Breaking News:

Berita Sragen

Atasi Stunting, Luluk Sarankan Bansos Keluarga yang Stunting Berbeda

Anggota DPR RI Komisi IV minta bantuan sosial kepada keluarga yang stunting berbeda dengan masyarakat lain.

Penulis: Mahfira Putri Maulani | Editor: sujarwo
Tribun Jateng/Mahfira Putri Maulani
Pemberian bantuan berupa ikan serta olahan ikan dalam rangka Bulan Mutu Karantina di Balai Desa Bedoro, Sambungmacan Sragen, Rabu (23/6/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, SRAGEN – Anggota DPR RI Komisi IV fraksi PKB, Luluk Nur Hamidah meminta bantuan sosial kepada keluarga yang stunting berbeda dengan masyarakat lain.

Hal ini dikarenakan kebutuhan keluarga stunting berbeda dibandingkan keluarga lain, sehingga perlu adanya perbedaan komposisi bantuan yang diberikan.

Hal itu disampaikannya usai memberikan bantuan sosial dalam rangka Bulan Mutu Karantina di Balai Desa Bedoro, Kecamatan Sambungmacan, Sragen, Rabu (23/6/2021.

"Kita ubah bantuan sosial yang selama ini ditangani oleh Kemensos misalnya itu hendaknya diperhatikan betul,"

"Yang namanya paket bantuan untuk keluarga yang punya stunting itu nggak boleh sama dengan keluarga miskin yang lainnya karena berbeda kebutuhannya," kaya Luluk.

Dalam hal ini, data dikatakannya sangatlah penting data yang ada harus valid dan akurat. Sehingga akan bisa dipilah di satu desa BLT atau bansos yang berupa sembako itu bisa dipisahkan antara keluarga yang punya stunting dan tidak.

Keluarga yang punya stunting isian dari bantuan sembako bisa dibedakan, bisa disertakan bantuan berupa ikan atau sejenis olahan ikan.

Selain itu termasuk beras, Luluk merekomendasikan untuk bisa menggunakan beras nutrising. Beras ini saat ini sudah mulai dikembangkan oleh balitbang pertanian.

"Ini beras khusus yang memang dari padi dan benih hasil inovasi yang diciptakan Balitbang pertanian untuk bisa mencegah dan menangani stunting. Nilai protein lebih tinggi dibandingkan beras biasanya," lanjut Luluk.

Selain itu, dirinya juga meminta susu kental manis sudah tidak boleh diberikan dalam bansos karena kandungannya merupakan gula dan tidak layak konsumsi.

"Kalau Indonesia tidak mau punya masala dikemudian hari, daya saing kita ditentukan oleh seberapa kuat kita melahirkan generasi yang sehat," katanya.

Adanya stunting dikatakan Luluk adanya kondisi kekurangan gizi yang sangat akut yang itu sudah berjalan sangat lama. Bahkan semenjak  janin di dalam kandungan.

Dirinya mengatakan asupan gizi dan protein memang dibutuhkan untuk tumbuh kembangnya janin. Selain itu kondisi lingkungan yang relatif kurang sehat juga menjadi faktor.

"Misalnya soal sanitasi dan air bersih itu juga turut mempengaruhi, selain itu juga aspek budaya. Misalnya ibu hamil itu diajarin nggak boleh makanan yang serba ikan alasannya nanti anaknya amis. Padahal ibu hamil membutuhkan protein," katanya.

Luluk mengatakan makanan yang protein dan bergizi itu harusnya diberikan sebanyak mungkin sesuai dengan kebutuhan, baik kepada ibu ataupun janinnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved