Opini
Opini Marjono : Pinjol Bukan Malaikat
MANUSIA memang wajib berusaha untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Tergiur pinjaman online (pinjol), maka pinjam uang lewat aplikasi maya
Oleh Marjono
Kasubbag Materi Naskah Pimpinan Pemprov Jateng
MANUSIA memang wajib berusaha untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Tergiur pinjaman online (pinjol), maka pinjam uang lewat aplikasi maya menjadi solusi sementara yang terbaik, apalagi jika dihitung masih cukup dana untuk mengangsur selama 3 bulan dengan dengan pagu pinjaman Rp 5 juta.
Tapi, nyatanya pinjol yang diterima hanya Rp 3,7 juta dan bukannya 3 bulan angsuran, malah hanya 7 hari dan hari ke 5 sudah ditagih dengan ragam ancaman. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Itulah kisah kelu AM guru honorer terjebak jalan istan (jateng.tribunnews.com, 3/6/2021).
Hanya keledai yang jatuh di lubang yang sama dua kali. Pepatah ini, dulu, sangatlah populer. Keledai itu binatang bodoh namun keras kepala. Tulisan ini bukan ingin menyamakan perilaku atau keputusan AM setara dengan keledai. Sekali lagi bukan. Namun, kesalahan pertama mestinya menjadi pelajaran berharga baginya, sehingga tak terperangkap ke kubangan yang lebih jauh lagi, lewat cara gali lubang tutup lubang dengan berhutang ke puluhan pinjol lain.
Sebelum melancarkan aksi pinjam uang, sebaiknya matematikanya jalan, karena semua itu penuh risiko. Pinjol yang baik hati ada, pinjol yang buruk hati juga ada. Semua berhitung bisnis. Kewaspadaan, kehati-hatian penting dilakukan ketika mengambil jalan tak biasa. Apalagi tanpa didukung litersi keuangan, terutama soal ke-pinjol-an.
Mawas Diri
Kalau orang jawa bilang, kegedhen empyak kurang cagak. Besar pasak daripada tiang. Semua mesti mawas diri, seberapa kemampuannya, pendapatan yang bisa dibawa pulang, terlepas untuk membeli susu atau kebutuhan lainnya. Jangan sampai hanya memaksakan kehendak justru berulah menjadi blunder. Karena dengan tidak bisa membayar pinjol, risiko tergelar seperti data diri diumbar dengan label bermacam-macam dan cenderung bernada miring. Semua kolega tahu dan rasa malu yang tak terbayar.
Kembali ke pinjol, siapapun mestinya bisa mencoba mencari pinjaman lain ke keluarga, tetangga, kawan, koperasi atau menggadaikan/menjual mungkin sedikit tabungan emasnya. Barangkali cara-cara sederhana itu tidak dilakukan dan peminjam pinjol ini acap punya gengsi tinggi dan malu jika sampai harus berhutang kepada para sahabatnya. Tapi kalau nasi sudah menjadi bubur seperti ini justru ia sendiri dan keluarganya yang menuai malu karena alasan gengsi, jaim, dll.
Kita pahami, mungkin saja aturan pinjol resmi tak demikian, namun rupanya bisa menjadi cacatan kita semua. Perlakuan pinjol ilegal ini bahkan jauh melampui kelakuan para bank thithil atau bank plecit yang acap berkeliling mencari mangsa, siapa yang kepepet butuh bisa dipastikan mereka masuk perangkapnya.
Memang pinjol-pinjol legal dan ilegal pun bisa menjadi dewa penyelamat untuk sesaat, tapi bukan malaikat. Di balik itu harus siap menghadapi risiko yang tak ringan. Begitu juga permainan Bank thithil pun bisa memerankan diri sebagai samaritan bagi warga yang menghadapi jalan buntu dan seolah tak ada pilihan.
Membaca dan melihat berbagai kasus pinjol dengan tetek bengek problema bagi nasabahnya, saat itu mungkin berjanji akan kapok tak akan pinjam lagi ke pinjol, tapi ketika diburu deadline melunasi pembayaran kebutuhan mendesak, suka tak suka kita berkarib lagi dan lagi. Memang kita itu tega larane, ora tega patine.
Maka kemudian, agar kita tak terjerembab ke dalam kawah pinjol ilegal, nampaknya beberapa hal ini bisa ditempuh. Pertama, menjadi orang jujur. Caranya dengan menurunkan ego sedikit merendahkan mutu barangkali saat kita kepepet tak ada dana regular bahkan cadangan hingga kita harus berhutang ke orang lain atau lembaga keuangan lainnya.
Mau Belajar
Kedua, mencoba mendayagunakan barang-barang yang dianggap sampah atau limbah untuk diolah menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi, ketiga, bisa saja mencoba berbisnis on line atas hasil kreasi dan inovasi kita sendiri atau keluarga. Keempat, tak kurang baik meningkatkan kapasitas literasi keuangan khususnya per-pinjol-an. Mending pinjam ke pinjol resmi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/marjono_20180915_125910.jpg)