Senin, 4 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Fokus

Fokus : Pemerintah, Kau Terlalu Baik

COBALAH sejenak menengok permasalahan umum di lingkungan kita masing-masing. Apakah pernah merasakannya atau tidak

Tayang:
tribunjateng/grafis/bram
Deni Setiawan Wartawan Tribun Jateng 

oleh Deni Setiawan

Wartawan Tribun Jateng

COBALAH sejenak menengok permasalahan umum di lingkungan kita masing-masing. Apakah pernah merasakannya atau tidak. Ambil satu contoh terkait infrastruktur jalan perkampungan.

Di saat kondisi jalan rusak atau masih bebatuan, tak sedikit yang memprotes. Menganggap pemerintah tidak peduli, bahkan mungkin menuduh dana digelapkan atau dikorupsi.

Begitu jalan tersebut dicor beton atau diaspal dan menjadi mulus, sebagian pengendara yang tak sadar bila itu adalah jalan perkampungan.

Mereka sesuka hati melajukan kendaraannya secara kencang –mungkin sebagai luapan kegembiraan karena jalan semula bebatuan, kini sudah mulus--.

Dikarena di lingkungan tersebut banyak anak-anak, dibuatkanlah ‘polisi tidur’, yang mana tujuannya sebagai peringatan tak langsung agar para pengendara berhati-hati, tidak ngebut karena itu adalah jalan perkampungan.

Namun apa jadinya? Yang dilakukan itu justru diprotes. Para pengendara itu berdalih, jalan sudah bagus malah dibuat jelek, menghambat laju kendaraan, dan lain sebagainya.

Ya, itu contoh kecil dan dirasa sudah umum terjadi di lingkungan tingkat RT maupun RW. Belum lagi hal yang melibatkan makin banyak orang. Apalagi jika dikaitkan dengan beragam kepentingan.

Serba salah, serba membingungkan dalam bertindak. Selalu ada pro dan kontra atas segala kebijakan. Sama seperti saat ini yang mungkin sedang dihadapi pemerintah, mulai dari tingkat atas hingga paling bawah.

Suatu kondisi dimana saat ini sedang bersama-sama menghadapi masa pandemi yang belum berakhir sejak Maret 2020.

Bahkan saat ini disebut-sebut memasuki gelombang kedua, dimana terjadi lonjakan kasus cukup signifikan, khususnya pasca Lebaran.

Namun sebagian di antara kita justru mencela, mengeluh, berpikir negatif atas kebijakan yang sedang ditempuh pemerintah. Tanpa kemudian ikut membantu meringankan beban, memberikan solusi, serta mengeksekusinya bersama.

Bayangkan ketika pemerintah acuh, tidak peduli atas kondisi pandemi seperti saat ini. Ketika ada seseorang terpapar virus, diabaikan. Jikapun ditangani, cukup biasa-biasa saja, seadanya, anggap saja itu virus biasa.

Bila semisal ada yang tidak tertolong, anggap saja sudah kehendak Tuhan, tanpa perlu ada upaya lebih untuk memutus mata rantai penularan, meminimalisir risikonya.

Apakah itu dilakukan pemerintah? Segala usaha telah dilakukan sejak awal diketahui virus tersebut masuk ke Indonesia. Beragam bantuan disalurkan untuk warga terdampak kebijakan.

Bahkan hingga kini, pemerintah masih terlalu baik. Sudah berapa banyak dana yang digelontorkan dan tenaga dikerahkan, pandemi ini belum juga berakhir. Kontra masyarakat pun semakin meledak-ledak.

Tak dimungkiri memang, secara umum sifat dasar manusia adalah tidak puas. Namun pula tidak selalu ketidakpuasan itu dengan tindakan yang buruk. Seperti yang pernah diutarakan Thomas Alva Edison.

Baginya, ketidakpuasaan adalah hal pertama yang diperlukan untuk sebuah kemajuan. Dirinya pun telah membuktikannya, dimana dia berhasil menciptakan bola lampu pijar setelah 10.083 kali percobaan mengalami kegagalan.

Semoga saja pemerintah masih baik, tidak ikut jenuh dalam menghadapi persoalan pandemi yang sedang dihadapi saat ini. Doa bersama tentunya, pandemi dalam waktu dekat ini dapat berakhir. (*)

Baca juga: Khutbah Jumat Singkat Hikmah Zulhijah

Baca juga: Video PPKM Darurat Tegal, 36 Jalan Dipasangi Beton Mobilitas Masih Tinggi

Baca juga: Video Syarat Lewati Penutupan Pintu Tol di Jateng

Baca juga: Takut Jarum Suntik dan Punya Penyakit Bawaan Jadi Kendala Sedulur Plasma Semarang Jaring DPK

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved