Breaking News:

Keren Ini Mahasiswa Semarang Bisa Membuat Detail Kerajinan Wayang Kulit

Adalah Putranda Ekky Pradana (23), mahasiswa tingkat akhir di Unnes jurusan Sastra dan Pendidikan Bahasa Jawa menekuni profesi sebagai perajin wayang

Editor: iswidodo

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Masih ada pemuda yang menekuni dan melestarikan budaya adiluhung, termasuk Wayang Kulit. Adalah Putranda Ekky Pradana (23), mahasiswa tingkat akhir di Unnes jurusan Sastra dan Pendidikan Bahasa Jawa menekuni profesi sebagai perajin wayang kulit.
Saat Tribunjateng.com mengunjungi Sanggar Wayang di Perum Graha Surya RT 07 RW 02 Jalan Pramuka Pudakpayung, Banyumanik Kota Semarang, tampak Ekky sedang membuat draf lukisan di atas kulit kerbau yang telah disamak. Tangannya tampak mahir menggambar tokoh pewayangan. Ada Werkudara, Arjuna, Puntadewa, dan lain-lain. Dan tak jauh dari tempat duduknya, sejumlah tokoh pewayangan termasuk buto ukuran besar sudah dipajang rapi. Tampak wayang-wayang itu masih baru.

SKETSA WAYANG - Sebelum memahat kulit kerbau menjadi wayang dan diwarnai, Ekky membuat sketsa atau gambar tulisan tangan terlebih dulu. Ekky adalah mahasiswa di Kota Semarang yang membuat kerajinan wayang kulit sendiri
SKETSA WAYANG - Sebelum memahat kulit kerbau menjadi wayang dan diwarnai, Ekky membuat sketsa atau gambar tulisan tangan terlebih dulu. Ekky adalah mahasiswa di Kota Semarang yang membuat kerajinan wayang kulit sendiri (tribunjateng/mahasiswa Undip Magang)

Untuk membuat wayang, tahapannya antara lain, menggambar atau sketsa draft di atas kulit. Kemudian atur pola dan motifnya, potong dan lanjut memahat atau mengukir mengikuti sketsa dimaksud. Setelah potongan utuh, dilanjut pahatan secara detail. Setelah itu baru kemudian diberi gagang atau cempurit atau gapit berbahan tanduk kerbau. Pengecatan dimulai dengan cat warna dasar baru dilanjut warna warni sesuai pakemnya tokoh wayang.
"Awal mula tertarik dengan wayang ya waktu kecil sering diajak nonton wayang sama kakek, baik kakek yang di Semarang ini maupun kakek yang di Klaten. Dari kebiasaan sering nonton itu kemudian timbul ketertarikan. Suka wayangnya bukan pakeliran atau tembangnya. Dari situ saya ingin buat wayang sendiri," kata Ekky sambil menunjukkan sejumlah wayang hasil karyanya, Senin (7/9/2021).
Menurut dia, keinginan kuat untuk membuat wayang sendiri, karena di Kota Semarang jarang ada orang membuat wayang kulit. Yang ada para penggemar atau kolektero wayang kulit. Ada beberapa dalang di Semarang tapi mereka tidak membuat sendiri wayangnya.
Latihan pakai kardus
Saat kelas 3 SD Ekky sudah coba membuat wayang sendiri. Ia mengaku belajar membuat wayang secara otodidak dari melihat gambar-gambar di internet maupun sosial media. Mulanya wayang Ekky menggunakan bahan kardus, kertas karton, atau fiber. Masuk SMA kelas 2, Ekky mulai membuat wayang berbahan kulit kerbau hingga sampai saat ini.
Ekky menambahkan wayang yang pertama kali ia buat adalah tokoh wayang favoritnya, Bima. Tokoh Bima dalam pewayangan memiliki sifat yang tegas dan lugas, tidak ingah-ingih, karena itulah Ekky kepincut dengan Bima.Untuk mengerjakan wayang kulit ini Ekky bekerjasama dengan orang lain karena makin banyak pesanan dan laris. Dia menggandeng beberapa penatah dan pemulas di daerah Klaten guna memenuhi pesanan. Langganan Ekky biasanya dalang-dalang dan kolektor wayang dari berbagai daerah meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Palembang, dan Bali. Tidak hanya dalam negeri, karya Ekky juga telah merambah mancanegara seperti Korea, Jepang, dan Meksiko.
Tambah emas
Lama proses pembuatan wayang kulit tergantung dari ukuran dan kualitas, tapi biasanya, untuk satu wayang kulit memakan waktu 2-3 minggu. Produk wayang Ekky yang best seller yaitu tokoh Gatotkaca. "Tokoh yang paling sering dipesan biasanya tokoh-tokoh umum yaa kayak tokoh Gatotkaca, Bima itu. Tapi kalau produk saya yang paling sering Gatotkaca," kata Ekky.
Dalam proses pembuatan, Ekky juga menaruh perhatian khusus pada motif wayang-wayangnya sehingga setiap wayang buatan Ekky pasti memiliki motif berbeda.
Produk wayang Ekky terdapat dua jenis yakni kualitas bagus dan kualitas standar. Wayang dengan kualitas bagus menggunakan emas asli sebagaimana emas yang digunakan pada makanan. Sedangkan wayang dengan kualitas standar menggunakan emas imitasi. Kisaran harga wayang kualitas bagus mulai dari Rp 1 juta. Sementara untuk kualitas standar dibandrol mulai Rp 750 ribu. Tentu saja, harga menyesuaikan dengan jenis, ukuran, dan tingkat kerumitannya. Dalam sebulan, Ekky dapat menghasilkan 5-6 wayang.
"Kendalanya tak ada. Membuat wayang itu tergantung mood. Mood kendala paling besar," jelas Ekky. Ia mengaku membutuhkan mood yang bagus untuk menghasilkan karya yang bagus pula. Selain kendala tersebut, terkadang Ekky menerima pelanggan dengan “permintaan khusus” alias detail. Biasanya datang dari kolektor-kolektor wayang yang memiliki permintaan lebih rumit daripada dalang.
Terkait situasi pandemi saat ini, Ekky mengaku sempat terhenti produktivitas wayangnnya pada bualan Agustus-Oktober 2020. Penyebabnya karena para seniman dan dalang yang tanggapannya (panggilan untuk pentas) berkurang. Namun, semenjak telah ada perizinan pentas virtual maupun streaming kini usaha Ekky mulai menggeliat kembali.
Ekky akui bangga dan senang tatkala karyanya dipakai pentas oleh dalang. Harapannya wayang dapat terus mengikuti perkembangan zaman dan lestari, Khususnya di daerah Semarang. "Pesan untuk generasi muda, jangan sampai wayang nantinya diklaim negara lain. Karena para generasi sekarang kurang menyukai wayang. Padahal wayang sendiri tu, dalam bentuknya sudah mengandung cerita. Seni pedalangan juga bisa mengikuti perkembangan zaman," tutur dia. (TRIBUNJATENG/Mahasiswa Undip Magang/Asti/Novel)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved