OPINI

OPINI DR H Aji Sofanudin : Ta'awun untuk Indonesia

MOMENTUM HUT ke-76 Kemerdekaan Republik Indonesia berdekatan dengan peringatan tahun baru Islam, 1 Muharram 1443 H.

tribunjateng/bram
Opini ditulis oleh Dr Aji Sofanudin, M.Si/Peneliti pada Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang 

Ta'awun untuk Indonesia
DR H Aji Sofanudin
Pengurus Himpunan Peneliti Indonesia Jateng

MOMENTUM HUT ke-76 Kemerdekaan Republik Indonesia berdekatan dengan peringatan tahun baru Islam, 1 Muharram 1443 H. Peristiwa ini, mengingatkan akan sejarah proklamasi kemerdekaan RI. Bagi umat Islam, sejarah proklamasi 17 Agustus 1945, bukan hanya peristiwa kebangsaan, melainkan bagian tak terpisahkan dari momentum keagamaan. Proklamasi dilakukan pada hari Jumat menjelang Jumatan. Selain itu, proklamasi dilakukan bertepatan dengan bulan Puasa, tepatnya 9 Ramadan 1364 H.

Keyakinan umat Islam, tanggal tersebut merupakan sepertiga awal di bulan Ramadan. Awwaluhu rahmat, wa u satuhu maghfiroh, wa akhiruhu itqum minannar (sepertiga awal rahmat, pertengahannya maghfiroh dan sepertiga akhir dijauhkan dari neraka). Praktis, tanggal 9 Ramadan merupakan hari yang penuh rahmat (kasih sayang Tuhan). Pada waktu itu umat Islam sedang dalam suasana puncak keberagamaan.

Agama Spirit Kemajuan

Kesadaran akan adanya Rahmat Allah, disadari betul oleh para founding fathers kita. Bagaimana mungkin bambu runcing bisa mengalahkan tank-tank penjajah jika bukan karena rahmat dan kasih sayang Allah SWT. Hal ini tercermin jelas, dalam Pembukaan UUD 1945, Alinea ke-3 “Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya,"

Dari awal kemerdekaan hingga sekarang, umat Islam selalu terdepan dalam memperjuangkan, menjaga, merawat dan mengisi kemerdekaan. Upaya membenturkan “agama dan negara”, “keislaman dan keindonesiaan” , “kebangsaan dan keumatan”, selain ahistoris juga menyakitkan. Umat Islam sejak dulu dan hingga sekarang selalu terdepan dalam menjaga dan mengisi kemerdekaan RI.

Bagi umat Islam, keindonesiaan dan keislaman adalah satu tarikan nafas. Muslim yang baik akan menjadi warga warga negara yang baik pula. Membela dan mempertahankan tanah air adalah bagian dari upaya menegakkan agama. Hubbul wathon minal Iman. Cinta tanah air sebagian dari iman.

Umat Islam memiliki tiga ajaran pokok: Iman-Islam-Ihsan. Bagi seorang muslim, Iman dan Islam merupakan harga mati. Tetapi, Ihsan seringkali dilupakan. Ihsan atau berbuat baik merupakan puncak beragama. Setiap jum’at bilal mengingatkan: “Innallaha ya’muru bil adli wal ihsan” Allah menyuruh kita belaku adil dan berbuat kebajikan.

Berbuat kebajikan tidak selalu harus berupa uang, berupa harta benda, dan materi. Menerapkan protokol kesehatan, misalnya memakai masker dengan niat menjaga diri dan orang lain, itu pun bagian dari Ihsan. Bagian dari upaya menjaga jiwa atau hifdlun nafsi.

Hifdlun nafsi merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah. Dalam QS Al-Maidah ayat 32 disebutkan: Wa man ahyaa ha, faka annamaa ahya annasa jamii’a. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia.

Seluruh ajaran Islam bermuara pada Ihsan, menjadi rahmat bagi seluruh alam, rahmatan lil alamin. Salat bermuara pada menghindarkan perbuatan keji dan munkar. Innassholata tanha anil fahsya i wal munkar. Demikian, juga zakat dan seterusnya.
Indonesia tangguh

Esensi Idul Adha pada dasarnya adalah menebarkan kebaikan. Peduli terhadap sesama yang berkekurangan, jogo tonggo, membantu meringankan tetangga yang membutuhkan. Mengembangkan kebersamaan dalam mengatasi pandemi merupakan bukti kaum muslimin mempraktekkan jiwa berkurban dalam kehidupan nyata.

Dengan semangat tahun baru hijriah, marilah kita kembangkan nilai-nilai berkurban: solidaritas sosial, kebersamaan yang tulus kita wujudkan dalam keseharian dengan berbagai aktivitas: gotong royong, gemar menolong, berbagi rezeki, melapangkan jalan orang yang kesulitan, mengedepankan kepentingan publik, dan seterusnya. Semuanya adalah cerminan sikap ihsan kita.

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran (QS An-Nahl:90)”.

Nilai-nilai agama harus menjadi spirit kemajuan. Agama menjadi salah satu elemen untuk mewujudkan Indonesia maju. Salah satu prasyarat negara maju adalah kolaborasi. Dalam agama Islam disebut ta’awun atau tolong menolong.

Indonesia adalah negara yang sangat beragam. Keragaman adalah keniscayaan dalam hidup. Keragaman bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk disinergikan sehingga menghasilkan kekuatan dan kemajuan.

Ta’awun adalah solusinya. Pasca Idul Adha, Tahun baru Hijriah dan HUT ke-37 Kemerdekaan RI, setiap kita perlu menyebarluaskan dan mempraktikan ta’awun untuk Indonesia. Ta’awun adalah tolong-menolong dalam kebaikan dan bukan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan. Ta’awun adalah gotong royong dan tolong menolong untuk Indonesia maju. Dirgahayu Republik Indonesia, Indonesia Tangguh Indonesia Tumbuh. (*)

Baca juga: Opini Ir Sumarwanto, MT: Mencapai Generasi Emas dengan Pendidikan Kepercayaan Terhadap Tuhan YME

Baca juga: OPINI : Peringatan Kemerdekaan dan Kebhinnekaan

Baca juga: OPINI Dr HM Hartopo, MM, MH : Sinergi Atasi Pandemi, Semangat Mengubah “Tersangka” Menjadi “Jawara”

Baca juga: OPINI Syahrul Kirom : Kemerdekaan dan Kebangsaan

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved