengan beasiswa LPDP atau beasiswa lain atau dalam negeri. Itu kan sedikit banyak dibiayai negara. Jadi itu salah satu introspeksi saya juga. Dari dulu kita suka mengirim orang tapi tidak menyiapkan wadahnya. Kalau sudah selesai mau ngapain.
Padahal S3 baru awal dari kompetensi. Kompetensi sebenarnya belum terbangun, belum matang. Proses pematangan kompetensi itu terjadi setelah dia mulai bekerja di bidangnya, melakukan sesuatu secara aktif. Kalau tidak ada wadahnya pasti dia akan turun terus kompetensi itu.
Itu yang bisa mewadahi ya lembaga riset pemerintah tidak ada yang lain. Karena lembaga riset swasta belum banyak. Maka itu yang mendasari kenapa saya swaktu kepala LIPI kita buat kebijakan seperti itu dan 3 tahun terakhir kita hanya menerima S3 untuk kandidat periset. Baik dari dalam maupun luar negeri.
Saya selalu melakukan hunting. Kalau cari talenta unggul itu harus hunting. Tidak bisa kita buka lowongan terus tunggu kita diam, 30 ribu orang daftar kan tidak begitu. Kalau kita cari talenta ya kita harus hunting. Bisa dari teman-teman PPI di berbagai negara. Kita berharap banyak yang mau kembali ke Indonesia.
Saya menawarkan banyak hal ke teman-teman diaspora khususnya di luar negeri dan yang masih ingin di luar negeri untuk bagaimana memulai kolaborasi dengan teman-teman kita yang ada di dalam negeri.
Kolaborasi yang sedang dilakukan BRIN dan luar negeri itu apa? Indonesia idealnya punya berapa periset?
Kalau kolaborasi riset di berbagai grup riset di BRIN di tempat lain itu banyak. Dan itu yang akan kita perkuat lagi supaya itu berkesinambungan. Terkait dengan jumlah periset di BRIN, kita itu jumlah kurang. Kurang dalam konteks, kita perlu yang unggul, bukan sekedar periset. Jadi komponen utama SDM unggul. Ini yang tidak mudah.
Kita harus tidak hanya merekrut. Setelah merekrut menjaga agar mereka makin unggul. Di situ perlu terobosan skema yang memungkinkan untuk itu. Misal visiting profesor, atau bisa bekerja di sini bersama teman-teman. Itu membuat iklim riset membaik. Terjadi proses transfer knowledge secara alami. Banyak skema yang sudah dikembangkan. Jadi bukan sekedar jumlah tapi juga kualitas. Karena riset itu SDM. (tribun network/denis destryawan)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/laksana-tri-handoko.jpg)