Breaking News:

Guru Berkarya

Menganalisis Ibrahimovic Effect untuk Membentuk Konselor Teman Sebaya

Berdasarkan data statistik pertandingan AC Milan di Serie-A pada tahun 2020, tidak sekalipun AC Milan mengalami kekalahan di tahun tersebut.

Editor: abduh imanulhaq
IST
Panggih Cahyo Imami SPd, Guru BK SMPN 3 Warureja Kab Tegal 

Oleh: Panggih Cahyo Imami SPd, Guru BK SMPN 3 Warureja Kab Tegal

Pencinta Serie A Italia khususnya penggemar AC Milan tentu sangat mengenal sosok Zlatan Ibrahimovic. Pemain senior yang telah bermain lebih dari 500 pertandingan di tim-tim Eropa sejak membela Ajax, Juventus, Inter Milan, AC Milan, Paris Saint-Germain, dan Manchester United. Pengalamannya dalam karir sepak bola membuatnya lebih mudah dalam memahami cara bermain di level tertinggi.

Berdasarkan data statistik pertandingan AC Milan di Serie A pada tahun 2020, tidak sekalipun Milan mengalami kekalahan di tahun tersebut. Bahkan pada akhir musim 2020/2021, Milan berhasil menduduki peringkat 2 di klasemen akhir Serie A. Hasil ini membuat mereka kembali ke Liga Champions setelah 7 tahun absen.

Diakui atau tidak, sejak Ibra kembali menjadi pemain AC Milan, tim ini mengalami kemajuan yang pesat. Dikutip dari berbagai sumber, hadirnya Ibrahimovic menambah motivasi pemain lain saat berlatih maupun bertanding. Selain itu, sosoknya mampu menumbuhkan mental dan keberanian bagi para pemain lainnya, khususnya pemain muda yang masih minim pengalaman. Oleh karena itu, penulis menganalisis efek Ibrahimovic untuk membentuk konselor teman sebaya di SMP Negeri 3 Warureja.

Menurut Suwarjo (2008) dalam “Konseling Teman Sebaya untuk Mengembangkan Resiliensi Remaja”, konseling teman sebaya adalah program bimbingan yang dilakukan oleh individu terhadap individu yang lainnya. Individu dalam hal ini adalah peserta didik yang menjadi pembimbing sebelumnya diberikan latihan atau bimbingan oleh guru BK yang selanjutnya disebut konselor sebaya.

Peserta didik yang menjadi konselor sebaya berfungsi sebagai mentor atau tutor yang membantu peserta didik lain dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, baik akademik maupun non-akademik. Di samping itu dia juga berfungsi sebagai mediator yang membantu guru BK dengan cara memberikan informasi tentang kondisi, perkembangan atau masalah peserta didik yang perlu mendapat layanan bantuan bimbingan atau konseling.

Pembentukan konselor teman sebaya yang dilaksanakan oleh penulis pada peserta didik kelas IX SMP Negeri 3 Warureja yang telah dipilih sebagai calon konselor sebaya. Calon konselor sebaya dipilih berdasarkan social learning theory dan diffusion of innovation theory. Secara garis besar, teori tersebut mengemukakan bahwa pada dasarnya manusia merupakan model bagi manusia lainnya dan beberapa orang memiliki pengaruh untuk mendatangkan perubahan.

Dijelaskan pula bahwa orang yang dapat dipercaya dari suatu populasi/kelompok merupakan orang yang mempu membawa perubahan pada perilaku orang lain melalui pemberian informasi dan mempengaruhi norma dalam kelompok pada suatu komunitas. Dalam praktiknya, penulis memilih peserta didik yang memiliki kemampuan seperti Ibra di Milan, yakni peserta didik yang mampu memberikan motivasi, memberi rasa aman, dipercaya, dan memberi pengaruh dalam hal ini pengaruh yang positif kepada peserta didik yang lainnya.

Tahap selanjutnya adalah pelatihan konselor sebaya. Tujuan utama pelatihan konselor sebaya adalah meningkatkan jumlah remaja yang memiliki dan mampu menggunakan keterampilan-keterampilan pemberian bantuan. Pelatihan ini tidak dimaksudkan untuk menghasilkan personal yang menggantikan fungsi dan peran konselor.

Sikap dan keterampilan dasar konseling yang meliputi attending, empathizing, summarizing, questioning, dan directing. Pada intinya, keterampilan dasar yang harus dimiliki konselor sebaya bertujuan agar konselor sebaya mampu membina suasana yang aman, nyaman, dan menimbulkan rasa percaya sehingga konselor sebaya mampu melakukan komunikasi interpersonal dengan efektif.

Melalui konseling teman sebaya yang telah dilakukan, penulis menyimpulkan kegiatan konseling kelompok dapat terlaksana sesuai tujuan dan mendapatkan hasil yang baik. Tentunya hal ini tidak lepas dari peran konselor sebaya yang mampu memimpin kegiatan konseling agar sesuai dengan alur dan prosedur yang telah ditetapkan. Kehadiran konselor sebaya yang tepat juga membantu guru BK dalam mengungkap permasalahan yang dialami peserta didik. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved