Breaking News:

Wawancara Eksklusif

WANSUS Addie MS Pendiri Twilite Orchestra, Bicara Musik dan Politik

Komposer Indonesia, Addie MS menceritakan perjalanan karinya membangun Twilite Orchestra.

Editor: iswidodo
wartakota
Addie MS Pendiri Twilite Orchestra 

Aktivitas sosial, cukup intens. Sebelum PPKM Darurat. Saya sempatkan sebelum pulang ada ngasih sumbangan alat kesehatan, masker segala macem, mungkin tidak cukup, tapi mengingatkan sesama untuk saling memikirkan, bahwa kita bisa melalui masa sulit ini.

Dengan semangat gotong royong bukan terus mengeluh pemerintah begini, kurang ini, dikit-dikit ngeluh, tapi look at yourself apa yang kamu bisa lakukan. Saya ngomong sama GM Plataran Hotel, apa yang bisa kita lakukan langsung pengadaan masker, sanitizer, mudah-mudahan yang melihat mau ikut juga.

Ada diskusi antar musisi untuk saling membantu?

Ada tapi bukan yang menonjol sekali. Komunitas-komunitas tertentu. Kalau bicara pandemi ini, meski bukan epedimiolog. Bukan dokter, tapi common sense, saya memiliki pandangan kita tidak bisa optimis epidemi akan berakhir pada waktu tertentu.1918 ada panic flu. Second wave lebih dahsyat. Kemudian hilang begitu saja. Itu faktor x kita tidak tahu. Kemudian banyak virus yang belum ketemu vaksin, kok bisa kita hidup dengan virus itu. Muncul virus baru yang kita sedang berlomba-lomba menyempurnakan vaksin.

Orchestra identik dengan mahal dan kurang merakyat?

Gimana bisa merakyat instrumennya saja mahal. Kalau mau instrumen benar itu memang mahal. Tidak sama dengan kecrek-kecrek dengan gitar, ukulele kan bisa murah.Orkestra itu terompet, pianonya, pasti mahal. Belajarnya masuk conservatory prosesnya panjang, mahal, tapi di luar sana di negara-negara maju.

Di semua negara maju itu, musik ini mendapat bantuan dari pemerintah, subsidi. Seperti musik daerah sebenarnya harusnya dipelihara pemerintah, supaya musik terpelihara.

Musik simfoni suka tidak suka menjadi modernitas suatu bangsa dianggapnya. Di kita tidak ada hal itu, tidak ada bantuan yang cukup dari zaman Soeharto sampai sekarang.Zaman Soekarno perhatiannya lumayan. Bung Karno sering mampir ke RRI, ada studio 5, latihannya saja Bung Karno menikmati sambil makan singkong pagi-pagi. Sudah selesai dia kerja ke Istana. Di kita belum ada perhatian seperti itu.

Anda sempat mencuit di Twitter, saya ingin menjadi musisi bukan komisaris?

Sejak saya tentukan sikap saya mendukung Pak Jokowi. Pastilah ada yang tidak suka. Wajar mereka tidak suka ke saya. Apalagi difitnah. Sehebatnya serangan saya tidak seberapa. Dibanding serangan ke Pak Jokowi. Dibilang komunis, planga plongo, dan luar biasa sadisnya,

Masif dan lama sekali. Zaman Pak Harto tidak mungkin lah itu terjadi. Ini terus menerus. Kalau saya di China, sering kali dapat istilah, saya penjilat, menunggu jatah komisaris, menteri, atau BuzzerRP. Dapat proyek ini itu.Tapi ada kalanya saya capek juga ya. Sering kali ketawa-ketawa saja. Tapi ada satu waktu, capek juga, murahan banget si seolah-olah apa yang dilakukan untuk mendukung presiden seolah-olah tujuan komisaris, sesempit itu.

Kenapa bisa berpikir sekerdil itu. Memang tidak ada hal lain, di luar bumi ini, cuma ada komisaris tujuan akhir hidup. Saya merasa being conductor maintaining Twilite Orchestra 30 tahun hal yang saya syukuri.

Makanya saya tweet itu, menjelaskan bahwa dari dulu yang saya inginkan menjadi musisi bukan jadi komisaris. Tapi digoreng lagi. Saya tulis, saya tegaskan saya musisi dan tidak bercita-cita menjadi pejabat. Tolong screenshot ini.

Kalau saya berubah, tiba-tiba saya jadi komisaris, pakai ini untuk bully saya ramai-ramai. Untuk meyakinkan tujuan hidup saya bukan itu. Semua orang memiliki kecerdasan untuk jadi menteri. Itu syarat kompetensi tertentu. Saya merasa tidak cocok dan tidak punya kompetensi.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved