Fokus
Fokus : Kemana Selisih Harga PCR?
Viral perbedaan harga tes uji polymerase chain reaction (PCR) di Indonesia dan negara-negara lain berbuah manis (untuk rakyat). Tes PCR ini bermanfaat
Penulis: Erwin Ardian | Editor: Catur waskito Edy
Oleh Erwin Ardian
Wartawan Tribun Jateng
Viral perbedaan harga tes uji polymerase chain reaction (PCR) di Indonesia dan negara-negara lain berbuah manis (untuk rakyat). Tes PCR ini bermanfaat untuk mengetahui seseorang terjangkit virus corona.
Sebelumnya viral netizen yang membandingkan perbedaan harga PCR di Indonesia dan beberapa negara lain. Dari perbandingan itu, harga PCR di Indonesia yang berada di kisaran Rp 900 ribu, ternyata jauh lebih mahal.
Di India harga PCR jauh lebih murah dari Indonesia, hanya Rp 96.000. Harga PCR di Malaysia juga tergolong lebih murah yakni Rp 509 ribu. Filipina mematok harga lebih murah lagi dari Malaysia, Rp 427.000 saja, bahkan ada subsisi PCR yang bisa dilakukan untuk anak.
Meski bukan masuk jajaran negara kaya, rupanya harga PCR di Indonesia masih jauh lebih mahal dari Vietnam. Pemerintah Vietnam hanya mematok harga Rp 460.000 bagi rakyatnya.
Tak lama setelah viralnya selisih harga tes PCR di Indonesia dan beberapa negara lain, Presiden RI Joko Widodo akhirnya ‘memaksa’ pihak terkait segera menurunkan harga tes PCR yang sebelumnya di kisaran Rp 900 ribu, menjadi Rp 450 ribu-550 ribu.
Ultimatum yang disampaikan presiden langsung membuahkan hasil. Kementerian Kesehatan segera menurunkan biaya tes PCR di wilayah Jawa-Bali menjadi Rp 495.000 dan luar Jawa Bali Rp 525.000 berlaku mulai Selasa, 17 Agustus 2021.
Dibandingkan dengan biaya sebelumnya, biaya sekali tes PCR lebih murah sekitar Rp 400.000. Turunnya biaya PCR ini layak disyukuri. Bayangkan saja karena tes ini wajib dilakukan oleh semua penumpang pesawat, bisa dihitung akumulasi biaya yang harus dikeluarkan oleh penumpang pesawat. Tak hanya itu, tes PCR juga sangat diperlukan oleh mereka yang memiliki gejala Covid-19 dan ingin memastikannya.
Namun yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa bisa semudah itu menurunkan harga PCR? Berapakah seharusnya harga dasar PCR? Kemana larinya selisih harga yang sudah terlanjur mahal selama ini? Apakah ada pihak-pihak yang sudah lama menikmati pesta untung besar dari tes PCR?
Belum ada kalkulasi kerugian masyarakat yang sudah terlanjur membayar harga mahal untuk PCR. Gampangnya penurunan harga ini menimbulkan pertanyaan kritis, jangan-jangan memang benar harganya terlalu mahal, ada penggelembungan harga dan ada pihak yang selama menikmati keuntungan dari penderitaan rakyat.
Tanda-tanda yang semakin mencurigakan adalah, tak ada perlawanan sama sekli dari pihak-pihak penyedia PCR ketika harga diturunkan menjdi separuh dari sebelumnya. Padahal jika benar harga seharusnya Rp 900 ribu, mereka tentu akan protes keras karena merugi.
Kasus penurunan mendadak tanpa perlawanan tes PCR ini memberikan pelajaran berharga bagaimana konsumen harus kritis terhadap kebijakan pemerintah. Dalam masa pandemi, tes PCR tak ubahnya seperti bahan pokok yang vital dan sangat dibutuhkan masyarakat.
Harga PCR yang tak menentu membuktikan bahwa permainan harga sangat memungkinkan terjadi di negeri ini. Kalau ini bisa terjadi pada PCR, bukan mustahil permainan harga seperti ini bisa terjadi untuk bahan penting lainnya seperti beras, minyak, obat dan kebutuhan lain. (*)
Baca juga: Video Pemprov Jateng Gandeng Pos Indonesia Salurkan BST ke Warga Terdampak PPKM
Baca juga: Ketua Komisi Yudisial: Hakim Nakal Kami Jewer, Hakim Dianiaya Kami Bela
Baca juga: Inter Milan Dikabarkan Selangkah Lagi Dapatkan Correa dari Lazio
Baca juga: Gurun Minta Novel Baswedan dan Pegawai KPK Gagal Lolos Tes Legowo
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/erwin-ardian-180721.jpg)