Breaking News:

Berita Simpanglima

Dampak Penutupan Jalan terhadap Penjualan Handphone di Plaza Simpanglima Semarang

Penutupan sejumlah ruas jalan di Kota Kota Semarang yang diberlakukan sejak Jumat (18/6), pukul 22.00, hingga 2 pekan ke depan

Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: Catur waskito Edy
Tribun Jateng/ Ruth Novita Lusiani
Suasana di Plasa Simpang Lima Semarang, terlihat beberapa pengunjung sedang melihat-lihat toko handphone yang ada, Kamis, (12/3/2020). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Penutupan sejumlah ruas jalan di Kota Kota Semarang yang diberlakukan sejak Jumat (18/6), pukul 22.00, hingga 2 pekan ke depan mulai memberikan dampak bagi sejumlah usaha, termasuk toko-toko ritel gawai yang melibatkan para pekerja.

Hal itu seperti diungkapkan Sandy Saputra, Front liner di gerai Sinar Mas Selluler Plaza Simpanglima Semarang. Menurut dia, sejak diberlakukan penutupan delapan ruas jalan di Kota Semarang itu, pusat perbelanjaan yang didominasi barang elektronik tersebut menjadi sepi pengunjung.

Akibatnya, pembeli di tokonya pun sepi, sehingga turut berdampak terhadap karyawan yang kesulitan mencapai target.

"Dampak penutupan jalan itu yang jelas penjualan menurun, itu yang pertama. Promotor-promotor kami banyak yang sambat, mengeluh karena susah mencapai target kalau kondisinya seperti ini," katanya, saat ditemui Tribun Jateng, Minggu (20/6).

Sandy menyebut, sepinya pengunjung di tokonya sudah terlihat sejak Sabtu lalu, dan berlanjut hingga Minggu kemarin. Dibandingkan dengan kondisi pada akhir pekan sebelumnya, jumlah pengunjung berkurang drastis.

Ia berujar, dalam beberapa waktu terakhir mal ramai pengunjung dan tokonya pun sudah mulai mengalami peningkatan penjualan dibandingkan dengan awal pandemi covid-19 menerpa. Namun pada akhir pekan ini, penjualan kembali anjlok akibat minimnya pengunjung di Plaza Simpanglima Semarang.

"Penurunan lumayan drastis. Sebelum jalan ditutup sudah lumayan, tetapi setelah ditutup mulai balik lagi seperti saat awal covid-19 merebak tahun lalu. Kemarin-kemarin sudah cukup lumayan, penjualan hampir mencapai 80 persen," tuturnya.

"Namun dua hari ini turun lagi menjadi 50 persen, dari yang biasanya bisa menjual sekitar 15 unit per hari untuk semua tipe smartphone, sekarang hanya tujuh sampai delapan unit per hari," terangnya.

Untuk menyiasati sepinya pengunjung, Sandy menuturkan, para pekerja di gerai ponsel tersebut lebih banyak menawarkan transaksi secara daring dan sistem COD. Meski begitu, para pekerja tersebut mengakui cara tersebut hanya menyumbang sebagian kecil penjualan.

"Setiap hari kami juga menjual secara online dan melayani COD, jadi user yang COD tinggal chat melalui WhatsApp, kami yang kemudian kami mengantar. Tapi ya sebenarnya potensi penjualan terbanyak tetap secara offline, sedangkan online dan COD hanya 10-20 persen (komposisi penjualan-Red). Kami tetap ikut aturan pemerintah, soalnya kan juga lagi rawan-rawannya," paparnya.

Senada diungkapkan Andi Triono, Kepala Toko SMS Shop Asia Store Plaza Simpanglima Semarang. Menurut dia, penutupan jalan di sejumlah ruas Kota Semarang merupakan kondisi yang dilematis.

Di satu sisi, menurut dia, penutupan jalan tersebut dianggap dapat mengurangi mobilitas masyarakat, sehingga dapat mengantisipasi banyaknya kerumunan. Namun di sisi lain, perekonomian menjadi terhambat karena sepinya pengunjung di pusat perbelanjaan tersebut.

"Biasanya weekend seperti ini ada lonjakan pengunjung, sekarang ya sepi begini. Kemarin-kemarin bisa menjual setidaknya 10 unit per hari, sekarang sejak Sabtu itu hanya bisa terjual sekitar lima unit sehari," jelasnya.

Bisnis ritel

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy N Mandey mengubah proyeksi bisnis ritel, menyusul perkembangan lonjakan kasus covid-19 pada akhir kuartal II ini.

Awalnya, Aprindo memprediksi bisnis ritel bisa tumbuh di kisaran 2,5-3 persen dibandingkan dengan pertumbuhan pada 2020 yang hanya di kisaran 1,4 persen. Kini, ia memprediksi pertumbuhan tahun ini di kisaran 1,5 persen.

Menurut dia, bisnis ritel bisa mengulangi pertumbuhan landai yang tercetak pada tahun lalu karena kehilangan potensi penjualan pada periode Juni sampai Agustus.

“Kami harap dengan kebijakan PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat) mikro yang ketat lonjakan kasus bisa ditanggulangi dalam kurun Juli sampai Agustus. Artinya terjadi ketika low season penjualan ritel.

Artinya, performa kurang baik hanya pada bulan-bulan setelah Lebaran yang kecenderungannya memang turun,” katanya, akhir pekan lalu.

Jika aktivitas perekonomian mulai membaik pada akhir Agustus sampai awal September dan berlanjut ke akhir tahun, Roy menyatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa dipertahankan di kisaran 3 persen. Dengan demikian, penjualan ritel yang erat kaitannya dengan konsumsi domestik dapat ikut tumbuh di kisaran 1,2 sampai 1,5 persen.

“Kami menganggap ini sebagai badai 2021, bedanya dengan badai 2020 adalah momennya setelah Lebaran atau low season. Berbeda dengan tahun lalu yang terjadi sebelum Ramadan Lebaran,” ucapnya.

Belajar dari pengalaman tahun lalu, ia berharap pemerintah tidak melakukan pembatasan mobilitas yang ekstrem, karena dinilai tidak efektif dalam menanggulangi pandemi dan menjaga roda ekonomi. Roy mengharapkan supaya sektor-sektor vital seperti perdagangan ritel tetap diberi izin beroperasi dan didukung agar bisa terus berkontribusi pada perekonomian.

“Karena 2021 ada harapan pemulihan ekonomi, kebijakan gas dan rem itu kami harap dapat maksimal. Yang digas adalah sektor perdagangan yang terdampak. Bagaimana caranya yang berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi, terutama yang menopang konsumsi tetap diberi jaminan operasional. Kami ingin 12 jam beroperasi agar tidak ada kerumunan,” terangnya. (idy/bisnis.com)

Baca juga: Dinda Hauw | Aktris Bahagia dan Haru

Baca juga: PREVIEW EURO 2020: Menanti Tiga Serangkai Beraksi di Laga Finlandia vs Belgia

Baca juga: Anggota TNI Dikeroyok 10 Preman, Berawal DMH Minta Uang Parkir secara Kasar

Baca juga: BERITA LENGKAP : Hanya 42% Tertampung di Sekolah Negeri

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved