Penangkapan Teroris di Jateng
BERITA LENGKAP: Densus 88 Tangkap Terduga Teroris di Semarang, Purwokerto, Kendal, dan Pekalongan
Densus 88 menangkap dua terduga teroris di Kota Semarang yang disinyalir merupakan anggota Jamaah Islamiah (JI).
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Densus 88 menangkap dua terduga teroris di Kota Semarang yang disinyalir merupakan anggota Jamaah Islamiah (JI).
Mereka yakni Djoko Soewarno (46) dan Febriana Safrudin Firmansyah (45). Berbeda dengan Djoko yang dipandang warga sebagai sosok baik hati, sebaliknya Febriana Safrudin Firmansyah (45) memiliki hubungan tak baik dengan para tetangganya.
Mereka berdua ditangkap di tempat berbeda, untuk Febriana Safrudin Firmansyah ditangkap oleh Densus 88 di sebuah rumah di Jalan Bukit Teratai RT 11 RW 19, Sendangmulyo, Tembalang, Kota Semarang, Jumat (13/8) sekira pukul 04.51 WIB.
Rumah tersebut Jumat sore tampak sepi, namun lampu depan rumah menyala terang. Rumah memang berada di ujung sendiri jauh dari pemukiman warga. Depan rumah juga berupa kebun kosong.
Di mata para tetangganya, sosok terduga teroris yang akrab disapa Firman memang dikenal kurang ramah kepada warga sekitar. "Ya dia pernah geger (ribut) dengan saya, urusan sepele motornya kena batu saat melintas di depan saya. Terus marah-marah ga jelas kepada saya namun ga tak layani," ujar seorang tetangga, Hadi kepada wartawan.
Ia melanjutkan, selepas itu tak ada komunikasi dengan terduga teroris tersebut. "Rumahnya itu di pojokan itu sendirian, sejak kejadian itu sudah lama saya ga komunikasi dengan orang itu," terangnya.
Sementara itu, Ketua RW 19 Muslihin menjelaskan, memang ada penangkapan seorang warganya yang diduga terlibat terorisme. "Ya tadi diminta menyaksikan penggeledahan rumah terduga," ujarnya.
Barang-barang yang dibawa, lanjut ia, berupa buku tulis, buku tabungan, stempel. Jumlah tiap item dari barang tersebut kurang mengetahuinya. "Setahu saya itu saja," jelasnya.
Ia mengatakan, terduga sudah lama tinggal di tempat tersebut, persisnya berapa tahun ia kurang tahu pasti. Yang jelas, terduga sudah masuk daftar penduduk setempat namun KTP bukan warga Sendangmulyo. "Sudah lama menetap di sini. Rumahnya yang ditempati statusnya juga rumah sendiri ga ngontrak," paparnya.
Untuk terduga Djoko Soewarno (46) ditangkap selepaskan melaksanakan salat subuh di Masjid Kasmuri Nurussalam yang tak jauh dari rumahnya. Selepas salat tersebut, ia dibekuk anggota Densus tepat di depan rumahnnya di Gang Damai 3, RT 7 RW 6, Wonolopo, Mijen, Kota Semarang.
"Istri dan anak Pak Djoko kaget atas penangkapan tersebut, kami sebagai warga juga tak percaya jika Pak Djoko diamankan aparat kepolisian lantaran diduga terlibat kasus terorisme," terang Ketua RT 7 RW 6, Wonolopo, Muhammad Ghufroni.
Ia menjelaskan, perasaan kaget yang dialami anak istri dan tetangga terduga teroris bukan tanpa alasan. Pasalnya, terduga selama ini dikenal sebagai sosok yang ramah terhadap tetangga dan memiliki jiwa sosial tinggi.
Terduga selama empat tahun tinggal di wilayah tersebut selalu ringan tangan ketika diminta tolong oleh tetangga sehingga tetangga tak menyangka sama sekali terduga terlibat aktivitas terorisme. "Setiap ada kerja bakti dan ada tetangga yang kesusahan Pak Djoko selalu semangat untuk membantu. Orangnya arif bijaksana dan hubungan ke tetangga sangat bagus," papar Ghufroni.
Di rumah tersebut ia tinggal bersama seorang istri dan enam orang anak dengan anak pertama sudah berstatus mahasiswa. "Istrinya yang mengajar ngaji, kalau Pak Djoko setiap harinya aktif di kegiatan sebuah lembaga sosial di Jatisari. Rumahnya beliau juga baru direnovasi bantuan dari RTLH Pemrov Jateng," bebernya.
Tak ada orang asing yang kerap mendatangi rumah tersebut. Terduga juga diketahui jarang melakukan perjalan ke luar kota. Ia banyak menghabiskan waktunya di wilayah sekitar. "Dulu pernah kerja sales kacamata, kaus kaki, kalau sekarang serabutan biasanya buruh nukang di rumah tetangganya," terangnya.
Djoko Soewarno ternyata masih tercatat sebagai warga Jalan Sadewa 7, RT 1 RW 4, Pendrikan Lor, Semarang Tengah, Kota Semarang.
Ketua RT 1 RW 4 Pendrikan Lor, Surahman menuturkan, warga atas nama Djoko Soewarno memang pernah menjadi warganya namun sudah tiga tahun lalu mengajukan surat pindah ke daerah Wonolopo Mijen. "Pak Djoko itu asli Gajah, Gayamsari, tapi alamat lengkapnya ga tau. Istrinya yang asli sini. Jadi habis nikah ia pindah domisili di sini meski tinggalnya berpindah-pindah dengan kontrak rumah," jelasnya.
Djoko merupakan Kepala Sub Bidang Pelayanan Personil Jamaah Islamiyah (JI) dan anggota kelompok JI.
Selain menangkap dua terduga teroris di Kota Semarang, Densus juga menggeledah seorang warga terduga teroris di Gang 4, RT 2 RW 7, Kelurahan Kedungwuluh, Kecamatan Purwokerto Barat, Jumat (13/8) sekira pukul 10.00 WIB.
Tim Densus menggeledah rumah yang diduga ditinggali oleh Y beserta istri dan kedua anaknya.
Tetangga terduga teroris, Tomi mengatakan, polisi datang sekira pukul 10.00 WIB. "Ada polisi datang saya disuruh masuk. Tidak tahu polisi melakukan apa di dalam rumah," ujarnya.
Sementara itu, warga lain, Eni (65) yang juga tetangga terduga teroris Y berprofesi sebagai tukang kunci. "Setahu saya kerjaannya adalah tukang kunci dan sudah lama tinggal disini. Saya tidak lihat ada yang dibawa, tapi memang ramai ada polisi," katanya.
Ketua RT 2 RW 7, Sudiarso, mengatakan dirinya sempat diajak polisi masuk ke rumah Y. Di dalam rumah polisi sempat menanyakan ke istri Y.
"Tapi saya tidak mendengarkan cuma lihat saja," ungkapnya.
Dari sepengetahuannya polisi membawa beberapa barang dari rumah Y, seperti laptop. Sementara Y saat itu tidak nampak pada saat ketua RT diajak ke rumah. Tidak terdapat garis polisi di depan rumah Y bernomor yang 21B.
Sementara itu Kapolresta Banyumas Kombes M Firman L Hakim membenarkan adanya Densus 88. "Tim densus cuma menggeledah saja.
Kami hanya melakukan pengamanan di satu lokasi. Terkait teknisnya kami tidak tahu," ungkapnya.
Selain itu, Densus juga menangkap satu orang terduga teroris di Kota Pekalongan. Terduga teroris tersebut ditangkap pada Jumat (13/8).
"Katanya yang nangkap terduga teroris itu dari Densus," kata Mustofiq (53) Ketua RT 1 RW 1 Kelurahan Jenggot, Kecamatan Pekalongan Selatan, Kota Pekalongan kepada Tribunjateng.com.
Selain penangkapan, ia juga menjadi saksi saat petugas melakukan penggeledahan terduga teroris tersebut. "Saya dijemput petugas sekitar pukul 07.30 WIB untuk menjadi saksi penggeledahan rumah MM (44) terduga teroris tersebut," imbuhnya.
Mustofiq mengungkapkan, berdasarkan informasi MM ditangkap sekitar pukul 05.00 WIB. "Saat penggeledahan banyak polisi di TKP. Rumahnya terduga teroris dekat dengan jalan raya tepatnya di belakang toko klontong," ungkapnya.
Ia menceritakan, saat penggeledahan di rumah MM, hanya ada istri dan anaknya.Kemudian, dirinya juga menyaksikan ada beberapa barang yang dibawa oleh petugas saat dilakukan penggeledahan.
"Penggeledahan sekitar 2 jam, barang-barang yang diamankan petugas yaitu laptop, terus buku-buku, surat kendaraan, dan kendaraan milik MM," ucapnya.
Dikatakannya, MM mengontrak di rumah tersebut sudah 6 tahun. Aktivitas kesehariannya MM itu jualan batik secara online. "Sudah 6 tahun mereka mengontrak di rumah tersebut. MM mempunyai anak 8, 3 anaknya di pondok pesantren dan 5 orang masih di rumah bareng istrinya."
"MM merupakan warga Jawa Barat dan istrinya asli Boyolali," katanya.
Saat disinggung keseharian MM dan istrinya di lingkungan, Mustofiq mengatakan bahwa pasangan suami istri tersebut dikenal tertutup. Namun, kalau ada acara dan undangan dari warga MM selalu datang.
"MM sering ke masjid dan musala. MM dikenal tertutup. Tapi kalau ada undangan dari warga, MM selalu datang. Pakaiannya juga tidak aneh-aneh," tambahnya.
Tak hanya itu, Densus 88 Antiteror Polri juga mengamankan dua orang warga Kabupaten Kendal terduga teroris. Keduanya diketahui bernama Nur Priono Hadi warga Kelurahan Bugangin dan Bambang Budiono warga Kelurahan Kebondalem Kecamatan Kota Kendal.
Tim Densus 88 dikabarkan mengamankan dua orang terduga teroris pada, Jumat (13/8/2021) waktu Subuh.
Nur Priono Hadi ditangkap di rumah kontrakannya di Kelurahan Bugangin dan Bambang Budiono ditangkap dirumahnya di Kelurahan Kebondalem kecamatan Kota Kendal saat hendak berangkat menuju musala atau masjid untuk salat Subuh.
Keduanya dikabarkan langsung dibawa ke Kota Semarang, sementara rumah keduanya dilakukan penggeledahan.
Penangkapan ini berjalan senyap tanpa diketahui warga sekitar. Bahkan, istri Nur Priono Hadi, Nur Hariani mengaku sebelumnya tidak mengetahui kalau suaminya ditangkap.
Kata Nur, pagi itu suaminya berangkat duluan menuju musala untuk menunaikan salat Subuh berjamaah. Seperti biasa, Nur mengikuti suaminya sesaat setelah sang suami keluar rumah. "Saat sampai di musala, tidak ada sandal suami saya. Waktu itu saya berpikir apa suami saya salat Subuh di masjid," terangnya.
Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol M Iqbal Alqudusy membenarkan adanya penangkapan terduga teroris di beberapa tempat di Wilayah Jateng. Namun pihaknya tidak menjelaskan secara rinci peran dari masing-masing terduga teroris.
"Namun untuk lebih jelasnya nanti dari Densus 88 yang akan memberikan penjelasan," ujarnya.(iwn/rtp/jti/dro/sam)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/rumah-djoko-teroris-semarang.jpg)