PPKM Darurat
Kelangkaan Peti Kemas untuk Ekspor Belum Ada Solusi
Kelangkaan kontainer atau peti kemas untuk mengiriman barang ke luar negeri sudah terjadi sejak beberapa bulan lalu.
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Kelangkaan kontainer atau peti kemas untuk mengiriman barang ke luar negeri sudah terjadi sejak beberapa bulan lalu.
Dan klimaksnya Juni kemarin nyaris tak ada peti kemas untuk ekspor, kalaupun ada harganya naik berlipat-lipat. Kelangkaan peti kemas disebabkan oleh berbagai faktor.
Diduga terpengaruh juga oleh insiden tersangkutnya kapal Ever Given di Terusan Suez, Mesir, Maret lalu.
Selain itu banyak pabrik tutup sehingga peti kemas berubah menjadi tumpukan gudang. Selain itu, diduga peti kemas menumpuk di pelabuhan di China dan Singapura.
Padahal sejak beberapa bulan lalu Eropa dan Amerika maupun China sudah tidak lockdown, artinya membuka diri untuk menerima kiriman produk-produk dari Indonesia. Sayang, ketersediaan peti kemas kurang, sehingga ekspor pun terganggu.
Berdasar data BPS Jawa Tengah, nilai ekspor Jawa Tengah pada Mei 2021 turun 23,67 persen dibanding ekspor April 2021, yaitu dari US$ 850,43 juta menjadi US$ 649,15 juta. Jika dibandingkan dengan nilai ekspor Mei 2020, naik 42,22 persen.
Penurunan ekspor Mei 2021 dibanding ekspor April 2021 disebabkan oleh turunnya ekspor non migas. Ekspor non migas mengalami penurunan yaitu sebesar 25,23 persen, dari US$ 825,16 juta (April) menjadi US$ 616,98 juta (Mei).
Namun ekspor migas justru mengalami peningkatan yaitu sebesar 27,31 persen, dari US$ 25,27 juta (April) menjadi US$ 32,17 juta (Mei). Peningkatan ekspor migas disebabkan oleh naiknya ekspor hasil minyak, sementara pada bulan yang sama tidak ada ekspor gas, gas alam dan minyak mentah.
Penurunan terbesar nilai ekspor non migas pada Mei 2021 terhadap April 2021 terjadi pada Kayu, Barang dari Kayu sebesar US$ 31,30 juta (29,89 persen). Komoditas ini memberikan peran terhadap total ekspor non migas sebesar 11,33 persen pada periode Januari-Mei 2021.
Komoditas lain yang juga mengalami penurunan adalah perabot, penerangan rumah turun US$ 27,77 juta (31,42 persen); pakaian jadi bukan rajutan turun US$ 21,05 juta (15,71persen); alas kaki turun US$ 20,38 juta (28,43 persen); mesin/peralatan listrik turun sebesar US$ 19,60 juta (51,12 persen); dan serat stafel buatan turun US$ 15,79 juta (41,52 persen).
Penurunan ekspor non migas Mei 2021terhadap ekspor April 2021 terjadi ke beberapa negara tujuan utama, yaitu Amerika Serikat, Jepang, dan Tiongkok.
Selama periode Januari-Mei 2021, ekspor barang Jawa Tengah tidak hanya dimuat melalui pelabuhan-pelabuhan yang ada di Provinsi Jawa Tengah, tetapi juga melalui pelabuhan-pelabuhan muat di luar Jawa Tengah.
Sedangkan untuk nilai impor Jawa Tengah Mei 2021 mencapai US$ 772,46 juta atau turun US$ 167,70 juta (17,84 persen) dibanding impor April 2021.
Hal tersebut disebabkan oleh turunnya nilai impor non migas sebesar US$ 198,64 juta (28,82 persen). Berbanding terbalik dengan impor non migas, impor migas justru mengalami peningkatan sebesar US$ 30,95 juta (12,34 persen).
Kepala Disperindag Jawa Tengah, Arief Sambodo meminta semua pihak bersabar. Pandemi ini melanda dunia dan dampaknya juga luas.