Berita Salatiga
Awalnya Tempat Terapi Penyembuhan Pneumonia, Kini Sasana Schreuder Salatiga Cetak Atlet Berpretasi
Sasana Schreuder menorehkan prestasi membanggakan, usai atlet binaannya Laksamana Pandu Pratama berhasil meraih medali emas.
Penulis: hermawan Endra | Editor: moh anhar
TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Sasana Schreuder menorehkan prestasi membanggakan, usai atlet binaannya Laksamana Pandu Pratama berhasil meraih medali emas cabor Wushu sanda 52 kg putra dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2021.
Mentor Sasana Schreuder, Imam Tauhid, mengatakan pihaknya sangat berbangga dengan pencapaian tersebut. Ia menilai bahwa Pandu adalah pejuang sejati, sebab pencapaian yang diraihkan sekarang merupakan hasll kerja keras yang sangat panjang.
Imam Tauhid masih ingat pertama kali Laksamana Pandu Pratama menginjakkan kaki di Sasana Schreuder. Saat itu usianya masih sekitar 8-10 tahun atau duduk di bangku Sekolah Dasar.
Baca juga: Kabar Gembira Kereta Api Kaligung, KA Joglosemarkerto, dan KA Kamandaka Kembali Beroperasi
Baca juga: PSIS Semarang Akan Maksimalkan Masa Jeda Sebelum Lakoni Seri Kedua Liga 1 2021
Baca juga: Hendi Hadir di PON XX Papua, Atlet Kota Semarang Telah Raih 3 Medali
Kedatangannya ke sasana juga bukan untuk berlatih melainkan hanya pijat sebagai upaya penyembuhan penyakit pneumonia yang diderita.
Selanjutnya pelan-pelan mulai ikut berlatih.
"Awalnya sekadar pijat, dia gak mau lathan, sampai akhirnya mau ikut latihan dan bisa sembuh dari penyakit pneumonia," ujarnya, Senin (4/10).
Latihan yang pertama kali ditekuninya adalah karate.
Bahkan dalam cabang olahraga tersebut Laksamana Pandu Pratama juga berprestasi, mampu menyabet best of the best di pertandingan yang digelar di Jawa Tengah.
Kemudian, berdasarkan pengamatan pelatih, Laksamana Pandu Pratama dipandang lebih menonjol di cabang olahraga Wushu sanda.
Sejak saat itu, ia terus menekuninya sampai dengan saat ini.
Imam Tauhid menambahkan, untuk latihan program altet di Sasana Schreuder menjadwalkan 10 kali pertemuan dalam satu minggu.
Baca juga: Kunjungi Wisma Atlet Jateng Ikut PON di Mimika Papua, Gubernur Ganjar Kaget Nemu Sambal Petai
Baca juga: Gercep Candisari Bagi-bagi 100 Paket Sembako kepada Warga di Tegalsari Semarang
Sedangkan untuk sekali pertemuan memakan waktu dua hingga tiga jam.
Ada empat cabang olahraga di Sasana Schreuder, yakni karate, wushu sanda, tinju dan muaythai.
Dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2021ini, Sasana yang berdiri sejak 12 oktober 2002 ini menyumbang tiga orang atletnya.
Selain, Laksamana Pandu Pratama, ada Erliana dan Tania.
Disinggung soal persiapan Laksamana Pandu Pratama sebelum bertanding di PON Papua, Imam Tauhid menjelaskan, ia menjalani training center (TC) selama tiga tahun dengan bimbingan langsung pelatih kepala sensei Hermansyah M.
"Diisolasi semua program yang ngatur sensie, kurang lebih sudah 3 tahun di TC," ujarnya.
Menurut Imam Tauhid, kunci sukses Laksamana Pandu Pratama mampu meraih medali emas di PON Papua ini adalah sabar dan berani memutuskan pilihan.
"Sabar yang saya maksut adalah hasil ini merupakan penantian latian panjang sejak kecil. Sedangkan berani memutuskan adalah ia harus memilih karate atau wushu, bahkan ia hampir dipinang salah satu kota di Jabar untuk karate, tapi dia putuskan bertahan di wushu sanda," imbuhnya.
Ia berharap, kesuksesan ini tetap membuat Laksamana Pandu Pratama bisa rendah hati.
Selain itu, juga tidak berpuas diri dan terus mengasah kemampuan agar bisa meraih prestasi di level yang lebih tinggi seperti kejuaran bergengsi internasional.
Pencapaian yang diraih Laksamana Pandu Pratama menambah koleksi mendali yang didapat Sasana Schreuder.
Sebelumnya, telah ada prestasi membanggakan lain seperti medali emas di POM 2008 untuk cabor Karate atasnama Puspita. Kemudian tahun 2012 wushu santa juga mendapat emas di PON atasnama Jariati.
"Di level internasional atlet binaan Sasana Schreuder juga pernah mendapat emas di SEA Games Myamar 2013 atas nama saya sendiri, 2011 SEA Games, dan Asian games 2018," imbuhnya.
Sementara itu, Laksamana Pandu Pratama saat dihubungi mengaku sempat mengalami kendala ketika pertandingan.
Makanan yang dikonsumsi tidak cocok di pencernaan sehingga mengakibatkan rasa sakit di perut.
Sedangkan untuk persiapannya, dalam sehari ia menjalani latihan tiga kali. Hari libur hanya diberikan pada Minggu.
Menurutnya kendala terbesar dalam mempersiapkan diri tampil adalah terkadang muncul masalah pribadi yang membuat konsentrasi terganggu saat latihan.
"Mengatasi itu yang cukup berat, karena kalau konsentrasi terganggu bisa membahayakan cidera ketika latihan," katanya.
Baca juga: Penyelundupan Obat Terlarang ke Rutan Purbalingga Terungkap, Kongkalikong dengan Petugas Kesehatan
Baca juga: Hikayat Raden Budog Asal-usul Tanjung Lesung Cerita Rakyat Banten
Baca juga: Menko Airlangga Hartarto Apresiasi Antusiasme Warga Ambon Datangi Sentra Vaksinasi
Laksamana Pandu Pratama mempersembahkan perolehan medali emas di PON Papua ini kepada orang tua, pelatih dan masyarakat Jawa Tengah.
Pria yang akhir tahun ini diwisuda dari jurusan FIK Unnes ini berharap setelah lulus kuliah bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.
"Alhamdulillah dekan FIK Unnes memberikan hadiah saya berupa beasiswa S2. Rencananya akan terus meningkatkan kemampuan agar bisa meraih prestasi di level yang lebih tinggi," pungkasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/mentor-imam-tauhid-saat-berada-di-sasana-schreuder-senin-4102021.jpg)