Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Fokus

FOKUS: Leluhur Telah Mewariskan Ketangguhan

Dahulu, sepekan menjelang perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus begitu semarak. Tiap dusun di berbagai pelosok negeri

Penulis: m nur huda | Editor: Catur waskito Edy
Istimewa
Tajuk Ditulis Oleh Jurnalis Tribun Jateng M Nur Huda 

Tajuk Ditulis Oleh Jurnalis Tribun Jateng

Dahulu, sepekan menjelang perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus begitu semarak. Tiap dusun di berbagai pelosok negeri, begitu ramai menggelar berbagai kompetisi atau lomba 17-an. Gelaran itu seolah telah menjadi tradisi.

Begitupun di tiap sekolah, bermacam jenis lomba digelar. Mulai lomba cerdas cermat antarsiswa, lomba ketangkasan bidang olahraga, lomba balap karung, lomba makan kerupuk, hingga lomba balap kelereng digelar.

Pemenang dari masing-masing lomba diumumkan saat perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus seusai upacara peringatan detik-detik Proklamasi.

Pengalaman pribadi, waktu masih di bangku sekolah dasar tahun 1990an, pernah meraih Juara I salahsatu jenis lomba dan mendapatkan hadiah dari guru berbentuk kotak dengan sampul warna cokelat. Saat dibuka, ternyata berisi delapan buku tulis.

Kata Guru, jangan dilihat dan dihitung bentuk serta isi hadiahnya. Tapi lihatlah hal itu sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan yang telah dilakukan hingga meraih kemenangan. Selanjutnya, diberi nasihat untuk terus bersemangat, sebab mempertahankan lebih sulit dibanding juara.

Saat ini, Bangsa Indonesia merayakan 76 tahun kemerdekaan. Suasana jelang perayaan begitu jauh berbeda. Tak terdengar lagi suara sorak-sorai penyemangat dari dusun-dusun. Tak terdengar lagi suara tawa dan keceriaan para murid dari halaman sekolah.

Pandemi telah menghentikan segalanya. Anak sekolah yang biasanya mengeluarkan sorak menyambut 17-an sambil membawa bendera kecil ke sekolah, kini dipaksa hanya mendengar dan melihat video pada layar sambil duduk manis dari dalam rumah.

Ini tahun kedua Peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dalam suasana prihatin. Pemerintah kita tahu telah berusaha keras untuk mampu keluar dari kesulitan ini.

Bagaimanapun, optimisme harus terus dibangun. Terlebih, kita adalah orang Indonesia. Nenek moyang terdahulu telah mewariskan ‘gen’ ketangguhan itu, dengan keyakinan dan tekad kuat telah mampu menciptakan sejarah baru.

Soekarno dalam pidato peringatan proklamasi 1950 sebagaimana dikutip dari buku Di Bawah Bendera Revolusi, 1965, halaman 120, dikatakan, ”Perjuangan kita jauh belum selesai, pembangunan menunggu bertimbun-timbun. Hai, bangkitlah kembali bangsaku, nyalakan dalam jiwamu apa yang kita namakan ’semangat proklamasi’.”

Tantangan yang dihadapi saat ini tentu berbeda dan lebih kompleks. Tapi, renungan semangat Proklamasi Ke-76 ini menjadi pemacu semangat untuk tangguh melawan Covid-19 dan bangkit dari situasi yang tak menentu.

Untuk mencapainya, hanya butuh persatuan. Bukankah bangsa ini terbangun di atas persatuan yang terdiri dari keragaman, kerukunan dan toleransi. Sangat jarang bangsa di dunia ini yang memiliki tiga elemen tersebut sekaligus.

Begitupula, bukankah nama Indonesia sendiri sebenarnya mengingatkan kejayaan masa lampau sekaligus pijakan optimisme masa kini dan masa depan?

Ketika kita berdiri sama tegak dengan bangsa lain, tidak membungkuk apalagi merasa inferior. Kesadaran yang bergema dari sebuah kata sederhana, Nusantara. Sebuah warisan ketangguhan dari Raja Kertanegara, penguasa Singosari yang memiliki visi menyatukan Nusantara.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved