Minggu, 19 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Purwokerto

Angkutan Kota di Purwokerto Mati Kutu Sebulan Tak Beroperasi, Organda: Lanjut PPKM Plus Plus

Para pengusaha angkutan di Purwokerto, sudah pasrah dengan berbagai kebijakan pemerintah, terkait PPKM.

Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: moh anhar
TRIBUN JATENG/PERMATA PUTRA SEJATI
Dokumentasi angkutan oranye dalam kota Purwokerto yang sedang menunggu penumpang di komplek Kebondalem, Purwokerto, 21 November 2020. 

TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Hampir sebulan kebijakan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dilaksankan. 

Selama itu pulalah, beberapa sektor begitu terdampak adanya kebijakan PPKM, contohnya sektor transportasi perkotaan. 

Seperti yang dirasakan oleh para pengusaha angkutan di Purwokerto, yang sudah pasrah dengan berbagai kebijakan. 

"Dari dulu kepengin protes, tapi mau protes sudah begitu aturannya. Yang jelas kami tiarap semua, ibarat sopirnya saja tidak kerja apalagi yang punya usaha," ujar Ketua Organda Banyumas, Sugiyanto, kepada Tribunjateng.com, Senin (2/8/2021). 

Baca juga: Tergerak Ajakan Gubernur, Mahasiswa 4 Universitas di Semarang Hibur Pasien Pusat Isolasi Covid-19

Baca juga: Lapas Kelebihan Kapasitas, Jaga Jarak Sudah Susah, Kalapas Kendal: Semoga Vaksin Jadi Pencegah

Baca juga: Selamat, Karya Inovasi dari Banyumas Masuk 45 Top Inovasi Pelayanan Publik Terpuji Tahun 2021

Baca juga: Niat Cari Bambu untuk Pasang Umbul-umbul, Warga Rogodadi Kebumen Temukan Mayat di tengah Jalan

Ia mengatakan banyak pengusaha angkutan di Banyumas yang akhirnya gulung tikar dan memilih usaha lain. 

Jenis angkutan yang gulung tikar seperti angkutan kota, taxi, koperades dan lainnya. 

Namun demikian, memang sebagian pengusaha angkutan tidak mutlak bekerja di angkutan saja. 

"Mereka ada kerja sampingan juga, misalkan petani, usaha apa yang lain," ungkapnya. 

Sugiyanto mengatakan selama PPKM nyaris tidak ada yang beroperasi. 

"Sebelum ada PPKM angkutan wisata bisa mendapatkan Rp 125 per hari. Tapi sempat berhenti juga dulu empat bulan karena pelarangan wisata, terus turun paling Rp 45 ribu per hari. Sekarang ditutup lagi wisata, ya jelas tidak ada pemasukan sama sekali," jelasnya. 

Sistem kerja para pengusaha angkutan ini juga tidak setiap hari full, kadang berangkat dan kadang libur. 

Menurut Sugiyanto pekerjaan sopir angkutan kota sekarang sudah hanya menjadi sambilan saja, dengan kondisi yang sekarang ini. 

Baca juga: Cegah Kerumunan, Penyaluran Sembako di Kabupaten Semarang Dilakukan Door to Door

Baca juga: Update Virus Covid-19 Jawa TengahSenin 1 Agustus 2021

Baca juga: Update Klasemen Olimpiade Tokyo 2021, Posisi Indonesia Melesat Setelah Greysia/Apriyani Sumbang Emas

Terkait perpanjangan PPKM yang belum jelas, dan berubah-ubahnya nama PPKM, dari yang PPKM darurat, PPKM level 4, Sugiyanto memprediksikan nama PPKM selanjutnya. 

"Nama selanjutnya adalah PPKM Plus-Plus," celotehnya. (*) 

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved