Breaking News:

Resensi Buku

Resensi Buku Every Child is Special: Orang Tua dan Perkara Proses Pengasuhan Anak

Resensi buku Every Child is Special oleh Wahid Kurniawan mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Teknokrat Indonesia.

istimewa
Buku Every Child is Special. 

Peresensi Wahid Kurniawan

MENJADI orangtua bukanlah perkara yang mudah dan sepele. Jalan ini adalah senyatanya proses yang panjang, yang tak sebatas pada menumbuhkan seorang anak dari bayi hingga menjadi kanak-kanak.

Dengan panjangnya proses tersebut, kerap kali para orang tua dihadapkan pada beragam hambatan dan tantangan yang terkait dengan perilaku si anak. Tak jarang, para orang tua tak selalu menemukan jalan keluar dalam menghadapi perilaku anak yang berbeda satu sama lainnya.

Persoalan inilah yang disoroti oleh Mega Sinta Wulandari. Penulis dan editor yang memiliki latar belakang pendidikan anak ini menuangkan pemikirannya mengenai isu tersebut dalam buku berjudul Every Child is Special. Lebih dalam, fokus utama yang dibawa Mega adalah teori modifikasi perilaku yang bisa diterapkan pada proses perawatan anak.

Premis buku Every Child is Special ini sebenarnya berangkat dari dua persoalan umum: bagaimana menghadapi perilaku anak yang berbeda-beda? Dan, bagaimana pula menyikapi perilaku anak yang secara khusus cenderung buruk atau menyimpang?

Tentu, menyimpang yang dimaksud Mega di sini ada pada koridor perilaku anak secara umum: nakal, usil, sulit diatur, dan sebagainya. Lalu untuk menyikapinya, Mega memberikan penegasan bahwa semua perilaku anak pada dasarnya adalah respons normal mereka sebagai anak-anak.

Persoalannya, justru ada pada “bagaimana” kita membentuk lingkungan, kebiasaan, dan stimulus diri kita di dalam proses perawatan anak, hingga si anak mengembangkan perilaku-perilakunya sebagai bentuk dari respons mereka.

Hal ini berarti, kuncinya ada pada diri para orangtua. Sikap dan didikan orang tua amat berperan di dalam tahap ini, sebab orang tua adalah orang dewasa pertama yang ditemui anak dan keluarga sebagai lingkungan pertama yang akan memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar (hal. 148).

Sebagai figur utama yang dicontoh anak, perilaku dan sikap orang tua tentu tidak bisa dianggap remeh. Sebab bagaimanapun, apa yang ditunjukkan dan diberikan oleh orang tua turut memengaruhi perilaku yang ditunjukkan anak-anak.

Sayang, hal ini acap diabaikan oleh orang tua. Mereka bahkan kadang terburu-buru dalam melabeli anak-anak. Anak yang lamban, langsung dicap bodoh. Sementara anak yang punya perilaku tidak diharapkan, begitu saja dicap nakal. Padahal, semua itu bagian dari proses pertumbuhan anak.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved