Fokus
Fokus : Saatnya Memperkuat Kuda-kuda
Angka kematian akibat Covid-19 secara nasional kembali menembus angka 1.000 orang dalam sehari. Padahal, pemerintah telah menyatakan, secara keseluruh
Penulis: rika irawati | Editor: Catur waskito Edy
Rika Irawati
Wartawan Tribun Jateng
Angka kematian akibat Covid-19 secara nasional kembali menembus angka 1.000 orang dalam sehari. Padahal, pemerintah telah menyatakan, secara keseluruhan, kasus baru Covid-19 menurun.
Data yang dibagikan Satgas Penanganan Covid-19, Minggu (22/8/2021) sore, kasus kematian 21-22 Agustus mencapai 1.030 orang (Kompas.com). Angka ini mendekati kejadian saat lonjakan kasus, Juni-Juli lalu.
Tentu saja, angka ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri di tengah pelonggaran kegiatan masyarakat yang mulai dilakukan, termasuk di Jawa Tengah.
Seperti diketahui, beberapa wilayah di Jateng mulai melakukan pelonggaran, semisal pembukaan mal dan membuka pembelajaran tatap muka.
Sebenarnya, tak ada yang salah dari pelonggaran yang dilakukan. Apalagi, beberapa mensyaratkan penunjukkan vaksin untuk mengakses fasilitas yang dibuka.
Namun, syarat ini tak menjamin berhentinya penularan virus SARS-CoV-2. Apalagi, program vaksinasi Covid-19 di Jateng masih rendah dan tak merata.
Selama ini, akses warga mendapatkan vaksin masih rendah. Pembagian vaksin ke kabupaten/kota yang tak merata, berdasarkan kuota dan bukan jumlah penduduk wilayah, bahkan membuat beberapa bupati di Jateng, sambat. Saat vaksin tersedia, warga harus rebutan mendaftar secara daring.
Kekhawatiran lain yang muncul, Jawa Tengah masuk daftar 10 provinsi yang diperingatkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) karena memiliki angka testing dan tracing yang masih rendah.
Testing rate 10 provinsi ini berada di bawah rata-rata nasional sehingga ancaman ledakan kasus masih bisa terjadi.
Soal testing dan tracing ini, beberapa kendala justru datang dari kalangan tenaga kesehatan (nakes). Terutama mereka yang bertugas di pelosok desa, di level puskesmas atau bidan desa.
Masih ada nakes yang belum paham terkait Covid-19 hingga enggan melakukan sosialisasi dan memberi layanan kesehatan. Alasannya, takut berkontak erat karena khawatir tertular Covid-19.
Kalau sudah seperti ini, warga tentu enggan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Bahkan, banyak yang memilih melakukan isolasi mandiri tanpa pemeriksaan dan mendapat diagnosa atas sakit yang dialami.
Mereka pun tak mendapat akses obat yang tepat. Akhirnya, saat terjadi perburukan dan di bawa ke rumah sakit, kondisinya sudah mengkhawatirkan.
Belum terlambat untuk memperbaiki kondisi ini. Apalagi, WHO memperkirakan, badai Covid-19 masih mungkin terjadi karena virus tersebut pandai bermutasi. Tak ada yang tahu, bagaimana virus yang telah bermutasi nanti bakal menginfeksi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/rika-irawati-wartawan-tribun-jateng.jpg)