Olimpiade Tokyo

Petinju Prancis Hanya Duduk di Ring, Merasa Jadi Korban Sabotase

Mourad Aliev, petinju asal Prancis, merasa jadi korban sabotase di Olimpiade Tokyo.

Editor: sujarwo
THEMBA HADEBE/AFP
Petinju Britania Raya, Frazer Clarke (merah) berduel dengan wakil Perancis, Mourad Aliev (biru) pada perempat final tinju kelas berat super Olimpiade Tokyo 2020 di Kokugikan Arena, Tokyo, 1 Agustus 2021. 

TRIBUNJATENG.COM -  Mourad Aliev, petinju asal Prancis, merasa jadi korban sabotase di Olimpiade Tokyo. Ia melakukan protes dengan duduk di tepi ring selama 30 menit.

Mourad Aliev terkena diskualifikasi kala berhadapan dengan wakil Britania Raya, Frazer Clarke, pada perempat final tinju kelas berat super Olimpiade Tokyo 2020 di Kokugikan Arena, Minggu (1/8/2021).

Keputusan diskualifikasi untuk Mourad Aliev lahir karena sang petinju asal Perancis dianggap terlalu berlebihan menggunakan kepalanya.

Wasit Andy Mustacchio menjatuhkan diskualifikasi untuk Mourad Aliev saat ronde kedua tinggal menyisakan empat detik. 

Mourad Aliev dianggap sengaja menanduk Frazer Clarke dengan kepalanya. Keputusan tersebut tak diterima dengan lapang dada oleh Mourad Aliev. Ia berang. 

Petinju 26 tahun itu berteriak, menendang pelindung giginya, dan kedapatan mengguncangkan kamera televisi. Protes Mourad Aliev berlanjut. Ia tak mau beranjak dari arena laga. Ia terus kembali ke tempat yang sama meski diminta pergi. 

Ia tampak duduk di tepi ring selama lebih kurang setengah jam! “Saya duduk sebagai protes atas ketidakadilan untuk saya,” kata Aliev seperti dikutip BBC.

“Saya bersiap untuk laga ini selama empat tahun. Saya benar-benar ingin melawan ketidakadilan.” 

“Jadi, itulah cara saya untuk menunjukkan sikap tidak setuju kepada keputusan.”

Tuduhan lebih serius bahkan diungkapkan oleh petinju Perancis kelahiran Moscow, Rusia, tersebut.

“Saya berhenti tanpa satu pun peringatan (dari wasit) dan mereka langsung memberi tahu saya “Kamu kalah’ seperti itu. Jadi, saya pikir ini adalah tindak sabotase,” tutur Aliev.

Di lain sisi, Frazer Clarke yang mengalami luka sobek di atas matanya, enggan berkomentar terlalu jauh soal aksi tandukan sang rival.

“Hal terakhir yang saya ingin dia lakukan adalah merusak reputasinya sendiri atau bersikap kasar kepada wasit dan ofisial, sebab mereka hanya melakukan tugas,” kata Frazer Clarke. (*)

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved