Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Jawa Tengah

Pesisir Tenggelam, Pekalongan dan Semarang Dinilai Paling Rawan Ancaman Turunnya Permukaan Tanah

Tenggelamnya pesisir utara Pulau Jawa bukan lagi sebuah prediksi, namun sudah menjadi ancaman. Kenaikan permukaan air laut lebih cepat terjadi.

Editor: moh anhar
Tribun Jateng/Budi Susanto
Sejumlah bangunan di wilayah Tambak Mulyo Kota Semarang rusak dan tergenang air, kondisi itu disebabkan oleh penurunan mula tanah dan abrasi wilayah pesisir utara Kota Semarang, Sabtu (7/8/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Kerentanan kawasan Asia Tenggara terhadap kenaikan permukaan air laut ditemukan lebih cepat terjadi dibandingkan daerah lain.

Hal ini semakin diperburuk oleh pergeseran tektonik dan efek surutnya air tanah.

Demikian disampaikan Edvin Aldrian, Pakar Iklim dan Meteorologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Ia mengatakan, hilangnya wilayah pesisir dan kemunduran garis pantai di Asia Tenggara telah diamati dari tahun 1984-2015.

Proyeksi menunjukkan bahwa permukaan laut regional rata-rata terus meningkat.

Berdasarkan laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) atau Panel Antar Pemerintah tentang Perubahan Iklim tahun 2021, kawasan Asia Tenggara akan mengalami dampak yang cukup parah.

Hal tersebut menandakan tenggelamnya pesisir utara Pulau Jawa bukan lagi sebuah prediksi, namun sudah menjadi ancaman.

Baca juga: Wisata Bersama Keluarga Sembari Beramal di Kayangan Tebing Alfath, Tiket Masuk untuk Bangun Mesjid

Baca juga: Gubernur Jateng Ganjar Pranowo Ingin Kota Lama Masuk Kalender Even Internasional

Baca juga: Berawal Tetangga Minta Air Minum, Pria Ini Bunuh Bayi 7 Bulan di Depan Warga

"Ini membuat kejadian banjir lebih sering di daerah pantai. Ditambah lagi Tingkat Total Ekstrim Air (Extreme Total Water Level/ETWL) lebih tinggi di daerah dataran rendah dan erosi pantai mulai terjadi di sepanjang pantai berpasir,” ungkap Edvin dalam Webinar yang diselenggarakan BRIN, dikutip Kontan.co.id, Kamis (16/9).

Edvin menegaskan bahwa kenaikan air laut tak lepas dari fenomena mencairnya es di kutub bumi dan pemuaian air laut karena pemanasan global.

Hal inilah yang mengakibatkan penambahan volume air laut, serta meningkatnya intensitas dan frekuensi banjir yang menggenangi wilayah daratan.

“Dapat disimpulkan bahwa perubahan iklim yang disebabkan aktivitas manusia menyebabkan tingkat banjir yang lebih tinggi termasuk yang terjadi pada pesisir utara Pulau Jawa,”imbuhnya.

Peneliti Ahli Utama BRIN, Eddy Hermawan mengungkapkan fenomena turunnya permukaan tanah di pesisir utara Pulau Jawa lebih mengkhawatirkan dibandingkan dengan selatan Jawa yang struktur geologinya cenderung berbukit.

“Cirebon, Pekalongan, Semarang, dan Surabaya adalah kota-kota pesisir utara Jawa yang paling rawan terhadap penurunan tanah ekstrim hingga tahun 2050," kata Dia.

Dimana kondisi morfologi daerah pesisir yang relatif datar membuat hampir seluruh aktivitas pembangunan infrastruktur jalan dan perekonomian dipusatkan di utara Jawa.

Hal tersebut membuat beban tanah karena bangunan dan penyedotan atas penggunaan air tanah menjadi lebih intensif dibandingkan dengan wilayah lain.

"Untuk itu, upaya mitigasi dengan kebijakan penggunaan air tanah, penanaman mangrove, dan pencegahan perusakan lingkungan harus segera dilakukan,” ujar Eddy.

Peneliti Ahli Utama Bidang Teknologi Penginderaan Jauh BRIN, Rokhis Khomarudin menuturkan, dampak perubahan iklim terhadap pesisir utara Pulau Jawa semakin tinggi dengan dipicu oleh penurunan permukaan tanah di wilayah tersebut.

Manusia disebut menjadi faktor penyebab yang signifikan.

Baca juga: Bruno Silva Membantah jika Disebut Dapat Hak Istimewa di PSIS Semarang

Baca juga: Lirik Lagu dan Chord Gitar Terlalu Cinta Rossa: Tuhan Maafkan Diri Ini yang Tak Pernah Bisa Menjauh

Baca juga: Berawal Tetangga Minta Air Minum, Pria Ini Bunuh Bayi 7 Bulan di Depan Warga

Dimana konsumsi air tanah yang masif dan tidak terkendali menyebabkan turunnya permukaan tanah.

"Walaupun saat ini dampaknya belum terlalu terasa, namun risiko turunnya permukaan tanah jelas membawa kerugian besar, baik dari sisi sosial maupun ekonomi bagi negara kepulauan seperti Indonesia,” jelasnya.

Rokhis memaparkan, berdasarkan hasil pemantauan citra satelit terbukti terjadi penurunan muka tanah di DKI Jakarta antara 0,1 cm hingga 8 cm per tahun, Cirebon antara 0,3 cm hingga 4 cm per tahun, Pekalongan antara 2,1cm hingga 11 cm per tahun, Semarang antara 0,9 hingga 6 cm per tahun, dan Surabaya antara 0,3 hingga 4,3 cm per tahun.

Dari data satelit terlihat bahwa pesisir utara Jawa, terutama Pekalongan, mengalami penurunan muka tanah yang paling tajam.

Kondisi geologi daerah pesisir yang merupakan tanah lunak ditunjang dengan peningkatan pembangunan pemukiman dan penggunaan air tanah menyebabkan penurunan muka tanah semakin tinggi.

Oleh karena diperlukan adanya monitoring terhadap penurunan tanah dan laju perubahan garis pantai akibat perubahan ketinggian air laut. (*)

Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul "BRIN Ingatkan Pesisir Utara Pulau Jawa Darurat Tenggelam"

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved