Fokus
Fokus : Antisipasi Gelombang Ketiga
sekarang justru sekolah-sekolah yang menjadi klaster baru penyebaran covid-19. Masa anak-anak bakal tidak sekolah lagi-Red
Oleh Arief Novianto
Wartawan Tribun Jateng
"Saiki malah sekolah-sekolah sing dadi klaster anyar covid-19. Mosok bocah-bocah yo meh ora sekolah meneh (sekarang justru sekolah-sekolah yang menjadi klaster baru penyebaran covid-19. Masa anak-anak bakal tidak sekolah lagi-Red)?" kata satu tetangga saya, dalam diskusi ngalor-ngidul di pos ronda kampung, petang kemarin.
Yah, hal itu menanggapi ramainya pemberitaan mengenai banyaknya siswa di sejumlah sekolah yang terinfeksi covid-19, meski pembelajaran tatap muka (PTM) baru saja dimulai.
Di Jepara misalnya, sebanyak 25 siswa dan tiga guru Mts Al Muttaqi, di Desa Rengging, Kecamatan Pecangaan terkonfirmasi positif covid-19. Hal itupun membuat Bupati Jepara Dian Kristiandi memutuskan menghentikan PTM di seluruh wilayah kabupaten itu.
Di Purbalingga, kluster covid-19 muncul di SMPN 4 Mrebet, dengan 90 siswa terkonformasi positif corona, menyusul 61 siswa di SMPN 3 Mrebet yang juga positif covid-19 setelah dilaksanakan tes rapid antigen pada Selasa (21/9).
Di Kota Semarang tercatat tujuh orang terpapar, yakni guru dan siswa di lima sekolah, meliputi satu di SMP negeri, satu di SMP swasta, dua SD negeri, dan satu SD swasta. Meski demikian, kasus di Kota Semarang disebut berawal dari keluarga, bukan dari dalam sekolah.
Sementara di Blora tercatat delapan sekolah melakukan screening sebelum PTM, dan ditemukan sekitar 40 kasus pada guru dan siswa, yang juga diklaim penularannya dari keluarga.
Menanggapi hal itu, Ketua Pengurus Provinsi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jateng, Muhdi mengaku prihatin terjadinya klaster covid di sekolah. Ia pun mengimbau PTM harus dihentikan, atau sekolah harus ditutup untuk memutus mata rantai penularan.
Menurut dia, PTM bisa dilaksanakan secara fleksibel sesuai dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 menteri. Artinya, sekolah harus menghentikan PTM terbatas, lalu dibuka kembali jika kondisi sudah aman.
"Jika terjadi kasus harus ditutup, dan bagi yang terkonfirmasi positif covid bisa dilakukan isolasi. Bagi sekolah yang menjadi klaster maka segera ditutup dan dipastikan apa masalahnya. Protokol kesehatan harus ditingkatkan," tegasnya.
Senada diungkapkan anggota Komisi E DPRD Jateng, Yudi Indras Wiendarto. Menurutnya, klaster yang muncul di tengah PTM di sejumlah sekolah di Jateng harus disikapi serius oleh pemerintah. Bisa saja, munculnya klaster di sekolah itu menjadi pertanda kasus covid di Jateng akan kembali tinggi.
"Jangan sampai gelombang ketiga kasus covid di Jateng terjadi. Setop dulu PTM, kesiapan sekolah harus dievaluasi. Kalau memang klaster besar, maka PTM di wilayah tersebut hendaknya dihentikan dulu semuanya," kata politisi Partai Gerindra itu.
Rasanya, gelombang ketiga covid-19 menjadi ketakutan tersendiri yang juga jamak dialami berbagai negara di dunia, mengingat dampak pembatasan akibat penyebaran virus corona yang sangat luas di berbagai sektor, terlebih dengan munculnya berbagai varian baru yang disebut-sebut sangat ganas.
Di tengah dimulainya pelonggaran pembatasan aktivitas masyarakat di Indonesia, bersamaan dengan penurunan kasus covid-19, hingga upaya hidup berdampingan dengan virus corona, kecermatan dalam menentukan kebijakan menjadi ujian pemerintah saat ini, di mana tentunya harus didukung masyarakat. Terpenting adalah mengantisipasi gelombang ketiga. (*)
Baca juga: Hasil Carabao Cup: Tanpa Ronaldo Manchester United Tumbang dari West Ham, Mulai Ketergantungan
Baca juga: Cara Daftar Turnamen Esports PUBG dan Efootball PES, Super Esports Series 2021 Hadiah Rp 300 Juta
Baca juga: Kode Redeem FF Kamis 23 September 2021 Server Indonesia Hari Ini
Baca juga: Ramalan Zodiak Cinta Hari Ini Kamis 23 September 2021, Sagitarius Hubunganmu Mudah Rapuh
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/arief-novianto-korlip_20170809_073733.jpg)