Berita Jepara
Kisah Bahafindi Pengrajin Genting di Jepara
Di bawah sinar lampu 15 watt itu, tangan Bahafindi (46) cekatan mengemudikan mesin cetakan genting.
Penulis: Muhammad Yunan Setiawan | Editor: galih permadi
TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Di bawah sinar lampu 15 watt itu, tangan Bahafindi (46) cekatan mengemudikan mesin cetakan genting.
Kurang dari semenit, satu genting sudah jadi dari cetakannya.
Ditemui di tempat kerjanya di Desa Dorang, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara, pria yang sudah lebih 20 tahun menggeluti bidang itu bercerita, ada ribuan pengrajin yang tersebar di Kecamatan Nalumsari dan Kecamatan Mayong.
Untuk itu, ujar dia, jangan heran ketika berkunjung di daerah tersebut bisa dengan mudah melihat jejeran genting yang dijemur di depan rumah warga.
Kawasan tersebut memang sudah dikenal sebagai sentra pembuatan genting.
Kepada Tribunjateng.com, dia menceritakan, proses pembuatan genting prosesnya lama. Mulai dari pembelian tanah liat dari Gunung Muria hingga ke percetakan.
Menurutnya, dari prosesnya yang lama itu membuat ketahanan genting bisa teruji.
"Awalnya tanahnya dulu dipadatkan. Setelah itu baru bisa dicetak," kata dia kepada Tribun Jateng, Rabu, (28/7/2021).
Prosesnya, ujar dia, tidak sampai di situ saja. Setelah dari mesin cetak, genting ditata berjejer. Kemudian genting tersebut akan dijemur hingga tidak ada lagi zat air di dalamnya.
Setelah dipastikan kering. Genting lalu dimasukan ke mesin pembakaran. Usai dibakar, genting baru siap kirim ke pemesan.
"Ada yang dari Jakarta, Kalimantan, tapi saat ini pemesan dari lokasan sini saja," imbuhnya.
Terkait penjualan, dia menjelaskan hal tersebut bergantung dari tujuan. Kalau pemesan dari Jakarta atau luar Jawa, rata-rata yang berjumlah 22.000 genting.
Sejumlah sebanyak itu sudah pas untuk ukuran bak truk tronton.
Namun, untuk daerah di sekitar karisidenan Pati, jumlahnya bisa sama bahkan lebih sering lebih sedikit.
Segmen pembelinya pun beragam. Ada yang dari pemilik toko bangunan, kontraktor, atau orang sedang membangun rumah.