3 Bacaan Dongeng Anak Sebelum Tidur tentang Ibu Peri
Berikut tiga dongeng yang cocok dibacakan untuk anak sebelum tidur tentang ibu peri.
Penulis: non | Editor: abduh imanulhaq
3 Bacaan Dongeng Anak Sebelum Tidur tentang Ibu Peri
TRIBUNJATENG.COM - Berikut tiga dongeng yang cocok dibacakan untuk anak sebelum tidur tentang ibu peri.
Pada kumpulan dongeng ini terdapat kumpulan cerita tentang berbagai per dalam Bahasa Indonesia untuk anak.
Dongeng-dongeng ini juga mengandung pesan moral bagi anak sehingga cocok dibaca sebelum tidur.
Pertama ada adalah cerita dongeng Mengapa Burung Beo Selalu Menirukan Suara.
Kedua adalah cerita tentang peri kecil Tinkerbell dari Pixie Hollow.
Terakhir ada cerita dari Morita yang bertemu dengan peri bunga.
Selamat membaca dongeng-dongeng tersebut!
1. Dongeng Mengapa Burung Beo Selalu Menirukan Suara
Dongeng Mengapa Burung Beo Selalu Menirukan Suara
Dahulu kala, hewan-hewan di hutan bisa berbicara seperti manusia.
Mereka bercakap, bekerja sambil bercakap, juga hidup rukun dan damai.
Pada suatu hari Ibu Peri Penjaga Hutan mengumpulkan penghuni rimba.
Ia berkata, "Anak-anakku, Sang Pencipta telah menciptakan makhluk baru.
Namanya manusia.
Sang Pencipta memutuskan bahwa manusialah yang akan berbicara dengan bahasa kita.
Dan kita diperintahkan untuk mencari bahasa dan suara baru untuk kita pakai mulai saat ini."
Pada mulanya para penghuni rimba terkejut.
Namun mereka sadar bahwa tidak mungkin menolak kehendak Sang Pencipta.
"Ibu Peri Penjaga Hutan, kami tunduk kepada kehendak Sang Pencipta.
Namun sekarang kami belum bisa mencari bahasa baru untuk kami pakai.
Berilah kami waktu," ujar Singa mewakili teman-temannya.
"Aku mengerti. Kalian diberi waktu satu minggu.
Kalian akan berkumpul lagi di sini dan memberitahu padaku bahasa apa yang kalian pilih.
Setelah itu, pakailah bahasa serta suara itu, dan lupakan bahasa manusia."
Maka pulanglah penduduk hutan ke tempat masing-masing.
Mereka mulai berpikir keras untuk mencari suara yang gagah dan cocok untuk mereka masing-masing.
Begitulah, hari demi hari penduduk hutan sibuk bersuara.
Mencari-cari suara yang akan mereka pakai selanjutnya.
Singa yang telah dinobatkan sebagai raja hutan karena keberaniannya, lebih dahulu memilih suara mengaum.
"Aouuuuum," katanya dengan gagah memamerkan suaranya.
Penduduk hutan yang lain senang mendengarnya.
Mereka merasa suara itu pas benar dengan bentuk tubuh singa yang gagah.
Akan tapi tidak semua hewan senang mendengarnya.
Burung Beo yang usil malah menertawakan suara itu.
"Hahaha, mirip orang sakit gigi," cetus Beo sambil tertawa terbahak-bahak.
Singa sangat malu mendengarnya.
Begitulah, hari berganti hari, semuanya mencoba berbagai suara kecuali Beo.
Ia sibuk mengejek suara-suara yang berhasil ditemukan.
"Hahaha, seperti suara pintu yang tidak diminyaki," ejek Beo kepada Jangkrik yang menemukan suara berderik.
"Hahaha, kudengar neneknenek tertawa," ejeknya kepada Kuda.
"Ban siapa yang bocor? Hahaha," ia menertawakan suara desis Ular.
Begitulah pekerjaan Beo setiap hari.
Ia sibuk mengintip dan menertawakan penduduk hutan lainnya yang mencoba suara bam.
Teman-temannya tidak dapat berbuat apa-apa.
Mereka malu dan langsung menghindar dari Beo.
Akan tetapi Beo selalu berhasil menemukan dan menirukan suara mereka.
"Mbeeeek," tirunya ketika melihat Kambing.
"Ngok-ngooook," tirunya ketika melihat Babi.
Tak terasa sudah satu minggu.
Penduduk hutan harus berkumpul kembali untuk mengumumkan suara yang mereka pilih.
Ibu Peri Penjaga Hutan memanggil mereka satu per satu.
Beo saja yang masih saja tertawa.
Ia pikir teman-temannya bodoh, karena suara yang mereka temukan lucu-lucu.
Tibalah giliran Beo untuk mengumumkan suara barunya.
Ia maju ke depan.
"Mbeeeek," jeritnya.
"Hei itu suaraku," kata Kambing.
Yang lain tertawa.
Beo tertegun. Ia baru sadar, selama ini ia terlalu sibuk mengejek teman-temannya sehingga lupa untuk mencari suaranya sendiri.
"Muuu,...guk-guk,...meong," Beo panik.
Ia menirukan saja suara yang pernah ia dengar.
Tentu saja Sapi, Anjing, dan Kucing tertawa terbahak-bahak.
Beo sangat malu. Akhirnya ia menangis tersedu-sedu.
Ia minta maaf kepada teman-temannya.
Dengan tersenyum Ibu Peri Penjaga Hutan berkata, "Sudahlah, kamu akan tetap kuhadiahkan sebuah suara.
Tapi sebagai pelajaran, kau akan tetap menirukan suara orang, sehingga kau akan ditertawakan selamanya."
Begitulah riwayatnya, mengapa burung beo selalu menirukan suara-suara.
(Cerita oleh: Muwardi Santoso/Dok. Majalah Bobo)
2. Tinkerbell Peri dari Pixie Hollow
Inilah dongeng populer tentang peri kecil riang Tinkerbell yang gemar bermain.
Pada suatu hari yang istimewa di Pixie Hollow.
Semua peri berkumpul. Dengan taburan debu ajaib, peri baru lahir.
Namanya Tinkerbell.
Ratu Clarion menyambut peri terbaru dan berkata, “Lahir dari tawa, berpakaian gembira, kebahagiaan telah membawamu ke sini.”
Para peri berusaha membantu Tinkerbell menemukan bakatnya.
Mereka memberinya bunga, air, dan cahaya, tetapi semua yang disentuh Tink meredup dan menghilang.
Kemudian, Tinkerbell melewati sebuah palu.
Ternyata palu itu mulai bersinar, bahkan terbang langsung ke arahnya.
Saat itulah dia sadar bahwa dia telah menemukan bakatnya.
Dia adalah peri yang suka bermain-main.
Para peri datang berkerumun untuk menyambut Tinkerbell.
Tink senang bertemu dengan mereka. Namun dia juga agak sedih.
Tinkers tidak terlihat mewah seperti peri lainnya.
Teman-teman baru Tink, Clank dan Bobble, mengajaknya berkeliling di Pixie Hollow.
Dia melihat semua peri bersiap-siap untuk musim semi.
“Ini adalah perubahan musim,” jelas Bobble.
Ada banyak hal yang terjadi di Tinker’s Nook.
Tinkerbell senang melihat semua hal baik yang dibuat pada peri.
Peri Mary kepala peri pekerja.
Dia menyuruh Clank dan Bobble untuk mengirimkan kreasi mereka ke seluruh peri dengan cepat.
Mereka akan membutuhkan barang-barang di daratan.
“Daratan kedengarannya menarik!” teriak Tink.
Peri yang bermain-main menunjukkan pada ratu apa yang telah mereka buat.
Salah satu kreasi Tinkerbell masih belum sempurna.
Tink akan memperbaikinya tepat waktu untuk membawanya ke daratan.
Sang ratu mengatakan kepada Tink bahwa para peri yang bermain-main tidak pergi ke daratan.
“Karyamu ada di sini di Pixie Hollow,” kata Queen Clarion.
Tinkerbell kecewa dengan kenyataan itu.
Peri Mary mengatakan kepadanya bahwa dia harus bangga dengan siapa dia.
Tapi Tinkerbell tidak bisa menerima ucapan itu.
Dia ingin menjadi peri taman seperti peri lainnya.
Dia meminta bantuan teman-temannya.
Pada awalnya, Silvermist mencoba mengajar Tink bagaimana menjadi peri air.
Tapi Tink tidak pandai menggunakan air.
Kemudian, Iridessa mencoba mengajar Tink bagaimana menjadi peri cahaya, tetapi Tink tidak pandai menggunakan cahaya.
Fawn mencoba menunjukkan kepada Tink bagaimana menjadi peri binatang, tetapi Tink juga tidak pandai menggunakan hewan.
Tink melihat seekor burung besar terbang di langit.
“Mungkin pria itu bisa membantu!” pikir Tink.
Burung itu menukik ke arah Tink.
“Elang!” teriak para peri saat mereka berlari mencari perlindungan.
Tink melompat ke dalam lubang untuk bersembunyi.
Lubang itu adalah tempat persembunyian Vidia.
Sekarang, elang juga mengejar Vidia.
Para peri lainnya menyerang elang dengan buah beri.
Vidia aman tetapi dia marah.
Tink mencoba membantunya membersihkan tetapi dia tidak menginginkan bantuan Tink.
Tink merasa tidak enak.
Dia tidak bisa menahan tetesan air, dia tidak bisa menahan sinar cahaya, dan bayi burung takut padanya.
“Aku tidak berguna,” katanya. Tink terbang ke pantai.
Dia ingin sendirian. Di sana dia melihat kotak musik yang rusak.
Tink dengan cepat mulai bekerja.
Teman-temannya memperhatikan.
“Kamu memperbaikinya!” Silvermist menangis.
Mereka semua kagum dengan bakatnya yang mengotak-atik.
Tinkerbell senang bermain-main.
Tapi dia masih ingin pergi ke daratan.
Pada harapan terakhirnya, Tink pergi ke Vidia untuk meminta bantuan.
Tapi, Vidia masih marah padanya.
Vidia mendapat ide jahat.
Dia mengatakan Tink harus menangkap Sprinting Thistles untuk membuktikan bahwa dia adalah peri taman.
Itu pekerjaan yang berbahaya. Tapi Tink harus mencoba.
Itu adalah kesempatan terakhirnya.
Dia membuat kandang dan laso untuk menangkap Thistles.
“Berhasil!” teriak Tink.
Thistles berhasil dimasukan ke dalam kandang.
Tapi kemudian, Vidia menghembuskan angin yang kencang.
Gerbang kandang terbuka.
Para Thistles berlari berhamburan keluar.
Tinkerbell kehilangan kendali atas mereka.
Para Thistles berlari ke sana kemari melewati Springtime Square.
Mereka menghancurkan semua persediaan musim semi.
Semua orang kesal.
Musim semi harus dibatalkan.
Itu semua kesalahan Tinkerbell.
Tinkerbell pun terbang karena malu.
Tinkerbell memutuskan untuk meninggalkan Pixie Hollow untuk selamanya.
Saat akan meninggal kan Pixie Hollow, dia berhenti untuk terakhir kalinya di bengkel tinker.
Saat dia melihat sekeliling, dia mendapat ide.
Dia tahu bagaimana cara menyelamatkan musim semi!
Di Springtime Square, Vidia dihukum karena membantu Thistles melarikan diri.
Dan semua orang sedih bahwa musim semi tidak akan datang.
“Tunggu! Saya tahu bagaimana kita bisa memperbaiki semuanya! Tapi saya tidak bisa melakukannya sendiri! ” ucap Tinkerbell.
Para peri sangat ingin membantu.
Tink menunjukkan kepada semua orang apa yang harus dilakukan.
Dalam sekejap mata, kreasi Tink mengisi ember dengan cat dan biji beri.
Segera, semuanya sudah siap untuk musim semi!
“Kamu berhasil! Kamu menyelamatkan musim semi! ” seru Ratu Clarion.
“Kita semua melakukannya,” kata Tinkerbell.
Peri Mary memberi tahu Tink bahwa dia juga bisa pergi ke daratan.
Kotak musik yang diperbaiki Tink adalah milik seorang gadis kecil yang istimewa.
Dan hanya Tinkerbell yang bisa mengirimkannya kepadanya.
Tinkerbell senang. Tinkerings nya telah menyelamatkan musim semi.
Dia peri yang suka mengotak-atik dan bangga akan hal itu! (*)
3. Morita dan Peri Bunga
Morita dan Peri Bunga
Morita memandangi peri-peri bunga yang beter bangan di depan jendelanya.
Mereka terbang sambil bercanda dan tertawa-tawa gembira. Morita jadi iri.
“Seandainya aku bisa terbang, pasti menyenangkan!
Aku bisa memetik mangga di rumah Bibi Nella, duduk-duduk di atas jam menara di tengah kota,
bahkan bisa terbang ke awan. Pasti seru sekali!” gumam Morita.
Wuiiing! Seorang peri bunga melintas di depan mata Morita sambil menghamburkan wangi melati.
Morita kaget! Hihi... Peri Melati tertawa cekikikan.
“Peri Melati, ajari terbang, dong!” pinta Morita.
Peri Melati cuma tertawa. “Kenapa aku harus mengajarimu?” katanya.
“Kalau mau, kamu pasti bisa sendiri!” Peri Melati pun terbang menjauh, bergabung dengan temantemannya.
Morita bingung. “Masak sih, aku bisa terbang sendiri?” tanyanya.
Morita ingat, beberapa waktu yang lalu, dia mencoba terbang dari loteng.
Hasilnya? Morita jatuh bedebum dengan suksesnya.
Untung jatuhnya di atas tumpukan jerami. Kalau tidak, mungkin dia sudah gegar otak.
Kali ini Morita memanggil Peri Alamanda yang asyik membersihkan bunga alamanda.
“Ssst, Peri Alamanda, apa sih rahasianya biar bisa terbang?”
Peri Alamanda memamerkan giginya yang kecil-kecil dan rapi.
“Ah, itu kan rahasia,” kata Peri Alamanda sambil mengedipkan sebelah matanya.
Uuugh, Morita geregetan. “Kenapa sih, para peri bunga enggak mau mengajariku terbang?” katanya kesal.
Diam-diam Morita punya rencana untuk menjahili para peri itu.
Pyuuur! Morita menaburkan bubuk bersin di antara bunga-bunga di depan jendelanya.
“Hatsyiii!” Peri Melati bersin dengan keras.
“Hatsyiiiiii!!!” Peri Mawar menyusul dengan bersinnya yang lebih kuat. Hihi, Morita cekikikan sendiri.
Tiba-tiba, Peri Melati, Peri Mawar, dan Peri Anggrek sudah melayanglayang di hadapan Morita. Morita terkejut.
“Oh, tamatlah riwayatku! Mereka pasti marah padaku!” piker Morita. Morita Memejamkan matanya ketakutan.
“Hihihi... Morita, kamu lucu sekali!” Morita membuka matanya.
Ketiga peri yang ada di depannya sedang tertawa terkikik-kikik.
“Lucu bagaimana?” tanya Morita bingung.
“Kamu membuat kami bersin-bersin, hihihi,” Peri Mawar kembali tertawa.
“Ah, peri-peri yang aneh,” gumam Morita. Kalau dia yang dikerjain teman-temannya, pasti marah-marah.
Tapi, peri-peri bunga itu malah tertawa-tawa.
Kali ini, Morita punya rencana keisengan lain.
“Ssst, sini!” panggil Morita. Lima peri kecil terbang mendekat dengan semangat.
Tiba-tiba mereka menjerit bersama-sama. Aduuuh, ternyata Morita iseng sekali melempari mereka dengan kumbang karet raksasa.
“Morita! Kami kan takut kumbang!” protes Peri Mawar. Morita menjulurkan lidahnya.
“Hihihi, sekarang mereka pasti marah,” pikir Morita ketika melihat muka Peri Mawar yang mulai memerah.
Tapi, tiba-tiba Peri Melati mengangkat kumbang mainan itu dan melemparkannya ke arah teman-temannya.
Mereka langsung menyingkir sambil tertawa. Loh, kumbang mainan itu malah jadi mainan.
“Kok kalian enggak marah, sih?” tanya Morita kesal.
Hihihi... Peri-peri bunga itu cuma tertawa.
“Kamu kesal, Morita?” tanya Peri Mawar. “Pantas saja kamu enggak pernah bisa terbang!”
“Maksudmu?” tanya Morita heran.
“Dengar ya, Morita. Kalau kamu kesal, hatimu akan terasa berat.
Jadi, badanmu juga akan terlalu berat untuk terbang,” jelas Peri Mawar.
Morita masih tidak mengerti. “Gimana, sih?” tanyanya penasaran.
“Kalau kamu ingin terbang, hatimu harus gembira. Makanya, kami selalu bergembira, bahkan ketika mengalami kesulitan sekalipun.”
“Ah, tidak masuk akal! Pasti kalian membohongiku!” seru Morita.
Morita kesal. Daripada pusing dengan peri-peri bunga itu, lebih baik tidur.
“Moritaaa!” panggil Nenek Rumi. Morita mengucek kedua matanya.
“Astaga! Aku punya janji dengan Nenek Rumi!” jerit Morita.
Ya, hari ini Nenek Rumi akan mengajari Morita merajut tas jaring-jaring yang indah.
“Kamu hebat, Morita! Kamu cepat belajar!” puji Nenek Rumi ketika Morita hampir selesai merajut tas kecilnya.
Sebenarnya rajutannya banyak yang salah, tapi Morita senang dipuji Nenek Rumi.
Dan ketika tas kecil Morita sudah benar-benar selesai, Nenek Rumi punya kejutan untuknya.
Sekantung permen cokelat kesukaan Morita!
“Masukkan ke dalam tas barumu dan bawalah pulang.”
“Wah, Nenek baik sekali!” seru Morita semakin gembira.
“Aku akan membaginya dengan adikku. Terima kasih, Nek!” Morita segera berlari gembira menuju rumahnya.
Buuuk! Tiba-tiba kaki Morita terantuk batu. Darah mengalir dari lututnya.
Hampir saja Morita mengumpat. Tapi, ketika ingat permen cokelat di tasnya, Morita segera bangkit dan ingin segera sampai di rumah.
Morita kembali berlari dengan gembira.
Saking gembiranya, tanpa terasa kaki Morita terasa melayang-layang.
Morita membelalakkan kedua matanya. Ajaib! Tubuhnya jadi ringan melayanglayang di udara.
Semakin Morita bergembira, semakin tinggi terbangnya.
“Astaga, peri bunga tidak bohong! Kalau kau gembira, aku bisa terbang!
Oh, ini benar-benar ajaib! Cihuy! Kini aku bisa terbang!” teriak Morita gembira.
(Cerita oleh: Veronica Widyastuti. Ilustrasi: Dok. Majalah Bobo)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/tinkerbell.jpg)