Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Viral

Deddy Corbuzier pun Ngefans, Berikut Sosok Gus Baha: Ini Perlu Saya Utarakan Biar Kalian Paham!

Direktur Eksekutif Indostrategic, Khoirul Umam, menyebut Gus Baha menempati urutan keempat. Ia menempel ketat kandidat petahana Said Aqil Siradj

Editor: muslimah
jatim.nu.or.id
Gus Baha 

TRIBUNJATENG.COM - Suatu hari, Deddy Corbuzier ditanya Gus Miftah, apa yang dilakukan untuk memperdalam agama Islam.

Ternyata Deddy suka mendengarkan ceramah Gus Baha.

"Gua selalu malem-malem klo uda ga bisa tidur gua dengerin. Nih maaf nih gua lagi seneng dengerin Gus Baha bukan anda maaf," kata Deddy ke Gus Miftah.

"Karena menurut saya seorang kiai kampung, kiai desa berwawasan internasional. Dan gua belajar banyak dari dia tentang kemanusiaan. Dia kiai tapi analoginya keren. Masuk akal. Jadi agama ini dibawa sesuatu yang rileks, enjoy," imbuh Deddy.

Baca juga: Teman Ngeteh di Akhir Pekan, Ini Resep Bolu Marmer Kukus yang Lembut, Mudah Bikinnya Tanpa Mixer

Baca juga: Akun Instagram Pemkot Solo Diretas, Roy Suryo Beri Wejangan

Gus Baha saat ini memang sangat digemari ceramahnya.  Banyak beredar di YouTube, Gus Baha membahas berbagai persoalan kehidupan dengan caranya yang ringan, penuh canda, tapi mengena di hati.

Salah satu kalimatnya yang populer adalah: "Ini perlu saya utarakan biar kalian paham,"

Karena ketenarannya inilah, ulama khatismatik bernama lengkap Ahmad Bahauddin Nursalim terbaru masuk bursa ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Hal itu terungkap lewat survei Indostrategic.

Direktur Eksekutif Indostrategic, Khoirul Umam, menyebut Gus Baha menempati urutan keempat. Ia menempel ketat kandidat petahana Said Aqil Siradj.

"KH Marzuki Mustamar (Ketua PWNU Jawa Timur) dengan dukungan tertinggi sekitar 24,7 persen, disusul KH Hasan Mutawakkil Alallah 22,2 persen, KH Said Aqil Siradj 14,8 persen yang juga incumbent Ketum PBNU saat ini, lalu KH Bahaudin Nursalim atau Gus Baha 12,4 persen," kata Umam seperti dikutip CNN, Kamis (7/10).

Survei itu dilakukan pada 23 Maret- 5 April 2021. Survei melibatkan 1.200 orang responden. Survei ini memiliki ambang batas kesalahan 3 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Umam menyampaikan kemunculan Gus Baha dalam bursa itu menunjukkan keinginan warga NU untuk regenerasi kepemimpinan. Selain itu, Baha juga dinilai sebagai jawaban atas tradisi intelektual pesantren yang luntur beberapa waktu terakhir.

Dia juga berpendapat kemunculan Baha dalam bursa ketua umum PBNU dipengaruhi dinamika media sosial. Ia menilai popularitas Baha di medsos mampu menarik simpati sebagian warga Nahdliyyin.

"Media exposure Gus Baha di berbagai chanel media sosial belakangan ini juga menambah literasi keilmuan sekaligus popularitas nama Gus Baha di kalangan warga Nahdliyyin secara general, khususnya Jawa Tengah, Jogjakarta, dan Jawa Timur," tuturnya.

Profil Gus Baha

Profil Gus Baha atau pemilik nama lengkap KH Ahmad Bahauddin Nursalim.

Nama Gus Baha sering muncul di sosial media amaupun Youtube.

Gus Baha adalah santri kesayangan almarhum ulama kharismatik, Syaikhina KH Maemoen Zubair atau Mbah Moen pengasuh Ponpes Al Anwar Sarang Rembang.

Gus Baha merupakan anak dari almarhumah Hj Yuchanidz Nursalim.

Gus Baha adalah ulama penghafal Al Quran 30 juz.

Ia salah satu ulama Nahdlatul Ulama (NU) yang berasal dari Narukan, Kragan, Rembang, Jawa Tengah (Jateng).

Gus Baha dikenal sebagai salah satu ulama ahli tafsir yang memiliki pengetahuan mendalam tentang Al Quran.

Gus Baha ahli tafsir, dewan ahli tafsir nasional yang berlatar belakang nonformal, dan ahli tafsir yang mondoknya hanya di nusantara

Gus Baha adalah putra seorang ulama ahli Quran, KH Nursalim Al-Hafizh dari Narukan, Kragan, Rembang, Jawa Tengah, sebuah desa di pesisir utara pulau Jawa.

Nursalim adalah murid dari KH Arwani Al-Hafizh Kudus dan KH Abdullah Salam Al-Hafizh Pati.

Dari silsilah keluarga ayah, dari buyut hingga generasi keempat kini merupakan ulama-ulama ahli Quran yang andal.

Sedangkan silsilah keluarga dari garis ibu, Gus Baha merupakan silsilah keluarga besar ulama Lasem, Bani Mbah Abdurrahman Basyaiban atau Mbah Sambu Lasem yang pesareannya ada di area Masjid Jami Lasem, sekitar setengah jam perjalanan dari pusat Kota Rembang.

Pendidikan

Gus Baha kecil mulai menempuh gemblengan keilmuan dan hafalan Al-Quran di bawah asuhan ayahnya sendiri.

Di usia yang masih sangat belia, ia telah mengkhatamkan al-Quran beserta qiraah dengan lisensi yang ketat dari ayahnya.

Memang, karakteristik bacaan dari murid-murid Mbah Arwani menerapkan keketatan dalam tajwid dan makharijul huruf.

Menginjak usia remaja, Kiai Nursalim menitipkan Gus Baha untuk mondok dan berkhidmat kepada Syaikhina KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) di Pondok Pesantren Al Anwar Karangmangu, Sarang, Rembang, sekitar 10 km arah timur Narukan.

Di Al-Anwar inilah Gus Baha terlihat sangat menonjol dalam ilmu syariat seperti fikih, hadits dan tafsir.

Hal ini terbukti dari beberapa amanat prestisius keilmiahan yang diemban oleh ia selama mondok di Al Anwar, seperti Rais Fathul Muin dan Ketua Maarif di jajaran kepengurusan PP Al Anwar.

Dilansir dari Mahad Aly Jakarta, Gus Baha saat mondok mengkhatamkan hafalan Shahih Muslim lengkap dengan matan, rawi dan sanadnya.

Selain Shahih Muslim, Gus Baha juga mengkhatamkan hafalan kitab Fathul Muin dan kitab-kitab gramatika Arab seperti Imrithi dan Alfiah Ibnu Malik.

Menurut sebuah riwayat, dari sekian banyak hafalan, Gus Baha lah santri pertama Al Anwar yang memegang rekor hafalan terbanyak di eranya.

Bahkan tiap-tiap musyawarah yang akan ia ikuti akan serta merta ditolak oleh kawan-kawannya, sebab dianggap tidak berada pada level santri pada umumnya karena kedalaman ilmu, keluasan wawasan dan banyaknya hafalan.

Selain menonjol dengan keilmuannya, Gus Baha juga sosok santri yang dekat dengan kiainya.

Dalam berbagai kesempatan, ia sering mendampingi gurunya Syaikhina Maimoen Zubair untuk berbagai keperluan.

Mulai dari sekadar berbincang santai, hingga urusan mencari tabir, menerima tamu-tamu ulama-ulama besar yang berkunjung ke Al Anwar, dan dijuluki sebagai santri kesayangan Syaikhina Maimoen Zubair.

Selain itu Gus Baha juga kerap dijadikan contoh teladan oleh Syaikhina saat memberikan mawaidzah di berbagai kesempatan tentang profil santri ideal.

Dalam riwayat pendidikan, semenjak kecil hingga mengasuh pesantren warisan ayahnya sekarang, Gus Baha hanya mengenyam pendidikan dari 2 pesantren, yakni pesantren ayahnya sendiri di Desa Narukan dan PP Al Anwar Karangmangu.

Ketika sang ayah menawarkan kepadanya untuk mondok di Rushaifah atau Yaman, Gus Baha lebih memilih untuk tetap di Indonesia.

Ia berkhidmat kepada almamater, Madrasah Ghozaliyah Syafiiyyah PP Al Anwar dan pesantrennya sendiri LP3IA.

Kepribadian

Setelah menyelesaikan pengembaraan ilmiahnya di Sarang, Gus Baha menikah dengan seorang Neng pilihan pamannya dari keluarga Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur.

Kehidupan Gus Baha sangat sederhana.

Hingga kini, bahkan setelah terkenal, Gus Baha masih sering naik bus saat bepergian.

Setelah menikah, Gus Baha mencoba hidup mandiri dengan keluarga barunya dan menetap di Yogyakarta sejak 2003.

Selama di Yogya, Ia menyewa rumah untuk ditempati keluarga kecilnya, berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain.

Semenjak hijrah ke Yogyakarta, banyak santri-santrinya di Karangmangu, Rembang yang merasa kehilangan induknya.

Hingga pada akhirnya mereka menyusul ke Yogya, patungan menyewa rumah di dekat rumah Gus Baha.

Tiada tujuan lain selain untuk tetap bisa mengaji kepadanya.

Ada sekitar 5 atau 7 santri alumni Al Anwar maupun MGS yang ikut ke Yogya saat itu.

Ada dua santri Gus Baha yang sangat terkenal yakni Masrukhin dan Musthofa, yang sering disebut-sebut dalam ceramahnya di Youtube.

Di Yogya inilah kemudian banyak masyarakat sekitar yang akhirnya minta ikut mengaji kepada Gus Baha.

Pada tahun 2005 KH Nursalim jatuh sakit.

Gus Baha pulang sementara waktu untuk ikut merawat sang ayah bersama keempat saudaranya.

Beberapa bulan kemudian Kiai Nursalim wafat.

Gus Baha tidak dapat lagi meneruskan perjuangannya di Yogya sebab diamanati oleh ayahnya untuk melanjutkan tongkat estafet kepengasuhan di LP3IA Narukan.

Banyak yang merasa kehilangan atas kepulangan Gus Baha ke Narukan.

Para santri sowan dan meminta kembali ke Yogya.

Gus Baha pun bersedia namun hanya satu bulan sekali, dan itu berjalan hingga kini.

Selain mengasuh pengajian, Gus Baha juga aktif di Lembaga Tafsir Al-Quran Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

Gus Baha juga diminta untuk mengasuh pengajian tafsir al-Quran di Bojonegoro, Jawa Timur.

Di Yogya mendapat giliran minggu terakhir, sedangkan di Bojonegoro minggu kedua setiap bulannya.

Hal tersebut dijalani secara rutin sejak 2006 hingga kini.

Gus Baha adalah Ketua Tim Lajnah Mushaf UII.

Timnya terdiri dari para profesor, doktor, dan ahli-ahli al-Quran seantero Indonesia seperti Prof Dr Quraisy Syihab, Prof Zaini Dahlan, Prof Shohib dan para anggota Dewan Tafsir Nasional lain.

Ketika ditawari gelar Doctor Honoris Causa dari UII, Gus Baha tidak berkenan.

Dalam jagat Tafsir al-Quran di Indonesia, Gus Baha termasuk pendatang baru dan satu-satunya dari jajaran Dewan Tafsir Nasional yang berlatar belakang pendidikan nonformal dan nongelar.

Meski demikian, kealiman dan penguasaan keilmuan Gus Baha sangat diakui oleh para ahli tafsir nasional.

Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved