Vaksinasi Massal
Sosok Mahasiswa Indonesia Terlibat Penelitian Vaksin AstraZeneca di Oxford Inggris
Banyak pemuda Indonesia pintar dan cerdas yang moncer di luar negeri. Satu di antaranya Indra Rudiansyah alumni ITB ini
TRIBUNJATENG.COM -- Banyak pemuda Indonesia pintar dan cerdas yang moncer di luar negeri. Satu di antaranya Indra Rudiansyah alumni ITB yang kini terlibat dalam penelitian vaksin AstraZeneca dan sukses di Inggris.
Vaksin AstraZeneca 67% efektif terhadap varian Delta. Penasaran?
Adalah Indra Rudiansyah, menjadi salah satu sosok di balik terciptanya vaksin AstraZeneca yang kini digunakan di tanah air untuk melawan Covid-19.
Sebelumnya, viral momen pemimpin tim pengembangan vaksin Oxford/AstraZeneca, Dame Sarah Gilbert, mendapat standing ovation dari penonton kejuaraan tenis Wimbledon 2021.
Sebab berkat terciptanya vaksin ini, pertandingan tenis akbar itu dapat digelar. Dan Indra Rudiansyah menjadi salah satu bagian dari tim penelitian Covid-19 yang dipimpin Sarah Gilbert. Lalu siapakah sosok Indra Rudiansyah ini?
Tim Jenner Institute dan Oxford Vaccine Group bekerja sama menguji coba vaksin virus corona di Pusat Vaksin Oxford sejak 20 Januari 2020.
Kepada Antara London, Indra mengaku bahwa sebenarnya vaksin corona bukan penelitian utamanya untuk thesis, melainkan vaksin malaria.
Namun, dia mengaku bangga bisa bergabung dalam tim uji klinis vaksin Covid-19 AstraZeneca. Indra bergabung dengan tim karena saat itu lab kekurangan banyak sumber daya manusia.
Sehingga pemimpin penelitian membuka kesempatan bagi mahasiswa yang ingin membantu uji klinis. Ketika itu, kasus Covid-19 mulai menyebar di Inggris, sehingga semua aktivitas perkuliahan ditutup kecuali penelitian terkait virus corona. Bersama timnya, Indra bertugas menguji antibody response dari para relawan yang sudah divaksinasi.
Enam bulan
Menurut laporan Kompas.com Reporter on Location, Indra menilai proses pengembangan vaksin AstraZeneca termasuk sangat cepat.
Ini karena hasil data uji preklinis dan inisial data untuk safety serta imunogenitas di manusia dapat dihasilkan dalam enam bulan. "Biasanya untuk vaksin baru paling tidak memerlukan waktu lima tahun hingga tahapan ini," ujar Indra.
Menurut laman Linkedinnya, Indra saat ini tengah menjalani studi S3 Clinical Medicine di Universitas Oxford. Sebelumnya, pria asal Bandung ini lulus dari S1 Mikrobiologi ITB pada 2013.
Lalu melanjutkan pendidikan S2 Bioteknologi ITB dengan Fast Track Program dan lulus pada 2014. Ia penerima beasiswa LPDP dan lulusan Program Beasiswa Plus Djarum atau yang disebut dengan Beswan Djarum 2011-2012.
Selama bekerja menjadi tim uji klinis vaksin AstraZeneca, Indra mengaku harus bekerja secara dinamis, sigap, dan cepat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/indra-rudiansyah-warga-indonesia-terlibat-dalam-pembuatan-vaksin-covid-19-di-oxford-inggris.jpg)