OPINI

OPINI : Adab Literasi Digital Bebas dari Hoaks

Berbicara mengenai hoax (hoaks) memang tak ada habis-habisnya. Apalagi, di masa pandemi Covid-19 ini, penyebarannya bisa dikata semakin liar tak terke

Bram
Suwanto 

Oleh: Suwanto
Peneliti Pada Pascasarjana UNY

Berbicara mengenai hoax (hoaks) memang tak ada habis-habisnya. Apalagi, di masa pandemi Covid-19 ini, penyebarannya bisa dikata semakin liar tak terkendali, lebih-lebih di media sosial (medsos). Ini tentu menjadi alarm bahaya, di tengah kepungan wabah Covid-19, justru bersamaan dengan itu juga dihadapkan pada gelombang hoax soal Covid-19.

Bahkan, Masyarakat Anti-fitnah Indonesia (Mafindo), yang notabene merupakan organisasi yang giat mengkampanyekan anti-hoax dan verifikasi hoax ataupun disinformasi pada Rabu (21/7) mengeluarkan pernyataan mengejutkan soal meningginya angka penyebaran hoax atau informasi palsu di medsos mengenai vaksin Covid-19.

Dalam rilis yang dipublikasikan oleh Mafindo tersebut melalui laman TurnBackHoax.ID mencatat setidaknya terdapat 1.060 hoax Covid-19 sejak Januari 2020 hingga Juli 2021. Di antaranya mengandung narasi buruk yang membahayakan dan merusak upaya penanganan pandemi.

Sementara, kalau kita tengok Survei yang dilakukan oleh Masyarakat Telematika (Mastel) di 2019 terhadap 941 responden mengidentifikasikan ragam berita hoax yang marak diterima. Rinciannya di antaranya yaitu 93,2% tentang sosial politik; SARA 76,2%; hoax pemerintahan 61,7%; hoax bencana alam 29,3%, dan hoax berisi info pekerjaan 24,4%.
Karena Iseng
Ironinya lagi, tiga peringkat teratas berita-berita hoax yang sering diterima umumnya berisi ujaran kebencian atau informasi-insformasi yang mengarahkan pada narasi adu domba antara satu golongan dengan golongan lain. Namun, parahnya 4,6% responden memilih menyebarkan informasi hoax karena iseng.

Lesatan perkembangan internet dan medsos telah menyeret dimensi ruang dan waktu tanpa sekat. Kondisi ini menjadikan pesan berantai hoax berkaitan Covid-19 di medsos menjadi liar tak terkendali.

Itu artinya, yang kita perangi saat ini bukan hanya virus Covid-19 saja, akan tetapi juga berita bohong atau hoax Covid-19. Di mana di masa-masa pandemi ini bahaya gelombang hoax akan semakin mengerikan.

Ketika hoax sudah sedemikian brutal, perang melawannya bukan lagi soal akal sehat semata. Namun juga tentang adab literasi digital masyarakat internet (netizen) dan juga penegakan hukum yang tegas.

Apalagi, hoax saat ini bukan lagi diproduksi dengan memelintir fakta saja. Ia bahkan diproduksi berdasarkan hal-hal yang tidak ada sama sekali. Pemainnya pun bukan hanya simpatisan kelas teri, melainkan sudah melibatkan oknum elite pejabat yang tak bertanggung jawab.

Oleh karenanya, perlu dipahami bahwa dalam mengakses informasi yang beredar di medsos ataupun jagad maya, perlu memahami adab literasi digital yang baik dan bijak. Hoax adalah perkara yang dibenci oleh Allah SWT karena merupakan akar turunan dari bohong atau berdusta.

Dan perilaku pembuat dan penyebar hoax sangat hina, sehingga dibenci oleh Allah SWT. Sebagai bangsa yang cinta damai tentunya wajib menjaga diri agar tidak terjerumus ke dalam kubangan hoax. Sebab, banyak orang yang tak sadar menyebarkan informasi hoax karena ketidaktahuannya.

Gabung komunitas

Di samping itu juga sebagai upaya memberantas hoax tentunya perlu adanya counter narrative yang berdasarkan nilai kejujuran dan kebenaran. Sesegera mungkin kita turut ambil bagian untuk menangkal hoax supaya dapat kita tumpas sampai ke akar-akarnya. Kalau perlu kita membuat atau ikut dalam komunitas anti-hoax.

Sebagaimana disebutkan Kominfo, Japelidi, Siberkreasi (2021) dalam “Etis Bermedia Sosial”, selama ini sudah lumayan banyak hadir komunitas yang membuat kelompok Facebook anti hoaks, seperti Indonesian Hoax Buster, Indonesian Hoaxes, Sekoci, dan Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax.

Aktivitas yang dilakukan oleh kelompok ini seperti berbagi dan berdiskusi terkait isu yang 68 beredar, apakah termasuk hoaks atau bukan? Kemudian, mengklarifikasi hoaks dengan informasi yang benar.

Pun demikian masyarakat digital tidak mudah panik karena menyerap informasi yang benar dengan sumber yang kredibel serta segera melapor kepada pihak yang berwajib mana kala mendapati berita hoax.

Harapannya dengan berbagai kaidah adab literasi digital tersebut, hoax dapat ditumpas habis sampai ke akar-akarnya, semoga. (*)

Baca juga: OPINI Ade Mulyono : Ilusi Pendidikan Kaum Miskin

Baca juga: OPINI : Pertumbuhan Ekonomi yang Manusiawi

Baca juga: OPINI Djoko Subinarto : Oligarki dan Tantangan Parpol Kita

Baca juga: OPINI Opik Mahendra : Petani Rempah Ngalap Berkah

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved