Selasa, 28 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

PPKM Darurat

BERITA LENGKAP : Obat-obatan, Alkes, hingga Oksigen Terbatas Penyebab RS Kolaps

Presiden Jokowi memerintahkan Kemenkes untuk mempercepat vaksinasi di tiga provinsi, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Banten.

Humas Pemprov Jateng
Gubernur Ganjar Pranowo melihat penanganan pasien Covid-19 di RSUD Djoyonegoro, Temanggung, Kamis (15/7/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Presiden Jokowi memerintahkan Kemenkes untuk mempercepat vaksinasi di tiga provinsi, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Banten.

Tiga provinsi itu akan menjadi fokus wilayah vaksinasi pemerintah setelah Bali dan DKI Jakarta. Jokowi membeberkan tingkat vaksinasi di tiga wilayah itu masih rendah. Rincinya, Jawa Barat baru 12 persen, Jawa Tengah 14 persen, dan Banten 14 persen.

"Provinsi mana yang harus kita fokuskan? Menurut saya tiga yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Banten,” kata Jokowi saat memberikan arahan dalam Ratas Penanganan Pandemi Covid-19 (Evaluasi PPKM Darurat) di Istana Merdeka, Jumat (16/7) dan disiarkan di YouTube Sekretariat Presiden, Sabtu (17/7).

Percepatan progres vaksinasi, kata Jokowi, adalah hal mutlak. Dia mengutip pernyataan Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom.

"Salah satu kunci kita menyelesaikan masalah ini adalah kecepatan vaksinasi," tegas Kepala Negara.

Percepatan vaksinasi di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Banten diharapkan bisa mengejar target herd immunity di pulau Jawa pada Agustus ini. Jokowi mengatakan, dibandingkan tingkat vaksinasi di Jakarta dan Bali, tingkat vaksinasi di tiga provinsi itu masih masih rendah.

Jangan Distok

Di Bali sudah 81 persen dosis yang telah disuntikkan. Sementara di DKI Jakarta sudah 72 persen. Jokowi menargetkan Provinsi Bali dan DKI Jakarta akan mencapai herd immunity (kekebalan kelompok) pada Agustus mendatang.

Paling lambat, pertengahan September kedua provinsi prioritas itu sudah harus mencapai herd immunity.

"Sehingga Jawa bisa segera masuk ke herd immunity, nanti di rapat bulan Agustus akhir atau awal September. Tapi kalau program tanpa stok (vaksin) tadi berjalan saya kira Agustus bisa selesai," kata Jokowi.

Program vaksinasi tanpa stok yang ia maksud adalah percepatan penyuntikan vaksin yang sudah disalurkan.

Sebab, kata Jokowi, dari 137 juta vaksin yang diterima Indonesia, baru 54 juta saja yang diberikan. Artinya, ada stok yang belum digunakan.

Dari situ, ia meminta agar baik Kementerian Kesehatan, Provinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan, hingga puskesmas-puskesmas untuk segera menghabiskan stok yang ada.

Bila mendapatkan vaksin lagi, juga diminta untuk langsung dihabiskan, tidak distok.

Jokowi menyebut vaksin yang tiba di Indonesia mencapai 137 juta dosis, sedangkan yang sudah disuntikkan baru sekitar 54 juta.

"Artinya stok yang ada baik mungkin di Bio Farma atau di Kemenkes, atau mungkin di Provinsi, Kabupaten/Kota, di RS, Puskesmas terlalu besar," ucapnya.

Faskes Terancam Kolaps

Ganasnya pandemi Covid-19 yang telah berlangsung hampir 1,5 tahun di Indonesia tak hanya berdampak terhadap masyarakat umum.

Para tenaga kesehatan yang menjadi garda terdepan dalam penanangan para pasien yang terinfeksi virus corona sudah banyak yang gugur. Termasuk para dokter.

Bahkan Ikatan Dokter Indonesia (ID) mencatat jumlah kematian dokter akibat terpapar virus corona sudah mencapai 545 orang. Jumlah itu merupakan data sejak awal pandemi Covid-19 pada Maret 2020 hingga Juli 2021.

”Jadi total kematian dokter telah mencapai 545 orang,” kata Ketua Pelaksana Harian Mitigasi PB IDI, Mahesa Paranadipa dalam konferensi pers yang digelar secara virtual pada Minggu (18/7).

Mahesa khawatir sektor kesehatan semakin dekat dengan potensi kolaps mengingat dari 545 dokter yang meninggal itu, 114 dokter di antaranya wafat pada Juli 2021 ini. Jumlah itu naik lebih dari 100 persen angka kematian dokter pada Juni.

Mahesa menyatakan layanan rumah sakit (RS) di beberapa wilayah bahkan sudah runtuh secara fungsional (functional collapse).

”Tim mitigasi dari data-data dokter memang kami mengkhawatirkan kita masuk ke potensi functional collaps, kalau melihat kematian dokter per Juli ini angkanya melebihi 100 persen dari Juni lalu, sebanyak 114 sejawat dokter,” kata Mahesa.

”Ini data-data yang dilaporkan, jadi belum [termasuk] data-data yang belum dilaporkan. Sehingga angka kematian dokter di angka 545 sejawat yang wafat,” imbuh dia.

Kelelahan akut

Mahesa mengatakan kematian dokter paling banyak terjadi di Jawa Timur sebanyak 110 orang. Provinsi ini diketahui sebagai salah satu wilayah yang menyumbang kenaikan kasus tertinggi di RI.

Setelah Jatim, dokter yang meninggal tercatat paling banyak terjadi di DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Sumatera Utara.

IDI turut mencatat data per 18 Juli 2021 ada 7.392 perawat yang terkonfirmasi positif Covid-19 dengan 445 perawat telah meninggal.

Selanjutnya ada 42 apoteker yang terjangkit Covid-19, 223 bidan, dan 25 tenaga laboratorium yang juga terjangkit virus Corona. Mahesa menerangkan kondisi para dokter saat ini terus dipantau oleh IDI.

Sebab mereka adalah tulang punggung dari penanganan corona. Saat ini, ia mengakui apabila banyak nakes yang tak berujung fatal karena sudah divaksinasi.

Tetapi ia menekankan, lonjakan kasus corona yang terus menerus bisa menyebabkan kelelahan akut dan berujung membuat nakes tumbang, termasuk dokter.

Ketua Tim Mitigasi PB IDI, Mohammad Adib Khumaidi mengatakan functional collapse rumah sakit tak hanya dilihat dari angka kematian dokter.

Hal lain yang jadi sorotan IDI adalah kurangnya pasokan obat, alat kesehatan, hingga oksigen di beberapa wilayah.

"Kondisi-kondisi ini yang saya kira functional collapse-nya sudah terjadi, tapi kita tidak bisa mengatakan secara general," ungkapnya.

Adib mengatakan tingginya angka kematian dokter terjadi akibat lonjakan jumlah pertambahan kasus positif Covid-19 dari hari ke hari.

Apalagi rekor-rekor baru terus terjadi dalam beberapa hari terakhir dengan tertinggi mencapai 56 ribu kasus Covid-19 dalam sehari.

Hal ini, kata Adib, membuat beban kerja dokter meningkat, sementara imunitas mereka melemah karena kelelahan. Bahkan, IDI mencatat ada sekitar 20 dari 86 dokter yang meninggal padahal sudah divaksin. (tribun network/fah/git/dod)

Baca juga: Kunci Jawaban Tema 8 Kelas 6 SD Halaman 94 95 96 97 98 99 100 Subtema 3

Baca juga: LIPUTAN KHUSUS : Terjadi Kelangkaan Peti Kemas dan Harga Pengiriman Naik 500 Persen

Ramalan Zodiak Cinta Hari Ini Senin 19 Juli 2021, Libra Semesta Mendukung Keputusanmu

OPINI Muhamad Mustaqim : Akademisi dan Tikungan Publikasi

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved