Berita Semarang
Merekam Aktivitas Kurir di Tengah Maraknya Sistem COD dan Penerapan PKM di Kota Semarang
Tak terasa hampir setengah hari, Yoga bergelut dengan jalanan untuk mengirimkan paket ke pelanggan.
Penulis: budi susanto | Editor: sujarwo
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Tak terasa hampir setengah hari, Yoga warga Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, bergelut dengan jalanan untuk mengirimkan paket ke pelanggan.
Ratusan paket yang ia bawa di dalam tas besar yang ada di motor
nya pun hanya tinggal beberapa buah.
Meski hari semakin larut, namun pria 35 tahun yang bekerja sebagai kurir di salah satu perusahaan pengiriman itu masih tetap bersemangat.
Merebaknya sistem Cash On Delivery (COD), yang acap kali menjadi cerita pahit bagi para kurir, serta pembatasan di tengah pandemi, seolah menjadi bumbu penyedap pekerjaan yang dilakoni yoga.
Rabu (23/6/2021) malam Yoga kembali bersiap, setelah melepas lelah sembari bercengkerama dengan orang yang ia temui di mini market yang ada di wilayah Kecamatan Semarang Barat, yang hendak tutup.
Sebelum berangkat, ia melakukan kroscek alamat yang hendak ia tuju menggunakan telpon genggamnya untuk mengirim sejumlah barang.
Setelah itu, ia kembali menunggangi kuda besi yang dihiasi tas besar berisi sejumlah paket pada jog belakang.
“Arah Ngemplak Simongan sekitar Klenteng Sampookong,” tuturnya sembari memutar gas kendaraan berjenis scooter matic berwarna hitam itu.
Ditemani rintik air hujan, Yoga melaju menuju alamat penerima barang yang sudah ia cek di list pelanggannya.
Tak terasa delapan alamat sudah ia datangi, dan paket yang dipesan pelanggannya sudah diterima.
Meski demikian ia tak langsung pulang, karena masih ada paket yang harus ia antar ke pelanggan lainnya.
Di tengah kesibukannya, Yoga sempat menceritakan kejadian yang ia alami saat mengirim barang melalui sistem COD.
“COD kadang menyusahkan, misalnya saat didatangi ke alamat tujuan tidak ada orangnya. Kadang juga ada pemesan barang, belum punya uang untuk membayar, dan meminta untuk datang esok hari. Saat didatangi lagi masih sama, dan tidak jadi beli, padahal kurir mengabdi akan waktu untuk datang, apalagi kalau bungkusan paket dibuka pemesan dan tak mau bayar, alhasil yang nanggung biaya COD kurirnya,” jelasnya.
Dilanjutkan Yoga, pernah ada yang memesan barang melalui sistem COD, yang katanya jam tangan senilai Rp 1 juta lebih.