Minggu, 3 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Olimpiade 2020

Bonus Atlet Indonesia Peraih Medali Olimpiade Melimpah Ruah, Tapi Masih Kalah Sama Negara Kecil Ini

Bonus Atlet Indonesia Peraih Medali Olimpiade Melimpah Ruah, Tapi Masih Kalah Sama Negara Kecil Ini

Tayang:
Vincenzo PINTO / AFP
Bonus Atlet Indonesia Peraih Medali Olimpiade Melimpah Ruah, Tapi Masih Kalah Sama Negara Kecil Ini. Foto: Update Klasemen Olimpiade Tokyo 2021, Medali Angkat Besi dari Eko Yuli Dongkrak Posisi Indonesia. Foto: Peraih medali perak Indonesia Eko Yuli Irawan berdiri di podium untuk upacara kemenangan kompetisi angkat besi 61kg putra selama Olimpiade Tokyo 2020 di Tokyo International Forum di Tokyo pada 25 Juli 2021. 

Bonus Atlet Indonesia Peraih Medali Olimpiade Melimpah Ruah, Tapi Masih Kalah Sama Negara Kecil Ini

Baca Artikel Lainnya tentang Olimpiade 2021 di Sini

TRIBUNJATENG.COM - Pemerintah Indonesia akan memberikan bonus melimpah ruah bagi atlet yang pulang membawa medali di Olimpiade Tokyo 2021.

Tercatat, sejauh ini ada tiga atlet yang sudah meraih medali untuk Indonesia.

Mereka adalah Eko Yuli Irawan (perak), Windy Cantika Aisah (perunggu) dan Rahmat Erwin Abdullah (perunggu).

Ketiganya sama-sama berasal dari cabang olahraga angkat besi di Olimpiade Tokyo 2021.

Baca juga: Kisah Hidilyn Diaz, Peraih Medali Emas Pertama untuk Filipina Sepanjang Sejarah Olimpiade

Baca juga: Rashford Manchester United Absen Hingga Oktober, Jadi Kesempatan 4 Pemain Ini Cari Panggung

 

Baca juga: Hasil Bulu Tangkis Olimpiade Tokyo 2021, The Daddies Gagal ke Final Setelah Kalah Melawan Taiwan

Baca juga: Atlet Olimpiade Tokyo 2020 Diizinkan Lepas Masker 30 Detik saat Berfoto Medali

Jumlah bonus yang diberikan kepada atlet Indonesia kali ini sama dengan jumlah yang didapat di Olimpiade Rio 2016.

Meski sama dengan empat tahun lalu, namun jumlah tersebut dirasa cukup relevan. Apalagi uang hadiah yang didapat atlet Indonesia kali ini merupakan kedua tertinggi di dunia.

Indonesia hanya kalah dari Singapura yang berani memberikan bonus lebih banyak atau terbesar di dunia.

Meski demikian, atlet Filipina diperkirakan mendapat bonus lebih banyak dari atlet Indonesia. Besarnya jumlah bonus tersebut bukan berasal dari uang pemerintah Filipina, melainkan dari donatur dan politisi di negeri tersebut.

Pemerintah dan pebisnis top Filipina minggu ini mengerahkan jumlah yang lebih tinggi bagi atlet angkat besi mereka Hidilyn Diaz.

Sebelum ini, Kemenpora memastikan bahwa bonus bagi para peraih medali Olimpiade di Indonesia tetap sama dengan di Rio 2016.

Nilai nominal tersebut dianggap masih relevan karena tertinggi kedua di dunia setelah negara kecil Singapura dan diakui negara lain cukup besar.

"Bonus masih sama (dengan Olimpiade Rio 2016). Tidak ada perubahan. Emas Rp 5 miliar, perak Rp 2 miliar, dan perunggu Rp 1 miliar," kata Sesmenpora Gatot S Dewa Broto pada awal Juli.

"Kami tidak ingin jor-joran, bukan karena faktor pandemi. Angka Rp 5 miliar menurut kami masih relevan diterima atlet saat ini," ucap Gatot, menambahkan ketika itu.

Apresiasi pemerintah bagi para atlet Indonesia ini merupakan yang terbesar kedua setelah bonus sebesar Rp 9,75 miliar dari Pemerintah Singapura kepada pemenang medali emas mereka.

Jumlah yang diterima peraih medali perunggu Indonesia masih akan melebihi uang hadiah bagi pemenang emas dari Australia atau Kanada.

Namun, ranking Indonesia di peringkat kedua pemberi apresiasi tersebut turun setelah pemerintah dan beberapa pejabat Filipina memberikan bonus raksasa kepada atlet angkat besi Hidilyn Diaz setelah ia memenangi medali emas di nomor 55 kilogram putri.

Ini merupakan medali emas pertama sepanjang sejarah partisipasi Filipina di Olimpiade.

Menurut laporan CNBC News, Diaz akan menerima 33 juta peso atau Rp sekitar 8,6 miliar dari pemerintah, beberapa pebisnis, serta politisi top negara tersebut.

Sebanyak 10 juta peso atau Rp 2,8 miliar bakal datang langsung dari Komisi Olahraga Filipina sesuai mandat hukum negara Presiden Rodrigo Duterte tersebut.

Ia juga bakal dihadiahi dua rumah dan penerbangan gratis dari dua maskapai.

Pertama adalah maskapai Air Asia dan kedua Philippine Airlines yang telah mencanangkan penerbangan gratis sejauh 80.000 mil per tahun untuk seumur hidup.

Jika ditotal, Philippine Star bahkan menaksir Hidilyn Diaz bakal menerima hampir 60 juta peso atau sekitar Rp 16 miliar.

Komite Olimpiade Internasional sendiri tak memberi hadiah bagi para peraih medali di Olimpiade.

Dengan demikian, jumlah hadiah dan insentif berbeda-beda tergantung dari asal mereka.

Dikutip dari Swim Swam, Kerajaan Inggris Raya tidak memberikan bonus bagi para pemenang medali.

Namun, mereka mendedikasikan 345 juta poundsterling dana pemerintah dan lotre nasional untuk Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo.

Sebanyak 61 juta poundsterling dari dana tersebut dialokasikan sebagai "Penghargaan Performa Atlet" walau tak seluruhnya berdasarkan keberhasilan atlet mendapatkan medali.

Sementara itu, Amerika Serikat memberikan 37.500 dollar AS atau Rp 541 juta untuk medali emas, 22.500 dollar AS atau Rp 325 juta bagi pemenang perak, dan 15.000 dollar AS atau Rp 216 juta bagi perunggu.

Uang itu bebas pajak kecuali apabila para atlet melaporkan penerimaan kotor di atas 1 juta dollar AS.

Kendati uang hadiah medali tergolong sangat kecil bagi negara setajir Paman Sam, atlet-atlet AS juga mendapat dukungan lain berupa asuransi kesehatan, akses ke fasilitas medis terbaik negeri tersebut, dan bantuan uang kuliah.

Adapun Pemerintah Singapura mengharuskan pemenang medali membayar pajak dan para penerima diperlukan untuk menyumbang sebagian porsi hadiah tersebut ke asosiasi nasional mereka untuk membantu pengembangan dan pelatihan usia dini.

Hal ini terjadi saat perenang Joe Schooling mendapat uang hadiah Rp 9,75 miliar setelah ia memenangi nomor 100 meter gaya kupu-kupu pada Rio 2016.

Bergeser ke Malaysia, pemenang medali emas negeri jiran tersebut akan mendapatkan 300.000 ringgit atau Rp 1 miliar, sedangkan medali perak akan dihadiahi 100.000 ringgit atau Rp 341 juta.

CNBC, berdasarkan penilaian seorang pakar firma konsultasi bernama Unmish Parthasarathi, mencatat bahwa perekonomian AS mendorong para atlet agar bisa lebih memonetisasi talenta-talenta mereka lewat sektor komersial.

Hal ini terlihat dari pendapatan megabintang tenis Naomi Osaka yang berkewarganegaraan Jepang, tetapi berdomisili di Beverly Hills, California, Amerika Serikat.

Ia meraup pendapatan hingga 55 juta dollar AS atau sekitar Rp 795 miliar dalam 12 bulan terakhir dan dinamakan sebagai atlet wanita dengan bayaran paling tinggi sepanjang masa.

Sementara itu, inisiatif negara-negara Asia seperti di Indonesia dan Singapura masih sangat tergantung dari pemerintah yang memakai jumlah hadiah lebih tinggi untuk mendorong berkembangnya kultur olahraga.

Hal ini terbukti lagi dengan Hong Kong dan Thailand yang melengkapi empat besar pemberian bonus bagi para pemenang medali emas dari semua negara di dunia.

Pemerintah Hong Kong dan Thailand masing-masing memberikan 645.000 dollar AS dan 310.000 dollar AS bagi para pemenang medali emas mereka.

Kembali ke Indonesia, Menpora Zainudin Amali juga mengutarakan, semua atlet yang berangkat ke Olimpiade Tokyo 2020 bakal mendapat apresiasi dari pemerintah, tak hanya para pemenang medali.

Hal tersebut disampaikan Zainudin Amali saat menyambut rombongan pertama kontingen Indonesia yang tiba dari Tokyo pada Kamis (29/7/2021) malam.

(*)

Baca Artikel Lainnya tentang Olimpiade 2021 di Sini

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved