Breaking News:

Berita Salatiga

Kuasa Hukum Maryuni Kempling Pertanyakan 60 Reseller Lelang Arisan Online Fiktif Salatiga 

Khasus penipuan dan penggelapan dengan modus lelang arisan online fiktif di Salatiga masih terus berlanjut. 

Penulis: hermawan Endra | Editor: Catur waskito Edy
hermawan endra
Visnu Hadi Prihananto selaku kuasa hukum dari Resa Agata Putri Nugraheni (24) atau  akrab disapa Maryuni Kempling saat memberikan keterangan pers di Salatiga, Sabtu (25/9).  

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Khasus penipuan dan penggelapan dengan modus lelang arisan online fiktif di Salatiga masih terus berlanjut. 

Visnu Hadi Prihananto selaku kuasa hukum dari Resa Agata Putri Nugraheni (24) atau  akrab disapa Maryuni Kempling, tersangka yang kini mendekam di Mapolres Salatiga menuntut agar petugas kepolisian mengungkap kasus ini secara terang benerang. 

Terutama perihal keterlibatan 60 admin atau reseller di dalam khasus ini. 

Menurut Visnu, keenam puluh reseller tersebut diduga turut terlibat di dalam aksi kejahatan penipuan dan penggelapan dengan modus lelang arisan online fiktif ini. Sebab, selain telah mendapatkan keuntungan mereka juga yang merekrut dan menghimpun dana dari member atau anggota. 

Dana tersebut kemudian disetorkan kepada kliennyam baik secara transfer maupun tunai. Namun ada juga reseller yang tidak menyetorkan uang hingga waktu jatuh tempo. Ketika ditanya berapa total uang yang dibawa kliennya sejak dari awal menjalankan aksi penipuan ini, Visnu mengaku belum memegang data. 

Keterlibatan reseller tersebut sudah cukup menjadi dasar aparat kepolisan untuk menetapkan mereka semua sebagai tersangka. 

"Kami berharap Kepolisan mengungkap khasus ini secara terang benerang. Digali data keterlibatan admin yang kii masih bebas. Mereka semua sudah menikmati keuntungan, harus ditetapkan tersangka karena persekongkolan," ujar Visnu Hadi Prihananto saat menggelar konferensi pers di Salatiga, Sabtu (25/9). 

Visnu Hadi Prihananto mengungkapkan kliennya telah mengakui bahwa dari awal berniat melakukan penipuan. Namun ide untuk melakukan aksi kejahatan tersebut berawal dari perintah suami siri Resa berinisial B yang kini tidak diketahui keberadaanya. 

"Banyak keuntungan yang telah diperoleh oleh para admin atau reseller, Kalau mereka melaporkan Resa itu artinya maling teriak maling," imbuhnya. 

Ia juga mengungkapkan dalam melakukan penipuan kliennya merupakan owner, sehingga tidak ada jaringan lain di atasnya. Saat awal menjalankan aksi kejahatan ini kliennya menempatkan modal Rp 300 juta.

Perihal tentang ketidak ikutsertanya mendampingi klien pada saat konferesni pers yang digelar Polres Salatiga kemarin Jumat (24/9) kemarin, Visnu mengaku tidak mendapatkan undangan atau informasi dari polisi. Namun terlepas dari itu semua, ia mengapreasiasi kinerja Kepolisan dan mendorong agar kasus ini dibuka secara terang benerang, khususnya keterlibatan 60 reseller.  (*)

Baca juga: Ikadin Jawa Tengah Keberatan Penggunaan Nama dan Logo dalam PKPA oleh Sebuah Universitas

Baca juga: PGN Menghormati Keputusan Hukum Tertinggi Terkait Perkara Pajak

Baca juga: HASIL LIGA 1 : Kepala Berdarah Hiasi Laga Madura United Vs PSS Sleman, Jaimerson Jadi Pahlawan

Baca juga: Kisah Mahasiswa Turki Wisuda di UMP Purwokerto: Saya Tinggalkan Kuliah di Pakistan

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved