Berita Viral
Panic Buying Susu Beruang, Pengamat: Ada Saja Orang Berhati jahat saat Rakyat Sengsara
Susu beruang atau bear brand mendadak menjadi serbuan pembeli sejak jelang pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: muslimah
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Susu beruang atau bear brand mendadak menjadi serbuan pembeli sejak jelang pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat.
Produk ini menjadi incaran para konsumen hingga menimbulkan kelangkaan di sejumlah supermarket.
Seperti di Semarang, Darwadi Store Manager Gelael menuturkan, produk susu tersebut telah habis diburu pembeli sejak pekan lalu.
"Susu bear brand kosong, habis sejak hari Jumat (2/7) kemarin," kata Darwadi saat dihubungi tribunjateng.com, Minggu (4/7/2021).
Begitu juga di Superindo, Bangkit Manager Store menuturkan, produk ini pun telah habis diburu pembeli.
"Kalau di Superindo Kudus sudah kosong sejak kurang lebih dua minggu yang lalu," kata Bangkit.
Beberapa toko menyebut, tak mengetahui sampai kapan kelangkaan produk tersebut.
"Ketersediaan kembali secepatnya," jelas Darwadi.
Pengamat sosial dari Unika Soegijopranoto Semarang, Drs Hermawan Pancasiwi BA MSi menuturkan, adanya panic buying oleh sejumlah konsumen yang kali ini menyasar produk susu beruang tersebut merupakan sebuah infodemic.
Menurut Hermawan, jika dikaitkan dengan pandemi Covid-19 ini, sejumlah masyarakat telah menjadi korban hoax yang secara bersama-sama menimbulkan adanya histeria massa.
"Jadi, mereka itu sebenarnya korban infodemic lalu tercipta histeria masa, orang kemudian menyerbu ke mana-mana," kata Hermawan saat dihubungi tribunjateng.com, Senin (5/7/2021).
Hermawan menerangkan, panic buying sendiri telah menjadi hal yang lumrah terjadi di tengah lonjakan kasus Covid-19 seperti sekarang ini.
Kondisi yang mengkhawatirkan bagi masyarakat tersebut, kata dia, memicu munculnya pemikiran yang tidak rasional.
"Misalnya susu beruang itu. Kalau itu gambarnya sapi, orang akan menganggap hal biasa. Tetapi ketika itu gambarnya beruang lalu orang mengada-ada cerita lalu mencoba untuk mengonstruksi cerita lalu memviralkan lewat media sosial dan lainnya agar masyarakat terkecoh dengan itu, inilah yang sebetulnya disebut dengan korban dari infodemic.
Dan sungguh ini bukan hanya masalah susu beruang, tetapi Ivermectin dan juga obat-obat lain juga sudah mulai banyak yang diserbu orang. Bahkan sekarang juga (tabung) oksigen," paparnya.
Hermawan lantas menyebutkan, adanya infodemic yang kemudian memunculkan sebuah histeria masa itu kata dia, menjadi sasaran empuk bagi orang-orang yang ingin mencari keuntungan.
Adapun dari kacamata sosial, menurutnya, hal itu merupakan sebuah tindakan jahat di tengah pandemi sebab menyengsarakan banyak orang.
"Saya kira itu wajar bagi orang-orang yang berhati jahat dan selalu saja ada orang-orang berhati jahat yang berusaha mencari keuntungan dari kesengsaraan rakyat dan sebagainya.
Jika diingat dulu pertama kali pandemi harga masker yang awalnya Rp 50 ribu bisa menjadi Rp 400 ribu per/box. Kemudian Ivermectin itu sekarang bisa juga, dulu yang hanya Rp 7.500 bisa saja menjadi Rp 75 ribu dan sebagainya.
Itu suatu kondisi yang seringkali terjadi dalam situasi krusial seperti sekarang ini. Tetapi bahwasanya ini jahat dan harus diperangi. Saya tidak heran jika Menteri Luhut meminta kepada Kapolri untuk menindak tegas kepada para penimbun obat-obatan itu," tukasnya. (idy)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/warga-berebut-susu-beruang.jpg)