Berita Boyolali
Terlanjur Mandikan Jenazah Terpapar Covid-19, Satu Dukuh di Boyolali Dilockdown
Satu dukuh di Desa Metuk, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali terpaksa harus lockdown. Hal tersebut imbah dari warga yang tidak tahu memandikan
TRIBUNAJTENG.COM, BOYOLALI - Satu dukuh di Desa Metuk, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali terpaksa harus lockdown.
Hal tersebut imbah dari warga yang tidak tahu memandikan jenazah pasien covid-19.
Infromasi yang dihimpun TribunSolo.com, kejadian ini bermula ketika ada seorang warga meninggal.
Kemudian, warga memandikan bersama-sama jenazah orang yang meninggal tersebut.
Namun, saat itu mereka tidak tahu kalau jenazah tersebut ternyata pasien positif corona.
Mereka baru mengetahui ketika hasil swab PCR almarhum keluar dan hasilnya positif.
Setelah mengetahui fakta yang terjadi, warga pun menjadi resah.
Sehingga mereka difasilitasi Puskesmas setempat dilakukan swab antigen.
Hasilnya, puluhan warga diketahui positif dan harus menjalani isolasi mandiri di rumah masing- masing.
Sementara itu, Sekcam Mojosongo Agnes Mahendrowati mengungkapkan, satu Dukuh di Desa Methuk dilockdown karena untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.
Baca juga: Mulatmi Boyolali Mendadak Meninggal Saat Ngobrol di Kosan Sukoharjo, Sebentar Lagi Mantu
Baca juga: 33 Warga Kudus Batal Karantina ke Donohudan Boyolali: Swab Negatif
“Pasalnya, terdapat puluhan warga positif Covid-19,” kata Agnes kepada TribunSolo.com, Selasa (15/6/2021).
Agnes mengatakan, ada sekitar 50 warga menjalani swab PCR.
Dia mengatakan, pemeriksaan puluhan warga untuk swab PCR dilakukan di aula balai desa setempat pada Selasa (15/6/2021) pagi.
“Sehingga hasilnya belum diketahui, Kami berharap jumlah warga yang positif tidak bertambah," harapnya.
Perangkat Desa Metuk Positif Corona
Kantor Desa Metuk, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali lockdown mulai Senin (14/6/2021).
Tutupnya kantor tersebut imbas dari satu perangkat desa terpapar Covid-19.
Sekcam Mojosongo Agnes Mahendrowati mengatakan, penutupan kantor desa tersebut dilakukan selama tiga hari.
"Kami menutup kantor desa Metuk selama 3 hari karena ada satu perangkat desa di Desa Metuk terpapar Covid-19, " ucap Agnes, kepada TribunSolo.com, Selasa (15/6/2021).
Agnes mengatakan, perangkat desa dalam kondisi baik-baik saja.
Meskipun begitu, pasien tersebut tetap diminta isolasi mandiri.
“Saat ini yang bersangkutan menjalani isolasi mandiri di rumahnya,” tutur Agnes.
Dia meminta masyarakat agar maklum dengan kondisi yang ada.
Kegiatan pelayanan masyarakat di kantor desa tersebut sementara dihentikan.
“Kalau mendesak, kami bisa memfasilitasi di Kecamatan, namun hingga kini belum ada yang mengurus surat- surat," kata Agnes.
Ia mengatakan, pihaknya melakukan penyemprotan disinfektan di seluruh kawasan balai desa tersebut.
Hal itu supaya virus Covid-19 di kawasan itu mati dan tidak menyebar.
“Covid-19 masih mengancam, jadi kami ingatkan seluruh masyarakat agar tetap menerapkan prokes secara ketat," pungkasnya.
Varian Corona Delta
Kabar soal varian baru virus corona yakni corona B.1.617.2 atau Delta memang membuat publik makin was-was sekaligus penasaran.
TribunSolo.com mencoba menghubungi pakar dari UGM terkait penjelasan transmisi virus corona baru tersebut.
Ketua Kelompok Kerja Genetik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM Yogyakarta Gunadi menyatakan, bahwa varian virus corona B.1.617.2 atau dikatakan Delta tingkat penularannya lebih tinggi dibanding dengan varian sebelumnya.
"Lebih cepat menular dari varian virus corona yang sebelumnya," katanya kepada TribunSolo.com, Selasa (15/6/2021).
Hal itu sudah dibuktikan oleh Public Health Service di Inggris disebutkan transmisinya lebih tinggi.
"Para epidemiolog di sana menyebutkan tingkat transmisinya 50-60 persen," ungkap Gunadi.
Apabila ada orang yang terpapar virus ini, kekebalan tubuhnya dapat menurun.
"Respons imun tubuh dengan virus yang masuk akan berkurang," paparnya.
Bahkan walau orang tersebut sudah divaksin respons akan menurun.
Di sisi lain, pihaknya telah meneliti pengurutan genom lengkap atau Whole Genome Sequencing (WGS) terkait adanya lonjakan kasus Covid-19 di Kudus.
"Ada 70 spesimen yang kami uji tapi yang kami terima hanya 37. Yang sisanya dibawa ke Salatiga," katanya.
Dari penelitian itu ada 28 dari 34 atau sekitar 82 persen ialah varian Delta.
Untuk diketahui, WGS merupakan proses menentukan urutan DNA lengkap dari suatu genom organisme pada satu waktu.
Swab Dadakan di Solo
Razia swab antigen dadakan yang dilakukan Satgas Covid-19 dan tim gabungan di Alun-Alun Kidul Solo merupakan bentuk antisipasi penularan Covid-19.
Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka mengatakan, razia tersebut untuk menertibkan masyarakat yang masih abai dengan protokol kesehatan (prokes).
Dia menilai tim gabungan bergerak cepat untuk langsung melakukan razia tersebut.
Hal ini merupakan respon yang baik sebagai semangat bersama melawan Covid-19 di Kota Solo.
“Ya kemarin dibahas di rapat, langsung gercep tadi malam sudah digelar operasi yustisi prokes,” kata Gibran kepada TribunSolo.com, Selasa (1/6/2021).
“Alhamdulillah yang dites kemarin semuanya negatif, jadi aman,” tambahnya.
Nantinya kegiatan ini akan terus dilakukan dengan menyasar lokasi keramain di Kota Solo.
"Tempat- tempat yang mengundang keramaian, terutama malah hari kita sasar,” paparnya.
“Bukan mencari kesalahan, tapi memastikan saja, biar warganya (Solo) sehat,” ungkapnya.
Pengunjung Alun - Alun Terjaring Razia
Puluhan pengunjung Alun-Alun Kidul Solo yang melanggar protokol kesehatan langsung menjalani Swab Antigen di tempat, Senin (31/5/2021) malam.
Pantauan TribunSolo.com, petugas datang pukul 20.00 WIB.
Ada sebanyak 54 pengunjung yang tidak memakai masker terjaring razia.
Kabag Ops Polresta Solo, Kompol Sukarda mengungkapkan, penegakan protokol kesehatan menyasar masyarakat yang langgar prokes.
"Potensi terjadi penularan covid-19 akan ditindak secara tegas, bagi yang langgar prokes," ungkapnya kepada TribunSolo.com, Senin (31/5/2021).
Ia menambahkan, penindakan tidak hanya di berlakukan di Alun-Alun Kidul, Solo.
"Ini pertama kali dilalukan, fokus masih di Alun-Alun Kidul, tidak menutup kemungkinan tempat lainya," ungkapnya.
Dia mengatakan, pengunjung yang datang harus mematuhi protokol kesehatan.
"Yang mau makan atau berkunjung silahkan saja, asalkan sesui aturan yang ada," tegasnya.
Selanjutnya, apabila ada penggunjung yang hasil swab antigen reaktif akan dilalukan karantina.
"Langsung akan dikirim ke Asrama Donoyudan untuk karantina mandiri," jelasnya.
Namun dari hasil razia mulai pukul 20.00 - 21.30 WIB yang berjumlah 67 orang tidak ditemukan masayarakat dengan hasil positif.
Batal Gelar Resepsi Gegara Corona
Suami dari mempelai wanita yang positif corona ternyata ikut terpapar.
Itu diketahui setelah dilakukan tracing setelah sang mempelai wanita dinyatakan positif corona.
Resepsi yang mereka rencanakan juga gagal digelar di Desa Blimbing, Kecamatan Sambirejo, Kabupaten Sragen.
Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati membenarkan kabar tersebut, saat ditemui Senin (31/05/2021).
"Iya memang ada, sebenarnya hari Sabtu itu," katanya kepada TribunSolo.com, Senin (31/05/2021).
Dia mengatakan, awal mula mempelai perempuan diketahui positif corona adalah saat melakukan pemeriksaan di rumah sakit.
Setelah melangsungkan akad nikah, mempelai wanita diketahui hamil, namun tak berselang lama mengalami keguguran.
"Setelah dibersihkan ke rumah sakit, semua yang memerlukan tindakan medis harus dilakukan swab antigen, ternyata hasilnya positif," paparnya.
Dari satgas covid-19 tingkat kecamatan langsung melakukan tracing, terutama kepada orang terdekat mempelai wanita.
"Kita lakukan tracing ke orang terdekat, yang tentunya suami dan keluarga inti, ternyata juga positif," tambahnya.
Banyaknya anggota keluarga yang terpapar virus corona, satgas terpaksa membatalkan hajatan yang tinggal menunggu jam tersebut.
"Pada hari Minggunya kan akan menggelar resepsi, terpaksa kita batalkan, jadi ketemu sebelum resepsi, itu yang harus kita jaga (pencegahan)," kata dia.
Dikarenakan belum menggelar hajatan, maka penularan tersebut masih dalam kategori klaster keluarga.
Terkait penyebaran penularan yang terjadi, hari ini satgas telah kembali melakukan tes swab kepada orang yang diduga pernah kontak dengan pasien.
"Bisa juga yang rewang berhari-hari ini pun kita akan lakukan swab juga hari ini, hasilnya belum keluar," pungkasnya.
Rapid Antigen Hajatan
Razia rapid test antigen secara acak pada gelaran hajatan di Sragen sempat menjadi perbincangan hangat di media sosial (medsos).
Aksi yang dilakukan Satgas Covid-19 di Sragen tersebut banyak beredar di Medsos.
Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati mengatakan, berbagai antisipasi penularan Covid-19 di Sragen sudah dilakukan.
Hal tersebut termasuk rapid antigen secara acak di acara hajatan.
Apalagi, ada prediksi meningkatnya kasus Covid-19 setelah libur lebaran.
"Kemarin disetiap perhelatan hajatan masyarakat juga melakukan tes secara random, untuk memberikan efek jera, agar prokes tidak hanya sekedar tulisan," paparnya kepada TribunSolo.com, Senin (31/05/2021).
Selain bicara soal razia rapid antigen, Yuni juga memaparkan soal kondisi keterisian bed di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro.
Dia mengatakan, saat ini bed Covid-19 telah mencapai 66 persen.
Bed kita saat ini sudah 66 persen di RSUD, sedangkan standar aman dari Kemenkes kan sekitar 60 persen," tambahnya.
Selain di RSUD, ketersediaan bed di Technopark Sragen masih tersisa banyak.
"Saat ini, di Technopark ada 102 pasien dari total 260 bed," katanya.
Di tengah pandemi corona saat ini, dia menyebutkan perekonomian tetap harus berjalan.
"Iya ekonomi tetap jalan, yang penting kita himbau kepada masyarakat untuk tetap menjalankan protokol kesehatan," pungkasnya.(*
Artikel ini telah tayang di TribunSolo.com dengan judul Nasib Warga Metuk Boyolali: Telanjur Mandikan Jenazah Pasien Positif Corona, Kini Dukuhnya Lockdown
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/penampakan-dukuh-di-desa-metuk-kecamatan-mojosongo-kabupaten-boyolali-dilockdown.jpg)