Minggu, 24 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Legenda Danau Tiga Warna Gunung Kelimutu

dongeng legenda Danau Tiga Warna menurut masyarakat Pemo, Kalimutu, Ende... pada zaman dulu, di puncak Gunung Kalimutu, hidup Konde Ratu beserta rakya

Tayang:
Penulis: Puspita Dewi | Editor: abduh imanulhaq
Kompas.com
Legenda Danau Tiga Warna Gunung Kelimutu 

Dongeng Legenda Danau Tiga Warna Gunung Kelimutu

TRIBUNJATENG.COM - Berikut legenda Danau Tiga Warna menurut masyarakat Pemo, Kalimutu, Ende.

Danau Tiga Warna terletak di Gunung Kelimutu.

Tepatnya di Desa Pemo, Kecamatan Kalimutu, Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Baca juga: Legenda Situ Bagendit Cerita Rakyat dari Garut Jawa Barat

Baca juga: Cerita Rakyat Dewi Sri Dewi Kesuburan

Baca juga: Dongeng Mancanegara Legenda Asal Usul Selandia Baru

Baca juga: Dongeng Anak Peter Pan dan Wendy di Neverland Cerita Mancanegara Populer

Sesuai namanya, gunung ini mempunyai tiga buah danau kawah dengan warna air yang berbeda-beda.

Gunung Kelimutu mempunyai arti “Gunung Mendidih”.

Arti itu diambil dari kata keli yang artinya gunung dan mutu yang artinya mendidih.

Menurut legenda masyarakat sekitar, danau tersebut merupakan tempat angker.

Danau Kawah

Setiap danau kawah mempunyai nama dan arti masing-masing, lo.

Danau berwarna biru bernama Tiwu Ata Bupu yang berarti danau orangtua.

Danau berwarna merah bernama Tiwu Ata Polo yang berarti danau sihir.

Sedangkan danau berwarna hijau bernama Tiwu Nuwa Muri Kou Fai yang berarti danau muda-mudi.

Legenda Kelimutu

Konon, pada zaman dulu, di puncak Gunung Kelimutu hidup Konde Ratu beserta rakyatnya.

Di antara rakyatnya itu, ada dua orang yang bisa menggunakan sihir.

Mereka adalah, Ata Bupu dan Ata Polo.

Keduanya bersahabat dan tunduk kepada Konde Ratu.

Akan tetapi, mereka punya kebiasaan yang berbeda.

Ata Bupu misalnya, ia adalah orang yang baik dan suka melindungi orang lain, sedangkan Ata Polo, sahabatnya, dianggap penyihir jahat karena suka memakan manusia.

Suatu hari, datang sepasang Ana Kalo (anak yatim piatu) kepada Ata Bupu.

Mereka berdua meminta Ata Bupu untuk melindungi mereka, dikarenakan kedua orangtuanya telah meninggal.

Ata Bupu setuju untuk melindungi mereka berdua, tetapi dengan syarat mereka berdua tidak boleh meninggalkan ladang milik Ata Bupu agar tidak menjadi mangsa Ata Polo.

Suatu hari, Ata Polo datang ke rumah Ata Bupu dan mengetahui keberadaan kedua anak yatim tersebut.

Ata Polo sempat akan memangsa anak yatim itu, namun Ata Bupu berhasil mencegahnya.

Ya, Ata Bupu meminta Ata Polo untuk menunggu hingga kedua anak yatim itu tumbuh dewasa.

Akhirnya… setelah dewasa, anak yatim itu menjadi Koo Fai dan Nuwa Muri.

Lalu, Ata Polo datang untuk menagih janjinya dan memangsa kedua anak yatim itu.

Namun, Ata Bupu tidak menginginkan kedua anak itu menjadi mangsa temannya.

Akhirnya ia mencegah serangan Ata Polo.

Selanjutnya, Ata Bupu pergi ke perut bumi bersama dengan kedua anak yatim itu untuk menghindar.

Namun, Ata Polo terus mengejar mereka. Hingga akhirnya, kedua penyihir itu pun tertelan bumi, begitu juga dengan kedua anak yatim itu, mereka terkubur hidup-hidup.

Tak lama setelah kejadian itu, muncul air berwarna biru dari tempat terkuburnya Ata Bupu.

Sedangkan dari tempat Ata Polo muncul air berwarna merah.

Dan air berwarna hijau, muncul dari tempat terkuburnya kedua anak yatim tersebut.

Nah, itulah cerita di balik keindahan Danau Tiga Warna, berdasarkan legenda masyarakat sekitar.

(Majalah Bobo)

Baca juga: Cerita Rakyat Roro Jonggrang Asal Daerah Istimewa Yogyakarta

Baca juga: Dongeng Kancil dan Buaya di Sungai

Baca juga: Cerita Rakyat Bawang Merah Bawang Putih

Baca juga: Dongeng Mancanegara Goldilocks dan 3 Beruang Cerita Pendek Inggris 

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved